Sejarah Papua Nugini dan Papua Barat



www.dihaimoma.com
Papua merupakan pulau terbesar kedua di dunia, setelah Greenland di Denmark dan Pulau terbesar pertama di Indonesia (kalau digabung dengan PNG). Para pelaut pada masa awal menyebut pulau ini dengan sebutan "Nueva Guine" yang kemudian dalam bahasan Inggirs disebut "New Guinea". Dari penyebutan ini yang kemudian dalam bahasa Indonesia biasanya dilafalkan"Nugini/ Papua Nugini". Nama ini bertahan sekitar dua abad lamanya.
Setelah penjajah Belanda, Inggris dan Jerman memasuki pulau ini, mereka membagi pulau Nuguni menjadi tiga bagian. Penamaan pun disesuaikan dengan kekuasaan mereka atas ketiga wilayah tersebut. Bagian barat "West New Guinea" dikuasai Belanda sehingga dikenal dengan Netherland New Guinea. Selain nama ini, Belanda juga pernah menggunakan nama Dutch New Guinea.

Bagian Timur atau East New Guinea dikuasai Inggris dan mengunakan nama Nugini Britania yang kelak akan menjadi Papua New Guinea (PNG). Sedangkan bagian utara dikuasai Jerman yang dikenal dengan "Deutsch-Neuguinea" atau "Nugini Jerman". Nugini yang dikuasai Jerman telah berada di bawah kekuasaan militer Australia di awal Perang Dunia I [1]

Jadi, untuk saat ini kalau kita sebut "Papua Nuguni" maka mengacu pada Papua New Guinea (PNG) mencakup wilayah jajahan Jerman yang sudah menjadi bagian dari PNG. Kalau "Papua Barat (West Papua)" mengacu pada Netherland New Guinea yang saat ini menjadi bagian dari Indonesia.

Luas keseluruhan Pulau Papua adalah 890.000 Km².(termasuk wilayah PNG). Luas Pulau Papua bagian Indonesia adalah 421.981 Km². Bagian PNG adalah 462.840 Km² dan turut menempatkan Papua Nuguni menjadi negara terluas ke-54 di dunia.

Itu artinya, pulau Papua bagian Barat tanpa memasukkan Papua New Guinea saja mencapai 4 kali luas Pulau Jawa. Kalau dengan Papua New Guinea hampir mencapai 8 kali luas pulau Jawa. Jadi, kalau anda orang luar Papua dan menanyakan suatu kejadian di Papua harus memahami kodisi masalahnya. Mengapa? Karena Papua itu sangat luas. Di Jawa yang aksesnya sudah terhubung dengan luas seperti itu saja, anda belum tentu mengetahui kejadian di kabupaten tetangga anda.
"Perlu di ketahui saat ini pulau Papua bagian Indonesia terbagi atas 2 Provinsi. Provinsi Papua dan Papua Barat. Ketiba sobat berkata Papua Barat harus mengerti konteks pembicaraannya. Nama ini dapat mengacu pada wilayah Barat Pulau Nugini atau provinsi Papua Barat.

Dalam hal nama Papua. Ada beberapa masyarakat Indonesia yang kurang memahami antara Papua dan Irian/Irian Jaya. Padahal nama Papua digunakan lebih awal daripada Irian. Nama Irian sendiri di usulkan Frans Kaisiepo dalam Konfrensi Malino tahun 1946. Nama ini diserap dari bahasa Biak yang artinya "sinar matahari yang menghalau kabut di laut sehingga ada harapan bagi para nelayan Biak untuk mencapai tanah daratan Irian di seberangnya.[2]

Catatan: Arti nama ini ada banyak versi yang turut menyisakan kontradiksi. Ada yang mengatakan "tanah yang panas". Ada juga yang berpendapat "tanah beruap atau semangat untuk bangkit"

Nama Irian ini pun terkadang masih salah dipahami oleh beberapa masyarakat Indonesia. Pelafalan dan penulisan yang benar adalah Iryan bukan Irian. Tetapi, waktu itu Soekarno mempromosikan nama IRIAN karena sesuai dengan akronim "Ikut Republik Indonesia Anti Nederland"yang tentunya seiring dengan semangat merebut "Netherland New Guinea" dari kekuasaan Belanda[3]. Pada masa itu, Soekarno menggunakan nama Irian Barat. Setelah merebut pulau ini dari Belanda, pada tanggal 1 Maret 1973 nama Irian Barat resmi diganti menjadi Irian Jaya.

Dari proses itulah, cikal bakal lahirnya nama Irian, Irian Barat, atau Irian Jaya. Namun, pada tahun 2001, presiden Abdurrahman Wahid menghapus nama Irian Jaya dan mengembalikan nama Pulau itu kenama aslinya, Papua. Sedangkan untuk Papua bagian Timur yang dikuasai Inggris, sampai saat ini masih menggunakan nama Papua New Guinea dan sudah menjadi negara yang berdaulat.

Jadi, antara Papua dan Irian Jaya merujuk pada satu daerah yang sama. Cuma, saat ini yang telah diakui oleh orang Papua dan pemerintah Indonesia adalah "Papua" bukan Irian/Irian Jaya. Tentang asal usul nama Papua akan dibahas lebih lanjut pada arikel ini.

1. Proses Geologi Terbentuknya Pulau Nugini [Papua]


Mayoritas wilayah Pulau Nugini didominasi oleh gunung-gunng. Pulau ini secara tektonik merupakan pecahan dari lempeng Australia bagian utara. Secara geografis, pulau ini memang terpisah dari Australia, namun sebenarnya Laut Arafura yang memisahkan kedua wilyah ini tidak terlalu dalam. Artinya, kurang dari 15 m dan  laut ini tidak ada selama 20.000 tahun lalu.

Pada awalnya pulau New Guinea merupakan lempeng Australia (lempeng Sahul) yang berada di bawah dasar lautan Pasifik. Tetapi, akibat adanya tumbukan lempeng (tektonik lempeng) antara lempeng benua Australia (Lempeng Sahul) dan lempeng Samudera Pasifik mengakibatkan terangkatnya lempeng Australia menjadi sebuah pulau dibagian Utara Australia. Lempeng ini terus bergerak lambat ke utara dan pegunungan di pesisir bagian utara diperkirakan masih terus bertambah tinggi.[4]

Itulah sebabanya pulau ini menghasilkan material-material yang berada dari dalam mantel terekspos dan menghasilkan banyak sumber daya alam, berupa bahan tambang seperti emas, tembaga uranium dan  lain sebagainya yang tentunya masih tersimpan rapi dalam perut pulau ini.

Hamilton (1979) yang juga merupakan geologiwan modern melihat formasi pulau ini sebagai hasil tumbukan dengan sistem busur tunggal yang terbentuk di atas zona subduksi yang tenggelam ke arah utara, yaitu di bagian utara Nugini selama Periode Kreta dan Tersier Awal. Hipotesisnya adalah sistem busur ini telah bertumbukan dengan Nugini pada Kala Miosen.[5] (Pengertian:Miosen).

Dalam proses tumbukan itu perlu dipahami bahwa tumbukan berskala luas antara Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik di Nugini bukan beradu muka, tetapi menyamping, terjadi secara berentetan dari barat ke timur. Karena itu, episode tumbukan busur di Papua Barat umumnya terjadi puluhan juta tahun lebih awal daripada yang terjadi di PNG [6]

Akibat dari pulau Nuguni merupakan pecahan lempeng Australia. Kedua pulau ini banyak ditemukan flora, fauna, dan jenis batuan yang mirip. Tapi, dari segi lingkungan ada perbedaan penting di antara ke dua wilayah ini: Australia beriklim kering dan sedang. Sedangkan Nugini beriklim tropis dan selalu lembab.

Pulau ini menjadi kawasan yang secara tektonik paling rumit dan dinamis di bumi. Bagaimanapun juga, memerkirakan bentuk masa depannya sama sulitnya dengan menafsirkan masa lalunya. Seperti dinyatakan oleh Hall (2002), “Sangat sulit untuk meramalkan kemungkinan bentuk kawasan ini dalam beberapa juta tahun nanti. Logika sederhana mengindikasikan bahwa Lempeng Australia akan terus bergerak ke arah utara dan Lempeng Pasifik akan terus bergerak ke arah barat, menuju Lempeng Erasia.[7]. Sejauh ini yang telah diketahui, gerakan Lempeng Pasifik ke arah barat dengan laju sekitar 7 cm per tahun [8]

Pulau yang awalnya merupakan lempeng Australia dan bagian dari dasar laut Pasifik ini masih menyimpan segudang misteri yang belum terpecahkan. Itu artinya, masih dibutuhkan kajian-kajian yang lebih mendalam dan akurat untuk mengungkap misteri dari pulau yang menyandang beragam nama ini.

2. Kehidupan Awal, Kontak dengan Bangsa Asing, dan Penamaan Pulau Nugini


Pulau Nugini telah dihuni manusia sejak akhir Periode Kuarter (Pengertian:Kuarter). Uniknya, kehidupan manusia awal di Pulau Nugini lebih tua daripada pembentukan pulaunya. Dari segi geologi, pulau Nugini memang termasuk muda. Tetapi, ternyata masyarakatnya termasuk keturunan purba. Hal ini membuktikan bahwa pulau ini dihuni  paling sedikit selama 40.000 tahun.[9]

Sistem pertanian mandiri yang dikembangkan didaerah dataran tinggi Pulau Nugini diperkirakan dimulai sekitar 7.000 SM. Hal inilah yang membuatnya menjadi "salah satu dari sedikit daerah domestikasi tanaman asli di dunia. 
www.dihaimoma.com
Peta kuno  mencakup Nusantara oleh Hartman Schedel, 1493 [Image:Source]

Bukan hanya tertua, tetapi manusia Papua,(Melanesia) sudah mengenal sistem pertanian modern yang dikelola dengan teknologi bernilai efisien dan mengahasilkan pangan yang bernilai gizi tinggi sejak zaman dahulu kala. Harold Ross yang meneliti sistem perkebunan orang Baegu di Kepulauan Solomon: Menyimpulkan bahwa umbi-ubian punya potensi gizi dan ekonomis yang lebih besar ketimbang yang dapat kita pahami dengan latar belakang kita yang lebih condong ke padi-padian [10]

Catatan: Hal lain yang membuat pulau Nugini unik adalah jumlah bahasanya. Pulau ini menjadi satu-satunya daerah di dunia yang memiliki bahasa terbanyak. Di Papua bagian Barat memiliki sekitar 250 bahasa dan ada 800 bahasa di PNG.

Ahli botani Belanda, Chris Versteegh yang mengunjungi Jiwika tahun 1961 juga mengakui bahwa perkebunan ubijar orang Dani itu jauh lebih maju dari pada yang telah dilakukan Pemerintah Belanda di pusat penelitian pertanian Manokwari waktu itu [11]. Artinya, Orang Papua sudah mengenal sistem perkebunan yang mirip seperti surjan di Pulau Jawa itu sebelum 2000 tahun lalu. Perkebunan keladi bentul alias bete, berasal dari tahun 4000 SM. Perkebunan ubi-ubian di Pegunungan Tengah itu, berkembang seiring dengan penjinakan babi, yang telah dibawa masuk ke pulau Papua Barat sesudah 7000  SM [12]

Poin ini membuktikan bahwa pernyataan orang Papua bahwa manusia Papua adalah pemilik tanah Papua adalah kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan. Mereka sudah ada di atas tanah ini dan bahkan sebelum tanah ini terbentuk yang artinya mereka lebih awal berada di sini jauh sebelum dua gelombang nenek moyang orang Melayu tiba di Nusantara. 


 a.   Kontak dengan bangsa Asia


Orang Barat hanya sedikit mengetahui pulau ini hingga abad ke-19, meskipun para saudagar dari Asia Tenggara telah mengunjungi Pulau Nugini sejak 5.000 tahun lalu untuk mengoleksi bulu burung Cenderawasih.

Pada tahun 500 M  bangsa China  memberi nama Pulau ini dengan "Tungki". Penamaan ini berawal dari penemuan sebuah catatan harian seorang Tiangkok, Ghau Yu Kuan yang menyebut asal rempah-rempah yang mereka peroleh berasal dari Tungki. Penyebutan itu merujuk pada pulau Papua yang digunakan pedagang China. Pada akhir tahun 600 M, Kerajaan Sriwijaya menyebut pulau ini dengan nama "Jangki".

Kedatangan dan keberadaan bangsa China itu, dapat dibuktikan dengan adanya beberapa keturunan China di seluruh Tanah Papua seperti China Sorong,China Manokwari, China Fakfak, China Serui dan lain-lain. Selain itu, terdapat pula beberapa peninggalan China seperti Guci dan piring batu yang hingga kini dipergunakan sebagai  alat Maskawin. [13] 

Memasuki  awal tahun 700 M para pedagang Persia, Gujarat dan India mulai berdatangan ke Papua untuk mencari rempah-rempah di wilayah ini setelah melihat kesuksesan pedangang asal China. Mereka menyebut pulau ini dengan nama "Dwi Panta" dan juga "Samudranta" yang berarti ujung Samudra dan ujung Lautan.

Pada tahun 1300, Kerajaan Majapahit menyebut wilayah ini dengan Wanin dan Sram. Tapi, penamaan ini masih belum jelas. Apakah mengacu pada satu pulau Papua ataukah hanya mengacu pada semenanjung Onin di Fak-Fak dan Sram yang merupakan pulau Seram di Maluku. Baru memasuki tahun 1646, kerajaan Tidore menyebut Pulau ini dengan "Papa-Ua" yang artinya tidak bergabung/bersatu. Dalam bahasa Melayu bisa juga berartinya keriting. 

b.  Kontak dengan Bangsa Eropa


Jauh sebelum Bangsa Asia dan Eropa mengenal tempat ini, sekitar tahun 200 M, ahli Geography yang bernama Claudius Ptolemaeus (Baca tentang: Klaudius Ptolemaeus) berwarga negara Roma menyebut pulau Papua dengan nama "Labadios".

Setelah memasuki abad ke 15 Bangsa Eropa mulai menjelajahi dunia untuk mencari jalur perdagangan dan juga produk untuk diperdagangkan. Era penjelajahan ini berlangsung dari tahun 1500-an hingga awal 1800-an. Era ini diikuti oleh perdagangan secara teratur (tripang, kulit burung cenderawasih, tempurung kura-kura, kulit massoi, dll.), yang kemudian diikuti oleh kolonisasi (dipicu oleh perdagangan), dan kegiatan misionaris. Proses ini dapat dijelaskna sebagai berikut.

Bangsa Eropa yang pertama kalinya menemukan pulau ini adalah dua orang pelaut Portugis bernama Antonio d' Abreu and Francisco Serrano, pada tahun 1511-1513. Tapi, mereka tidak mendarat di daratan Pulau Papua. Mereka menyebut pulau ini dengan "Os Papoas". Orang Eropa pertama  yang mengunakan nama "Papua" adalah Antonio Pigafetta yang turut bertualang bersama Fernando de Magelhaens dalam perjalanannya mengelilingi bumi. Pigafetta berada di Laut Maluku sekitar tahun 1521. Penamaan Papua ini, menurut Koentjaraningrat agaknya berasal dari kata Melayu"pua-pua, yang berarti "keriting.
www.dihaimoma.com
Peta kuno tahun 1600-an [Image: Source]
Jadi, ada kesalahan pemanan selama ini." Antonio Pigafetta bukan orang Portugis, tapi orang Italia". Ia adalah seorang saintifik (ilmuwan) sekaligus seorang pelaut yang turut serta dalam visi keliling dunia bersama Fernando de Magelhaens. Selain itu, Magelhaens yang memimpin palayaran ini berkebangsaan Portugis. Tetapi, pelayaran yang dilakukannya atas nama raja Spanyol. Hal itu akibat konflik internal antara Magelhaens dan Raja Portugis, Manuel. Ia Meminta dukungan ke Raja Spanyol, Charles I dan dikabulkan. 

Semua bukti pelayaran mereka dapat diketahui dari catatan Pigafetta. Pada 27 April 1521, Magellan terbunuh di Philipina dan misinya diteruskan oleh Juan Sebastián Elcano.

Satu hal yang membuat pelayaran ini unik adalah dari pelayaran ini pula untuk pertama kalinya, orang Eropa mengetahui keberadaan burung cenderawasih, tepatnya di dekat Irlandia Baru (sekarang sudah terbagi jadi 2 provinsi di PNG:Baca: Irlandia Baru) pada tahun 1521. [14] dan dari pelayaram itu pula oleh Magelhaens samudra yang luas itu diberinama, Pasifik.


Penting!
Burung surga ini menjadi salah satu objek yang paling menarik perhatian orang Eropa waktu itu. Selama bertahun-tahun mereka hanya mengetahui burung cenderawasih dari bunyinya dan spesimen tanpa kaki yang dapat dibeli di pasar. Setelah penemuan itu dan dari hasil ekspredisi Coquille dibawah pimpinan Louis Duperrey (1822-1824 ) mereka mengetahui bahwa burung ini ternyata memiliki kaki. "Orang Eropa butuh tiga abad untuk mengetahui  burung cenderawasih itu berkaki". Terhitung sejak kulit cenderawasih Paradisaea minor sampai di Seville pada tahun 1522 sampai penemuan kelompok ekspredisi di atas ini.

Setelah masa ini berlalu, Jorge de Meneses (Portugis) adalah orang pertama yang tiba diperairan sekitar Papua pada tahun 1527. Ia menamai Pulau ini dengan "Llhas dos Papuas" yang berarti rambut keriting. Namun, ia pun hanya mencapai Biak dan pesisir utara Kepala Burung. Ia tidak sampai di daratan pulau Papua.[15]

Pada tahun 1528 Alvaro de Saavedra (Spanyol) mengunjungi tempat ini. Ia tiba di Pulau Supiori dan menemukan banyak pasir kuarsa bercampur emas. Ia menamai pulau ini "Isla de Oro" dalam bahasa Spanyol berarti "Pulau emas". Kemudian pada tahun 1537, Hernando de Grijalva mengikuti jejaknya. Dari mereka ini tidak satu pun yang berhasil mencapai daerah yang melampaui wilayah Yapen dan Biak.

Pada Tahun 1545 Ynigo Ortiz de Retes (Spayol) mencapai muara-muara S. Ramu dan S. Sepik, sebelum akhirnya berputar kembali menuju Tidore. Dalam pelayaran kembali ini, ia singgah di suatu tempat yang sekarang disebut Sarmi. Ia juga menancapkan bendera Spanyol di muara Sungai Mamberamo dan mendeklarasikan daerah itu bagian dari kekuasaan Raja Spanyol. Ia menyebut daratan ini “Nueva Guinea” karena orang-orangnya terlihat mirip orang Afrika. Dari nama inilah kemudian dalam bahasa inggris di kenal "New Guinea" sebagaimana penejelasan di atas. Memasuki tahun 1569 pulau ini mulai dimasukkan ke dalam Peta Dunia.

Belanda mulai mengirim tim ekspredisinya ke Maluku dan Papua  pada tahun 1605. Tahun 1623, Jan Carstensz (Belanda) berlayar sepanjang pantai Barat dan menemukan sebuah gunung tinggi yang diselimuti Salju Putih. Ia melaporkan temuannya itu tapi tidak dipercayai oleh bangsa Eropa lainnya. Mengapa? Kerana tidak mungkin ada salju di sekitar garis Equator 40 Lintang Selatan.[16]

Selanjutnya pada Tahun 1643, Abel Tasman (Belanda) berlayar di pesisir utara di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Britania Baru, yang menurutnya bersambungan dengan Nugini. Upaya ini merupakan kontak awal dan hubungan dengan Nugini, yang kemudian terbatas di wilayah-wilayah barat saja. Belanda belum memasuki Pulau besar Papua.

Tahun 1700 William Dampier (Inggris) mendarat di Kepulauan Karas. Ia mengelilingi pulau Salawati dan memberi nama selat antara Batanta dan Waigeo dengan Selat Dampier. Ia juga mengunjungi pesisir utara dan menemukan Mussau serta Emira di bagian utara Irlandia Baru. Ia menemukan selat yang dalam (di antara pulau ini dengan Nugini) dan menamai pulau baru ini sebagai “Nova Britannia”. Pada tahun sama, James Cook, J. Banks, dan D. Solander memastikan bahwa Nugini dan New Holland (sekarang dikenal sebagai Australia) sebagai wilayah berbeda. Mereka berlayar melintasi Selat Torres.
www.dihaimoma.com
Peta Papua 1700-an [imege:Source]
Memasuki Tahun 1781, Francisco Antonio Maurelle (Spanyol) menemukan lebih banyak pulau di Bismarck. Kemudian, tahun 1792 dan 1793 pelayaran Prancis lainnya yang mengelilingi dunia berada di perairan Nugini dan untuk pertama kalinya bersandar di Teluk Huon. Memasuki tahun 1815 Nugini didominasi oleh beberapa pelayaran besar Prancis, yang secara keseluruhan  bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan sejarah alam dan mengumpulkan banyak koleksi data. Hasil perjalanan mereka itu, saat ini berada di Natural History Museum Paris.[17]

Dari pembahasan di atas ada juga beberapa bangsa asing yang pernah melintasi dan singah di Pulau Nugini ini. Bangsa Amerika baru terlibat ketika tahun 1606, bersamaan dengan Pedro Ferna’ndez de Quiro memimpin ekspedisi Spanyol ke Pasifik Selatan dan menemukan Vanuatu [18]. Di susul dengan Inggris. Kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang pertama kali berlayar melintasi perairan Nugini adalah Sulphur di bawah pimpinan Edward Belcher. Mereka sempat singgah di Kep. Solomon, Kairiru di pesisir utara dan Yapen [19]

  3. Memasuki Penjajahan -Kolonisasi


Pada tahun 1760-an eksplorasi alam di Nugini dan pulau-pulau di sekitarnya mulai dilakukan ala kadarnya. Mereka hanya mengoleksi benda-benda yang aneh dan langka. Proses itu belanjut hingga memasuki akhir abad ke-18.  Penjelajah alam mula-mula dilakukan oleh Alfred Russel Wallace yang mengunjungi daerah Kepala Burung dan Kep. Raja Ampat pada tahun 1840-an dan Odoardi Beccari dan Luigi d’Albertis yang mengunjungi Peg. Arfak pada tahun 1870-an. Selama ini Nugini merupakan wilayah yang masih belum dijelajahi. Kecuali di bagian barat, dekat lokasi perniagaan yang bisa dijangkau Rumphius dari Ambon. Baru memasuki akhir abad ke-19 eksplorasi serius mulai dilakukan di lokasi-lokasi yang belum terjamah.

Penguasaan Nugini secara resmi oleh Belanda, pembuka Terusan Suez, pengembangan pemukiman di di wilayah Australia, peningkatan perniagaan di pulau-­pulau Pasifik, bertumbuhnya perdagangan bulu burung dan keingintahuan ilmiah tentang kondisi alam membuat mata dunia terpanah untuk menjelajahi Pulau Nugini. Terlebih setelah buku "Malay Archipelago" yang ditulis oleh Wallace diterbitkan. Para penjelajah kemudian berdatangan, khususnya setelah Jerman menguasai kepulauan di bagian timur laut Nugini dan Inggris di bagian tenggaranya. Proses ini dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut.

4.  Pembangian Pulau Nugini oleh Belanda, Inggris, dan Jerman.


www.dihaimoma.com
Pulau Nugini dibagi tiga negara [Image:Source]
Belanda mulai mengklaim New Guinea Barat, garis 141 Bujur Timur pada tahun 1826 [20].  Klaim ini belum dirumuskan dengan negara penjajah Inggris Raya di selatan dan  Jerman di bagian utara Nugini Belanda.

Pada tanggal 24 Agustus 1828 Belanda memproklamirkan secara umum bahwa wilayah bagian Barat New Guinea dan memberi nama Nederland Niuew Guinea. Pengumuman ini ditandai dengan pendirian Pos militer dan benteng Fort Du Bus di teluk Triton, Kaimana. Batas wilayah itu mencakup sebelah barat garis 141° Bujur Timur. Pada saat inilah untuk pertama kalinya pantai selatan juga dimasukkan ke dalam koloni Belanda. Tapi, memasuki tahun 1835 pos militer itu dihapuskan karena selama delapan tahun, 10 perwira, 50 prajurit Eropa, dan 50 prajurit Indonesia gugur.[21]

Catatan: Upaya kolonisasi di New Guinea Barat, telah dilakukan oleh Inggris  Pada tahun 1793 dengan membangun Benteng Fort Coronation di pantai teluk Doreh oleh 15 sampai 20 orang tentara. Tapi, usaha ini gagal.

Selanjutnya, pada tanggal 17 Maret 1824 Belanda dan Inggris mengadakan pertemuan di London. Pertemuan itu menghasilkan sebuah perjanjian. Kedua negara ini menetapkan  wilayah kekuasaannya masing-masing. Belanda menguasai Sumatra, Jawa, Maluku, Sulawesi, dan New Guinea bagian Barat. Sedangkan Inggris menguasai Malaya (Malaysia), Singapura dan Borneo bagian Utara.[22]

Berikutnya, pada 1883 bendera Inggris dikibarkan di Port Moresby. Seluruh daerah Nugini-Belanda serta pulau-pulau lain di antara meridian 141° dan 155° dikuasai Inggris. Memasuki tahun 1885 Inggris memproklamirkan bagian timur Nugini sebagai wilayahnya.

Tidak lama kemudian, tahun 1884 Jerman mengibarkan bendera di Kep. Bismarck dan bagian barat Kep. Solomons. Pada tahun yang sama, Jerman mengambil alih Nugini-Belanda Utara. Jadi, besarnya perhatian pihak lain terhadap Nugini-Belanda telah mendorong Belanda agar lebih memperhatikan wilayah koloninya ini.[23]. Dari situlah cikal-bakal Pulau terbesar kedua itu di bagi tiga negara.

Memasuki tahun 1895 Inggris mengakui klaim Belanda atas wilayah Nederland Niuew Guinea dan di susul oleh pengakuan Jerman pada tahun 1910. Garis batas Internasioanl yang memisahkan Papua Nugini (Papua Timur) dan Papua Barat (West Papua ) masih berlaku hingga saat ini.

a. Pemerintahan Belanda di West Nugini (Papua Barat)


Pada tahun 1898, parlement Belanda mengesahkan anggaran sebanyak f. 115.000 untuk pertama kalinya membangun Pemerintahan di Papua. Pemerintahan ini diberi nama Resident Nederland Niuew Guinea. dengan Gubernurnya, Hier Rust. Penamaan yang digunakan belanda ini secara langsung merujuk pada penamaan awal Nova Guinea yang menandakan bahwa Penduduk Nugini memiliki perbedaan yang sangat jauh dengan penduduk Nederland Indies. Mereka berkulit hitam dan berabut keriting yang tentunya berbeda dengan bangsa Melayu[24] 

Catatan: Jauh sebelum proses ini: Zending Protestan sudah sejak 1855 menetap di Nugini-Belanda dengan ditugaskannya zendeling C.W. Ottow dan J.G. Geissler di Mansinam
Pada tahun yang sama pemerintah Belanda mulai mendirikan pos-pos pemerintahan di Pantai Barat Fak-Fak dan di pantai barat-laut Manokwari. Pos ketiga di Pantai tenggara Merauke pada 1902. Pendirian pos ketiga ini, karena gangguan yang dialami oleh pemerintah Inggris akibat serangan dan penjarah suku Marind-Anim dari pantai tenggara Nugini-Belanda. Belanda berusaha mendirikan pos-pos pemerintahan, mengeksplorasi daerah pedalaman memasuki tahun (1900-1930) dan menaklukkan puncak-puncak gunung yang penuh tantangan di Papua. Selanjutnya, Belanda menancapkan bendera Belanda di Hollandia (Sekarang Jayapura) pada tangga 7 Maret 1910, tepatnya di wilayah perbatasan Jerman New Guinea di bagian Utara.

Pada masa ini pembangunan dan ekspredisi telus dijalankan hingga kepelosok-pelosok Papua. Pembangun hanya nampak di daerah pesisir. Pada tahun 1930-an ekspedisi biologi yang berkolaborasi antara Belanda, Inggris dan Amerika dilakukan ke pelosok pedalaman. Ekspedisi yang paling terkenal ini dipimpin oleh Richard Archbold. Pada ekspredisi ini pula, mereka menemukan Lembah Baliem yang padat penduduknya pada tahun 1938.

1.  Pembangunan di Nugini Belanda


Saat itu pembanguan di Nugini Belanda bisa dibilang sangat kalah jauh dengan Nugini Britain. Pembangunan itu termasuk pembangunan fisik maupun Sumber Daya Manusia (SDM). Poin ini yang membuat kagun Schoorl saat berkujung ke Papua Nugini waktu itu.

Kesaksian Choorl: 
Lalu-lintas penerbangan di atas Nugini-Australia menyentak saya: sangat ramai, dengan pesawat besar dan kecil, karena sebagian besar lalu-lintas manusia itu melalui udara. Dalam hal ini Nugini-Belanda tertinggal jauh. Di pedalaman banyak jalan di mana terutama digunakan Landrover dengan roda besar. Jalan di sana juga melalui daerah-daerah kosong. Jalan-jalan itu jelek; kubangan di tengah jalan dan longsoran di tepi jurang.Saya berkesempatan mengunjungi perusahaan pendulang emas di daerah Sungai Sepik. Di sana para pekerja Papua hanya dapat membelanjakan upah mereka di sebuah toko pemerintah. Kalau tidak salah, mereka terikat kontrak dengan perusahaan dan seusai kontrak dapat meninggalkan perusahaan dengan membawa hasil kerja mereka. Mereka kelihatan sehat-sehat dan semua berpakaian layak.[25]

Setelah Perang Dunia II, Belanda melakukan lebih banyak upaya pembangunan infrastruktur yang sebagian besar telah dimulai oleh para misionaris dan memberikan pelayanan kesehatan serta pendidikan bagi rakyat Papua. Sepanjang tahun 1950-an, pengembangan ekonomi diharapkan dari eksplorasi dan pengolahan hasil tambang, khususnya cadangan-cadangan minyak dan sumber daya kehutanan yang sangat luas dan dari perkebunan kelapa, coklat, serta pala yang sebagian besar dimiliki oleh orang-orang non Papua.

Penyebab utama West Papua tertinggal jauh dari East Papua dapat dirangkum menjadi tiga:

  • Dominasi orang-orang luar Papua yang dibawah Belanda khususnya Nederland Indies untuk diperkerjakan  oleh Belanda di Papua.
  • Letak Belanda yang jauh dari Papua. Tidak seperti PNG, Australia terletak di Pasifik.
  • Meningkatnya tekanan Indonesia dan Amerika atas Belanda.

Pernyatan lainnya adalah Drooglever dalam bukunya sempat menyingung akan hal ini. Posisi-posisi menengah di Nugini Belanda di isi oleh orang Nedeland Indies yang didatangkan Belanda. Sementara Orang Papua menjadi masyarakat kelas bahwa. Hal senada juga kembali dinyatakan Schoorl bahwa dalam penerimaan tenaga kerja, di Nugini-Australia menerapkan aturan yang tidak menerima tenaga kerja selain Australia dan pribumi. Selain itu Rosmaida (2013:232-233) juga menyatakan hal yang sama.

Kesalahan dan kelemahan Belanda inilah yang membuat Nugini Belanda tertinggal. Selanjutnya dimanfaatkan Indonesia untuk menanam nasionalisme Indonesia dikalangan orang Papua melalui para pendatang yang dibawa Belanda. 


2. Membentuk Negara Papua Barat


Memasuki Tahun 1950-an Indonesia gencar berdiplomasi dan berjuang untuk merebut Nugini Belanda. Ketika jalur diplomasi berakhir buntuh, Indonesia memilih jalan konfrontasi dengan Belanda. Indonesia membangun basis militer  dangan mayorita persenjataan yang didukung Rusia. Memasuki tanggal 27 Desember 1958, presiden Soekarno mengeluarkan UU nomor 86 tahun 1958 tentang nasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia.

Satu hal yang jarang diketahui orang adalah ketika pemerintah Belanda mencoba berdiplomasi dengan Indonesia soal Nugini-Belanda. Australia dibahwa kepemimpinan Menteri R.G. Menzies. Ia penah mengatakan apabila "Belanda akan melepas Papua, Australia akan bersedia untuk mengayomi wilayah itu. Bagi Belanda tawaran seperti itu kelewatan batas. Dilematisnya, dilain pihak Belanda sudah membuat perjanjian di KMB melalui Van Maarseveen kepada Indonesia, bahwa Belanda tidak pernah akan mengalihkan Papua kepada pihak ketiga di luar Indonesia".[26]

Belanda yang sudah mengetahui rencana besar Indonesia, pada tanggal 5 April 1961 membentuk Nieuw-Guinea Raad atau yang kemudian dikenal Dewan Perwakilan Rakyat Niew Guinea. Proses pemilihan dilakukan secara demokratis dan berjalan lancar. Dalam pembentukan dewan inilah segala atribut kenegaraan di tetapkan, dengan nama negera "Papua Barat" (West Papua). Penamaan ini tentu karena wilayah tenggara (sekarang PNG) juga ketika berada dibahawa Australia penah mengunakan nama Papua.[27]

Tujuan dari pembentukan ini untuk memberi kemerdekaan atas Papua sesuai dengan hukum internasional yang mengatur tentang pemberian kemerdekan bagi daerah-daerah koloni. Pada saat acara pembukaan itu salah satu tokoh  Papua, Nicolas Jouwe dalam pidatonya mengingatkan bahwa berdirinya dewan merupakan buah karya Van Eechoud, yang karena itu wajar ia dapat menyandang nama bapa orang-orang Papua. [28]


Dari segi pendidikan, mulai nampak ketika memasuki tahun 1960-an. Jumlah orang yang diberikan kesempatan untuk sekolah di luar negeri meningkat. Pada tahun 1960, 29 orang Papua bersekolah di Belanda dan tahun 1961, jumlahnya meningkat menjadi 50 orang untuk mengikuti sekolah-sekolah lanjutan. Ada juga siswa-siswa Papua yang dikirim ke Australia dan Fiji untuk pendidikan kedokteran atau teknik radio[29] 

Kekuasaan Belanda di Papua Barat baru diakhiri tanggal 1 Oktober 1962, sesuai dengan ketentuan Perjanjian New York, tanggal 15 Agustus 1962, antara Belanda dan Indonesia, yang diperantarai oleh diplomat AS, Eslworth Bunker.[30] Penyerahan ini juga turut mengakhiri semua rancangan program Belanda untuk Papua Barat dan harapan kemerdekaan orang Papua. Belanda sudah menyusun program jangka pendek menengah dan jangka panjang. Di mulai dari tahap awal mempersiapkan sumber daya manusia Papua sampai dengan pemberian kemerdekaan sesuai dengan hukum Internasional. Semuanya, di rampas Indonesia.

Belanda berjanji, pada pemerintah Indonesia untuk menyumbang bantuan sebesar US$30 juta untuk mendanai pembangunan Irian Barat melalui Fund of the United Nations for the Development of West Irian sebagai bagian dari persetujuan dekolonisasi. Dengan keluarnya Indonesia sebagai anggota PBB, dana tersebut baru di cairkan pada tahun 1966 [31] yang kemudian  digunakan Indonesia untuk pembangunan transmigrasi dan pengamanan pelaksanaan Pepera di Papua.
Pada bulan Februari 1966, seratus kepala keluarga dari Jawa diberangkatkan dengan kapal, sebagai bagian dari program penempatan penduduk oleh pemerintah. Sebagian dari mereka akan ditempatkan dekat Soekarnopura, dan sisanya dekat Merauke bagian Selatan. Lahan mereka dirampas dari pemilik tradisionalnya. Di sini tidak perlu disebutkan bagaimana prosedur penguasaan atas lahan tersebut.

Pada bulan Juli-Agustus 1969 Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) berlangsung. Sebanyak 1025 orang di seleksi dari delapan daerah. Dari jumlah itu, 1.020 orang wakil dengan suara bulat menyatakan bergabung dengan Indonesia. Lima orang di antaranya tidak hadir. Satu orang dilaporkan dieksekusi karena ia tidak mau mengikuti naskah yang telah didiktekan sebelumnya oleh Indonesia selama Pepera berlangsung [32] 


Dalam PEPERA ini banyak kecurangan yang dilakukan Indonesia, bahkan sampai memasuki tahun 1980-an operasi-operasi militer masih terus dilakukan Indonesia. Banyak catatan sejarah membuktikan bahwa sudah ratusan ribu rakyat Papua gugur ditangan militer Indonesia.

Protes rakyat Papua atas kecurangan-kecurangan itu, hingga saat masih terus berlajut. Menurut Adijondro  proses itu meninggalkan tiga paham besar di kalangan orang Papua. Ada tiga kelompok besar paham kebangsaan yang hidup di kalangan orang Papua:
  • Paham kebangsaan suku (ethnon ationalism)
  • Paham kebangsaan "Merah Putih" 
  • Paham kebangsaan  Papua [33]
Dari 3 poin paham di atas ini, Dihai menambahkan satu poin paham nasonalisme di Papua, yakni "Nasionalisme Musiman" kelompok ini pahamnya bersifat pramatis dan dinamis. Mereka bisa berada di kelompok mana saja dan turut  menyesuaikan dengan kepentingan pribadi atau kelompok mereka.

Dan jika saya ditanya ada diposisi paham yang mana? Maka saya akan menjawab. Saya  bukan Merah Putih, saya bukan suku Mee tetapi saya adalah bangsa Papua.
Bisa baca lebih lanjut:


2. Nugini Timur (Papua Nugini-Nugini Jerman)


Kehadiran Inggris di wilayah Nugini Timur alias Papua New Guinea mulai berlangsung antara tahun 1760-1815. Pada masa ini Ekspedisi baru pertama dilakukan oleh Philip Carteret dari Inggris. Ia mengunjungi berbagai bagian Pasifik barat daya, Solomon barat laut dan Britania Baru pada tahun 1767 dan sempat singgah di Bougainville. Jejak ini diikuti oleh Louis Antoine de Bougainville dari Prancis pada tahun 1768 bersama dengan Philibert Commerson mengunjungi bagian pesisir tenggara, Kep.Louisiade dan wilayah utara Kep.Solomon dan wilayah barat daya dan Irlandia Baru sebelum menuju ke Jawa[34]
www.dihaimoma.com
Peta Teritori Papua dan Teritori New Guinea (PNG) [image:Source]
Eksplorasi skala besar di Nugini Jerman baru dimulai antara tahun 1884-1914 setelah wilayah Nugini Inggris dan Nugini Belanda. Selain Miklucho-Maclay, sebelum tahun 1885 “pelopor” satu-satunya di daratan Papua adalah F. H. Otto Finsch. Naturalis dan pakar geologi berkebangsaan Jerman ini meneliti seluruh pesisir timur Nugini sebagai bagian dari pelayarannya ke seluruh dunia (1880-1885). Memasuki tahun 1899 kegiatan perdagangan dan penjelajahan di bagian timur laut sebagian besar dilakukan oleh bangsa Jerman, melalui perusahaan negara Neu Guinea Compagnie. [35]

Setelah Inggris diduduki Australia. Mereka mulai tertarik untuk menduduki Nugini bagian Timur. Pada tahun 1846 Letnan Yule dan disusul kapten Moresby pada tahun 1873 mengklaim wilayah Nugini Timur milik Inggris. Tapi, klaim itu masih bersifat personal.

Pada masa ini pemerintah Inggris yang sudah banyak menduduki daerah orang kulit hitam di Afrika dan Australia merasa kurang tertarik dengan wilayah itu. Namun, negarawan terkenal di New South Wales, Henry Parkes menyatakan bahwa “Australia akan merasa aneh dan janggal kalau kekuatan lain bercokol di wilayah Timur Nugini”.

Pernyataan Parkes ini, dan meningkatnya perhatian Jerman atas pulau ini menjadi dorongan bagi pemerintah Queensland untuk mendesak pemerintah Inggris agar menguasai Nugini Timur. Pertimbangan biaya atas penguasaan wilayah itu dan sikap skeptis Inggris atas pengaru Jerman membuat Inggris belum sepenuhnya tertarik atas wilayah itu, kecuali seluruh koloni Inggris di Australia siap membantu biaya untuk menduduki tempat itu. Bahkan sampai tahun 1877 emas ditemukan di bagian Selatan Nugini, Inggris belum begitu tertarik.

Memasuki tahun 1847 orang Eropa mulai mendirikan pemukian di Moyua dalam misi penyebaran agama Katolik. Setelah 8 tahun berlalu, misionaris protestan khususnya Anglikan dan metodis masuk sepanjang wilayah  pesisir Selatan pada 1870. Gejera Anglikan memulai misinya di Dogura dan Dobu. Sedangkan Metodis di Dobu.

Pada tahun 1873 kapten John Moresby, meneliti pelabuhan DNC (National Capital Distric) dan menamai dua pelabuhan dengan Fairfax dan Pelabuhan Moresby. Penamaan ini untuk menghormati ayahnya, Laksamana Fairfax Moresby. Pada tahun 1874, Williarn G. Lawes mendirikan markas besar Masyarakat Missionaris London di dekat Hanuabada.

Dari situ misionaris London mulai melakukan misinya di sepanjang Pantai Central pada tahun 1873. Pemerintah Inggris baru datang pada tahun 1884. Memasuki tahun 1885, misi Katolik Roma membuat markas besarnya di Pulau Yule. Perusahan karet dari Eropa mulai didirikan di derah Sogeri, tepian sungai Kemp Welch. Memasuki tahun 1908, untuk pertama kalinya  Gereja Masehi Advent memulai misinya di Papua Nugini, di dekat daerah Sogeri.

Kepada pemerintah Inggris, Jerman mengatakan mereka siap menduduki Nugini Timir. Memasuki tahun 1883 kepala pemerintahan Queensland, Sir Thomas Macllwraith menyatakan akan bertindak apa bila pemerintah Inggris tetap tidak bersedia. Inggris masih menolak. Macllwraith mengutus seorang hakim untuk menancapkan bendera Inggris sambil menyatakan bahwa Nugini Timur menjadi milik Inggris. Keputusan Queensland itu, didukung seluruh koloni Inggris di Australia. Selanjutnya, mereka mendesak Ingris untuk bertindak.

Akibat desakan itu, pada bulan November 1884 Inggris mengklaim Nugini bagian Timur. Pada tahun 1885 Inggris memproklamasikan wilayah itu dan menyerahkan kepemimpinannya (secara defacto) kepada negera bagian Queensland sampai tahun 1901. Tapi anggaran belanjanya, ditanggung bersama oleh keenam koloni. Memasuki tahun 1904, Inggris menyerahkan pengusaan wilayahnya "Nugini Britania" kepada Australia. Dari tangan Australia, nama wilayah ini diubah menjadi Papua.

Selanjutnya, saat perang dunia I. Australia berhasil menduduki wilayah “New Guinea Timur laut (Nugini Jerman) pada 2 Mei 1921. Kemudian  Australia diberi mandat oleh liga bangsa-bangsa untuk memerintah wilayah Nugini Jerman dan oleh Autralia wilayah ini diberi nama "New Guinea".

Papua dan Nugini merupakan kedua wilayah yang berbeda baik secara defacto maupun de Jure, meskipun sama-sama dibawah kekuasaan perintah Australia. Teritori Nugini merupakan mantan jajahan Jerman yang direbut Australia (baik de jure maupun defacto). Sedangkan Teritori Papua adalah Jajahan Inggris (de jure) yang diperintah Australia secara de fecto. Kedua teritori  ini digabungkan pada tahun 1949 dan memasuki tahun 1972 digambungkan menjadi "Papua Nugini". Selanjutnya, pada 16 September 1975 teritori ini memperoleh kemerdekaan penuh dari Australia dengan nama negara "Papua New Guinea".




Sumber Utama acuan artikel:

1. Kartikasari, Sri Nurani, dkk. 2012. Seri Ekolog Indonesia Jilid VI: Eklogi Papua. Jakarta: Obor.
[1] lihat hlm 43. 
 [4] lihat hlm 5.
[5] lihat hlm 76
[6-8]lihat hlm 84
[7]lihat hlm 89
[9] lihat  hlm14
[14]lihat  hlm20
[17]lihat hlm 33
[18]lihat hlm21
[19]lihat hlm 25
[20]lihat hlm 16
[27]lihat hlm 5
[29]lihat  hlm 651
[31lihat  hlm 678
[32lihat  hlm 645
[34lihat  hlm  22
[35lihat  hlm  33

2. Koentjaraningrat.1994. Irian Jaya: Membangun Masyarakat Majemuk. Jakarta: Djambatan.
           [2-3] lihat hlm 4

3. Jhon Anari. 2011.Analisis Penyebab Konflik Papua Dan Solusinya Secara Hukum Internasional.
          [13] lihat hlm 83
          [15] lihat hlm 87
          [16] lihat hlm 88-87
          [22] lihat hlm 89
           [24] lihat hlm 18

4. Drooglever.2010. Tindakan Pilihan Bebas. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
       [25] lihat hlm 232
       [28] lihat hlm 548

5. Choorl. 2001. Belanda di Irian Jaya. Jakarta. Garda Budaya
    [21-23] lihat hlm 2
    [25] lihat hlm 266

6. Aditjondro, George . J. 2000. Cahaya Bintang Kejora. Jakarta. ELSAM
      [10] lihat hlm 281
      [11] lihat hlm 283
      [12] lihat hlm 274-274
      [30] lihat hlm 6
       [33 ] lihat hlm 8

Sumber  diadaptasi penulis:

 1. Kamma. 1981. Ajaib di Mata Kita. Jilid 1: BPK Gunung Mulia

2. Syaiful Bachri.2013.Peran Sistem Tunjaman, Sesar Mendatar Transform Dan Pemekaran Terhadap Sebaran Cekungan Sedimen Di Indonesia. Jakarta: Jurnal Geologi Indonesia. Vol.14,No.1.

3. Wikipedi. 2018. Papua Nugini. https://id.wikipedia.org/wiki/Papua_Nugini. Diakses pada Februari 2018.
Dihaimoma Menulis Updated at: 2/24/2018 11:47:00 am

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.
EmoticonEmoticon