Danau Sentani di Jayapura: Ini 7 Fakta yang Belum Anda ketahui!



www.dihaimoma.com

Danau Sentani  dikenal sebagai danau terbesar di Papua. Danau ini terletak di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua dengan luas 9.360 ha. Volume air danau pada tahun 2014 mencapai 2.808 juta m³ dan ketinggian 70-90 m dpl. Danau ini berbatasan langsung dengan Cagar Alam Pegunungan Cycloops dan memperoleh suplai dari sekitar 34 sumber mata air. 

Danau ini tidak pernah bosan memanjakan mata wisatawan yang berkunjung untuk menikmati kemeriaan festitval Danau Sentani. Pelaksanaan Festival Danau Sentani sendiri telah ditetapkan sebagai festival tahunan dan masuk dalam kalendar pariwisata utama. Festival ini diisi dengan tarian-tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, upacara adat seperti penobatan Ondoafi, dan sajian berbagai kuliner khas Papua.

Danau Sentani termasuk tipe danau Landslide, yaitu perairan tergenang yang terbentuk akibat pergeseran lahan yang membentuk basin, sehingga membentuk tipe danau yang curam dan dikelilingi oleh bukit-bukit kecil yang terjal dan berlekuk-lekuk seperti teluk.

Selain penjelasan di atas ini. Danau ini menyimpan beberapa fakta unik yang mungkin belum anda ketahui. Berikut ini dihaimoma.com merangkum dari beberapa jurnal tentang: 7 Fakta Danau sentai yang Belum Anda ketahui!

1. Sentani antara nama danau dan suku yang masih Kabur


Kata Sentani bukannya mengacu pada nama danau seperti yang dikenal secara luas. Nama ini juga merujuk pada suku yang mendiami sekitar Danau Sentani. Mereka ini dikenal dengan suku Sentani ras Papua-Melanesia. Kelompok etnis ini tersebar di Tanah Merah (Demta) dan subetnis Sentani,  tersebar di wilayah Tabi di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.

Masyarakat Sentani menyebut diri mereka dengan “bu yaqala”. Bu artinya air dan "jaqala" berarti jernih jadi kalau di terjemahkan "Air Jernih". Seperti dikutip Marlin Tolla dari Flassy, (2007) dalam jurnal berjudul "Gelang Batu, Kapak Batu, Manik–manik Dalam Suku sentani Fungsi praktis dan magi" mengatakan bahwa, kata sentani sendiri secara harafiah tidak memiliki arti. Sentani muncul dari penamaan penduduk Teluk Numbay dan Youtefa (suku tetangga) untuk menyebut danau beserta masyarakat yang berdiam di sekitarnya dengan istilah “heram” yang kemudian bergeser menjadi “setam” dan akhirnya menjadi “sentani". 

Pernyataan ini tentu berbeda dengan versi wikipedia yang mengatakan Sentani berarti "di sini kami tinggal dengan damai”. Nama Sentani sendiri pertama kali disebut oleh seorang Pendeta Kristen, BL Bin ketika melaksanakan misionaris di wilayah danau ini pada tahun 1898.

Perbedaan seperti ini perlu diluruskan supaya tidak menimbulkan kontradiksi dalam kajian-kajian ilmiah selanjutnya. Penamaan dan pemaknaan yang berbeda terhadap suku di Papua semacam ini pernah terjadi juga untuk menyebut suku Mee. Para ilmuan yang pertama meneliti tentang suku Mee menyebut mereka dengan kata Ekari/Ekagi atau Kapauku. Tapi, penyebutan itu dibantah oleh saudara Titus Pekei melalui bukunya "Manusia Mee di Papua". Lebih jelasnya, sobat bisa baca artikel berikut.


Perbedaan pendangan di atas ini harus diperjelas dan dipertegas kebenarannya. Bisa dari suku Sentani sendiri atau dari para peneliti ilmu sosial yang hendak meneliti Sentani. Karena memang, hingga kini masih menyimpan kontradiksi dalam bidang kajian ilmu sosial.

2. Kedalaman, ketinggian dan bentuk Danau Sentani


Sejauh ini telah diketahui bahwa kedalaman Danau Sentani bervariasi antara bagian timur, tengah, dan barat. Tinggi permukaan air danau maksimum normal tercatat setinggi + 73 m dpl dan tinggi minimum normal +72 m dpl. Tinggi muka air maksimum ekstrim adalah +73,3 m dpl dan minimum ekstrim +71,5 m dpl, dengan fluktuasi rata-rata tahunan adalah 0,4 m. Meski demikian, area paling dalam di kawasan danau ini berada di Doyolama dengan kedalaman masimal 72,28 m. Secara visual, danau ini berbentuk huruf S dari arah timur ke barat

Mujiati (2006) dalam kajian Ervina Indrayani dkk, yang berjudul "Peta batimetri Danau Sentani Papua" menyebutkan bahwa perairan Danau Sentani memiliki 21 pulau berukuran kecil dan sedang. Saat ini terdapat 26 kampung asli. Tiga pulau terbesar sebagai pusat sejarah, pertumbuhan kekuasaan pemerintahan adat tradisional, dan penyebaran komunitas sosial budaya. Ketiga pulau tersebut adalah Pulau Asei di Sentani Timur, Pulau Ajau (pulau terbesar) di Sentani Tengah, dan Pulau Yonokom di Sentani Barat.

3. Danau Sentani mengalami penyempitan dan pencemaran


Meskipun pada pembuka air dinyatakan bahwa luas luas 9.360 ha tetapi pengukuran terbaru  menunjukkan danau ini telah mengalami penyempitan. Berdasarkan digitasi dan pemetaan ulang menggunakan Program ArcGIS terhadap kondisi Danau Sentani tahun 2013 menunjukkan Danau Sentani telah berkurang menjadi 9.248 dengan Volume danau 1.604 juta m³. Perubahan tersebut disebabkan karena adanya penimbunan hasil galian gunung disekitar pinggiran danau untuk keperluan pelebaran jalan nasional di Kabupaten Jayapura.

Pihak aktivis lingkungan hidup mengumumkan sekitar 20 sumber air diantaranya dinyatakan telah mengering akibat penebangan hutan sekitar permukiman penduduk, dan kemarau panjang. Mengacu pada kajian Suriani BR (2011) dengan judul "Biologi dan Ekologi Thiaridae (Moluska: Gastropoda) di Danau Sentani Papua" menunjukkan hanya 7 sungai yang masih aktif, karena di sepanjang sungai telah terjadi konversi hutan menjadi lahan pertanian dan pemukiman penduduk, serta penambangan liar.

Sejauh ini persoalan yang terus mengintai danau sentani adalah pendangkalan danau, pencemaran, eutrofikasi, introduksi spesies asing, eksploitasi sumber daya, penurunan permukaan air danau, dan terjadinya konflik pemanfaatan air. Kondisi tersebut berdampak pada punanya keanekaragaman fauna terutama kelompok Thiaridae, khususnya spesies endemik dan jenis-jenis yang dimanfaatkan oleh warga di sekitar danau karena bernilai ekonomi.

4. Menyimpan keanekaragaman ikan dan tumbuhan Air


Danau Sentani memiliki sedikitnya 6 jenis tumbuhan air dan sekitar 31 jenis ikan air tawar dari jumlah itu 10 jenis diantaranya adalah ikan-ikan endemik, misalnya, gabus Danau Sentani (Oxyeleotris heterodon), ikan pelangi Sentani (Chilaterina sentaniensis)ikan pelangi merah (Glossolepis incius) hiu gergaji (Pristis microdon) dan lain-lain.
www.dihaimoma.com
Ikan Hiu gergaji danau endemik Sentai [Image:Source]
Di antara ikan endemik itu, populasi ikan gabus Sentani dan Ikan hiu gergaji semakin menyusut. Pada tahun 1969-1971 tercatat 151 ekor hiu gergaji Danau Sentani terjerat menggunakan jaring insang. Tetapi pada tahun 1974, ikan endemik ini hanya tertangkap seekor saja dan bertahuntahun berikutnya jarang terdengar ikan hiu ini terjerat lagi, maka diperkirakan ikan endemik unik ini telah punah.

Mengingat berkurangnya ikan endemik ini pemerintah melindungi ikan hiu gergaji sentani ini melalui peraturan perundang-undangan, SK Mentan No.716/Kpts/Um/10/80 tahun 1999. tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Semoga ikan ini terus hidup di habitatnya yang terus dirampas kebutuhan manusia.

5.  Pernah menjadi lokasi latihan pendaratan pesawat Amfibi


Pada masa perang Pasifik, Danau Sentani pena menjadi lokasi pelatihan pendaratan  pesawat amfibi. Tempat ini dibangun oleh Jepang, namun diambil alih  Angkatan Darat Amerika tahun 1944 dan tercatat Legenda Perang Dunia kenamaan Amerika, Jenderal McArthur, pernah tinggal di Danau Sentani.

6. Nilai ekonomi Danau Sentani

www.dihaimoma.com
Festival danau Sentani [image:Source]
Berdasarkan hasil kajian Hutajulu Halomoan dalam jurnal berjudul"Valuasi ekonomi Danau Sentani di kabupaten Jayapura" menunjukkan bahwa nilai ekonomi Danau Sentani sangat besar bagi pemerintah dan masyarakat. Jika dikelola dengan baik, Danau Sentani bukan hanya bermanfaat dalam kehidupan masyarakat tetapi juga turut berkontribusi terhadap pembangunan daerah Kabupaten Jayapura. Dari kajian itu, menghasilkan 3 poin kesimpulan sebagai berikut:

   a. Nilai ekonomi budidaya perikanan dan ikan tangkap


Nilai ekonomi total Danau Sentani, yakni sebesar Rp.51.179.921.700 yang terdiri dari nilai ekonomi danau sebagai wadah budidaya perikanan jaring apung adalah Rp 4.550.000 per ton ikan. Kalau pada tahun 2011 diketahui jumlah produksi ikan jaring apung sebanyak 1.650 ton, maka nilai ekonomi total Danau Sentani sebagai wadah budidaya jaring apung mencapai Rp.7.507.500.000. Nilai ekonomi Danau Sentani sebagai produsen ikan tangkap Rp.27.256.250.000 milyar/tahun. Jenis ikan yang terdapat di Danau Sentani yakni ikan mujair, ikan mas, ikan gabus toraja, ikan nila, ikan lele serta ikan lainnya. Sedangkan nilai ekonomi Danau Sentani sebagai sumber air minum bagi masyarakat yang mendiami pesisir Danau yakni sebesar Rp.13.305.500.000.

Baca juga: 9 Danau Indah dan Eksotis di Papua yang Mungkin Belum Anda Ketahui !

   b.  Danau Sentani sebagai tempat wisata


Nilai ekonomi Danau Sentani sebagai obyek wisata alam untuk Kabupaten Jayapura mencapai Rp.790.759.200/tahun ditambah dengan sebagai ternpat pelaksanaan wisata Festival Danau Sentani yakni mencapai Rp.1.750.000.000. Pelaksanaan Festival Danau Sentani dilaksanakan dengan tujuan untuk mempromosikan Danau Sentani bagi seluruh wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

   c.  Sebagai sarana transportasi


Nilai ekonomi Danau Sentani sebagai sarana transportasi yakni mencapai Rp.569.921.500/ tahun.

Kalau saja pemerintah daerah memahami kondisi ini dan memanfaatkannya dengan baik, maka bukan saja akan turut mengangkat  tanah Papua, terlebih Sentani. Tetapi, dengan estimasi seperti itu, tentu sangat menguntungkan bagi masyarakat dan pemerintah.

7. Pulau Maitai  Menyimpan Mitos Batu Beranak.


Pulau Mantai merupakan salah satu dari 22 pulau yang terletak di tengah Danau Sentani.  Sejauh ini pulau yang satu ini masih tidak berpenghuni. Pada perairan pulau ini terdapat 12 buah batu yang masih disakralkan masyarakat setempat. Batu-batu itu berada dalam air. Masyarakat setempat menyebut Batu-batu ini dengan 'aining duka' atau batu beranak.

Untuk melihat batu-batu ini dengan jelas, sobat harus menunggu hingga air danau surut. Kalau sobat tiba pada saat air pasang, maka  sobat hanya bisa melihat batu beranak ini samar di permukaan air. Dari jumlah itu, terdapat dua batu besar dan 10 batu kecil. Dua batu besar tersebut dipercaya oleh masyarakat sebagai wujud jelmaan dari laki-laki dewasa dan perempuan dewasa. Sedangkan 10 buah lainnya yang berukuran kecil sebagai anak-anaknya. Jumlah serta ukuran yang menyerupai sebuah keluarga inilah yang membuat batu-batu ini dikenal sebagai batu beranak.


Setelah mengetahui 7 fakta di atas, apakah ada yang perlu ditambahkan atau diperbaiki? Kalau sobat mengetahui fakta lain tentang Danau Sentani selain poin-poin di atas, atau ada klarifikasi atas poin-poin di atas, mohon meninggalkan komentar. Dihai akan segera memperbaiki atau menambahkan. Terima kasih.

Dengan demikian itulah 7 fakta seputar Danau Sentani yang dapat Dihai bagikan dalam artikel ini. Semoga  artikel menambah pengetahuan umum buat sobat sekalian. Mari mempelajari Papua. Terima kasih




Sumber Acuan Artikel:
  • Surbakti suriani BR. 2011. Biologi dan Ekologi thiaridae (moluska:gastropoda) di Danau Sentani Papua. Papua: Jurnal Biologi Indonesia. Volume 3, No.2
  • Ervina Indrayani, dkk.2011. Peta batimetri Danau Sentani Papua Bathymetric map of Lake Sentani Papua. 
  • Marlin tolla.2009. Gelang Batu, Kapak Batu, Manik – Manik Dalam Suku Sentani Fungsi Praktis Dan Magis.Papua: Jurnal Argeologi Indonesia vol.1, No. 2.
Dihaimoma Menulis Updated at: 2/01/2018 12:57:00 am

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.
EmoticonEmoticon