0

8 Fakta Tentang Suku Biak di Papua yang Belum Anda Ketahui !

Dihaimoma.com
Sebagai generasi muda Papua. Kita semua tahu bahwa dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas dan bahkan mungkin kuliah, kita semua disungguhkan dengan materi tentang tradisi dan budaya orang lain. Kita dibuat lupa bahkan tidak punya kesempatan sedikit pun untuk mempelajari tentang tanah Papua serta isinya. Persoalan ini ibarat kacang lupa kulit. Artinya, kita tidak saling mengenal antara kita sendiri. 

Ketika saya melihat dan membaca komentar para netizen diberbagai media yang memberitakan masalah antara orang Papua yang berujung pada kerusuhan. Mereka sering berkomentar itu adalah budaya di sana. Pernyataan semacam itu terkesan membuat kita orang Papua ditakdirkan untuk tidak bisa menyelesaikan suatu masalah dengan kepala dingin. Bagi saya, kalau soal itu saja masih bisa dimaklumi. Tetapi, persoalannya sifat kita yang seperti ini terkadang dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk mengaduh domba.

Konteks inilah yang saya maksud di sini bahwa generasi Papua perlu belajar mengenal diri. Generasi Papua harus mampu mengenal, mempelajari dan memahi kebisaaan, karakter dan bahkan tradisi budaya sesama Papua. Mengapa? Supaya tidak terjadi benturan kebudayan yang mendatang konflik besar, terlebih lagi kita tidak bisa dimanfaatkan orang lain. Kita tau bagaimana bersikap ketika berhadapan dengan sesama Papua yang memiliki latar belakang suku dan budaya yang berbeda.

Saat ini di Papua tidak seperti zaman batu. Banyak jurnal dan buku yang dapat kita manfaatkan untuk mempelajari Papua. Kita lupa, kalau diluar sana banyak orang telah mempelajari kebiasa dan karakter orang Papua, terlebih para ilmuan dari disiplin ilmu sosial.

Kita bisa memanfaatkan sumber dari mereka untuk mempelajari Papua. Yah, karena secara filsafati ilmu itu apa adanya dan objektif, meskipun dewasa ini ilmu pengetahuan pun terkadang bersifat politis. Tidak ada tempat untuk kita belajar selain ilmu pengetahuan. Kata Imannuel Kant, keraguan teradap ilmu sama bahayanya dengan keraguan terhadap Agama.

Dalam konteks Papua, ada seorang senior saya, Dani Merianus Badii beberapa tahun lalu pernah mengatakan "jangan mengaku orang Papua kalau seminimal mungkin ko tidak tahu salah satu bahasa, tempat, atau tradisi suku lain di Papua selain dari ko pu suku". Artinya, seminimal mungkin kita harus ketahui salah satunya dengan landasan ilmu pengetahuna. Ingat! Bukan pengalaman, karena kata penganut rasionalisme, pengetahuan bersifat pengalaman adalah subjektif maka relatif.
Beberapa bulan terakhir ini, Dihai mulai tertarik untuk mempelajari Papua dari beberapa sumber yang dapat saya jangkau dan membangikannya dalam blog serba ngawur ini. Ketertarikan itu karena ingin melihat Papua yang beragam itu secara utuh dan terpadu dalam perbedaan.

Tulisan ini merupakan artikel keempat yang saya bahas seputar suku-suku di Papua. Sebelumnya, Dihai pernah membahas tentang suku Mee. Kalau tertarik, sobat bisa baca  tiga artikel berikut.
Selanjunya, saya berencana membahas tentang beberapa suku lainnya di Papua dalam blog ngawur ini. Pada postingan kali Dihai akan berbagi dan menulis tentang Suku Biak di Papua dengan mengacu pada bebera sumber. Berikut ini 8 Fakta Tentang Suku Biak di Papua yang Belum Anda Ketahui !

1. Nenek Moyang suku Biak adalah perampok dan Pelaut  yang ditakuti


Jika selama ini kita dengar di sekolah bahwa nenek moyang orang Indonesia dalah pelaut. Di Papua nenek moyang suku biak adalah pelaut sekaligus perampok yang disegani mulai dari perairan Raja Ampat sampai dengan kesultanan Ternate dan Tidore. Meraka merampok dan budak-budak hasil rampokan itu dijual ke sultan Ternate, Tidore dan di wilayah Mansinam ke para Zendeling. Uniknya lagi, mereka tercatatan berlayar sampai ke laut Jawa.

Pelayaran terjauh yang mereka lakukan, yang kita ketahui dari data data resmi, terjadi dalam tahun 1824 "di tahun 1824, kurang lebih 70 kapal perompak yang memakai penduduk asli Irian Barat sebagai budak atau pun pendayung, diketahui berada diperairan Banyuwangi (Jawa Timur)". Hal sama dikemuka lagi oleh Schoorl sebegai berikut.

Diberitakan, pada abad XVII dan XVIII ada aksi-aksi penjarahan seperti itu dari Raja-Ampat sampai timur laut Jawa. Pemimpinnya disebut mambri, pelafalan Biak dari momolé, gelar raja-raja Maluku sebelum mereka menjadi kolano. Ketiga istilah itu berarti pahlawan, orang hebat. Tetapi, mambri Biak hanya berarti pemimpin di laut, yang sekembali ke daratan pada waktu damai tidak mempunyai kekuasaan apa-apa.

Jadi, orang biak dahulu, setiap keturunan klan mempunyai perahunya sendiri, dan dengan perahu itu mereka menempu perjalanan-perjalanan laut yang sangat jauh. Dari proses itulah yang turut menaikkan wibawah masing-masing klen. Orang Biak dan Numfor dahulu melakukan pelayaran sampai ke pulau-pulau Maluku, bahkan Gorontalo (Sulawesi Utara), Timor, Seram, Nusa Laut, Buru dan Salayar pun mereka penah kunjungi.  Pelayaran itu mula-mula membentang sampai ke pulau-pulau Arimoa dan Kumamba, kemudian  sampai ke teluk Humboldt.

Dapat dipastikan bahwa sudah pada pertengahan abad ke- 15 orang-orang Biak dan Numfor sampai ke barat (kepulauan Maluku), sedangkan orang-orang Biak sendiri telah mengunjungi Tidore. Mungkin salah satu klan mereka ini adalah orang Sawai, yang menetap di Halmahera dan kemudian di Seram Utara.

Orang Numfor pada umumnya mengakui keunggulan orang Biak yang berkali-kali mereka minta untuk ikut dalam ekspedisi perompakan yang direncanakannya. Lebih lanjut, Kamma menyamakan Orang Biak dengan kaum Viking dari Eropa. Meraka itu kaum Viking dari Swandirwu", bagian timur Teluk Cenderawasih. Tetapi, mereka bisa dikendalikan oleh Injil. Kami sengaja menyamakan orang Biak ini dengan orang Viking di Eropa Barat laut menjelang dan sesudah masa mereka menjadi Kristen. Tetapi, dalam segala hal orang Biak itu lebih baik daripada orang Viking dari Norwegia dan Denmark. Karena orang-orang Biak itu lain cita-citanya.

Pelaut-pelaut Biak dan Numfor bahkan pergi sampai Banda, kepulauan Tanimbar dan Buru, dengan berpedoman: "wanita kita bawa, laki-laki kita bunuh". Di sana para budak kadang-kadang tinggal diperkampungan tersendiri. Beberapa waktu lamanya budak-budak pun dipakai sebagai hadiah kawin, untuk wanita yang tinggi kedudukan sosialnya, harus dibayarkan 10 orang budak. Selain itu budak-budak ini juga dijual kepada pemerintah di Teluk Doreh.

Meskipin begitu, sesudah dikenali lebih dekat. Ternyata orang Biak memiliki ciri watak yang mengundang lawan bicaranya untuk bersikap terbuka pula. Reaksi mereka pada umumnya positif sejauh menyangkut hubungan antar-manusia. Orang Biak tidak hanya biasa mencetuskan emosi-emosi mereka secara bebas, akan tetapi mereka mengetahui seni mendengarkan apa yang dikatakan orang lain.

2. Suku Biak merupakan Suku Perantau di Papua


Selain pengaruh dari luar, diakui bahwa sejak dahulu orang-orang Biak telah mengadakan pelayaran jauh ke daerah-daerah bagian Barat Maluku, Tidore, Halmahera dan bahkan laut Jawa. Mereka ini para pelaut ulung yang mengarungi laut luas mulai dari pesisir pantai Utara Papua hingga daerah Kepala Burung serta kepulauan Raja Ampat telah disinggahinya.

Sriyono (2006:48) orang Biak memiliki filsafat bersaing untuk mendapatkan kesuksesan dalam hidup. Bertolak dari fanandi, yaitu berlayar keluar dari tempat tinggalnya untuk mencari penghidupan. Setiap individu dapat memperlihatkan kemampuannya dengan tujuan untuk memperoleh kesuksesan dan pengakuan kecakapan.

Budaya orang Biak tersebut tecermin lewat perilaku Beruruef. Sebagai anak yang berbakti, ia berusaha untuk memenuhi perintah orang tuannya. Ia rela melakukan perjalanan jauh dari Mamsi ke Sarawani walaupun ia harus menghadapi  berbagai  kendala  dan  rintangan alam. Perjalanan jauh dan ombak besar merupakan tantangan yang harus ditaklukkan  oleh  Beruruef.

Proses jiwa bersaing yang tinggi dan berani mengambil resiko dalam merampok dan menghadapi rintangan alam inilah yang di gambarkan Kamma sebagai berikut.

Orang-orangnya tersohor keganasannya karena suka mengayau, mereka terkenal sebagai pelaut yang tangguh, tak gentar menghadapi bahaya. Penduduk pulau Biak semakin terpecah-belah di bidang kemasyarakatan maupun keagamaan sehingga mereka itu berperang terus juga dengan sesamanya. Disebabkan keadaan itu, kelompok-kelompok yang lemah menyingkir ke tempat-tempat lain, misalnya ke pulau Numfor dan ke tempat-tempat yang lebih jauh lagi sepanjang Kepala Burung dan daerah Raja Ampat.

Numfor dan Raja Ampat telah banyak bermukim orang Biak dan lama-lama jumlah mereka telah melampauhi jumlah penduduk asli. Bukan hanya di wilayah Barat Papua tetapi orang Biak hampir dengan mudah di temukan di seluru pelosok Papua dan bahkan orang tua angkat Dihai sendiri pun Orang Biak.

3. Tokoh Legendaris Biak Bernama Gurabessi


Mambri (sebutan pahlawan) merupakan salah satu tokoh dari Biak yang ditakuti di perairan Papua sampai dengan kesultanan Ternate dan Tidore. Ia adalah pelaut sekaligus bajak laut yang memimpin pasukannya berperang dan merampok melalui jalur laut.

Karena hal itu pula pada tahun 1649, waktu VOC sedang berperang dengan Tidore, datanglah suatu armada yang terdiri dari 24 perahu ke Tidore dengan membawa bahan makanan. "Kapal-kapal kecil itu datang dari kepulauan Irian untuk membantu raja Tidore, di bawah perintah seorang yang bernama Gurabessi". (Gurabessina adalah tokoh legendaris yang terkenal dari sejarah Biak)

Pada awal Februari 1908 dua orang guru agama yang bernama Petrus Kafiar dan Andreas de Fretes  bersama beberapa orang dari teluk Doreh singgah di Numfor. Sampai di sana, penduduk setempat menyuruh meraka segerah pergi karena ada berita bahwa seorang bajak laut dari Biak yang terkenal keganasannya (Mambri Manggamumi) sedang dalam perjalanan menuju tempat mereka.

Pertrus pun berkata kepada Andreas Biarlah kita menghadapinya dan menundukkannya dengan Firman Tuhan. Mereka menemui Manggamumi dan manggumipun berkata  sambil menyerahkan lembingnya (tombak) dengan mengatakan: Berikanlah ini kepada Tuan (yang dimaksudnya zendeling) dan katakan bahwa saya mendambakan perdamaian, baiklah ia datang mengadakan perdamaian 
Proese itupun berujung pada perdamaian, maka tidak salah jika para penginjil ini mengatakan bahwa injilah yang mampu menaklukan kaum Viking dari Papua itu.

4. Budak yang Membawa Pengaru kepada Bangsanya.


Di masa awal ada dua orang asli Biak yang berjasa dalam penyebaran agama kristen di Biak. Nosseni Kafiar dari Maudori dan Manyosi Kyambo dari  kampung Wari. Sejak kanak-kanak mereka ini dijual sebagai budak kepada para zendeling di teluk Doreh. Kemudian meraka dididik dan dikirim ke Jawa, Depok untuk bersekolah. Dari situlah nama mereka diubah menjadi Petrus Kafiar dan Willem Rumainum.

Willem Rumainum. Pada waktu masih kanak-kanak ia telah diculik oleh orang Biak penduduk kampung Wari (jadi oleh orang-orang sebangsa) dan dijual dengan harga dua buah anting-anting emas kepada tetangga Van Hasselt di Mansinam, di sana ia bersekolah dan di tahun 1904 dikirim ke Depok untuk dididik, di mana ia telah memperoleh ijazah sebagai guru. Dia juga menghadiri upacara pembaptisan itu. Ia menyaksikan bagaimana ayahnya dipermandikan, juga saudara-saudara lelaki dan perempuanya. Guru Willem Rumainum yang telah kami sebut di muka waktu itu diminta menjadi guru di kampung Wari. Kampung inilah yang pernah menculik dia ketika ia masih kanak-kanak.

Kemudia juga Pertus Kafiar ketika masih kanak-kanak ia ditangkap oleh orang-orang senegerinya dan dijual kepada tetangga Van Hassel dan setelah menyelesaikan sekolah Guru di Depok, Jawa dan kembali ke sana. Pada hari Minggu tanggal 26 April 1908 Van Hasselt mengukuhkan Petrus Kafiar sebagai guru pertama di Biak di kampung Maudori (Urembo).

Proses ini digambarkan sebagai berikut:

Dalam usahanya menolong orang-orang yang terdampar, Geissler dan Van Hasselt Sr. pernah mengunjungi Numfor dan pulau Biak. Perjumpaan  langsung juga terjadi, bila mereka mencoba hendak menjual budak-budak yang mereka culik di Teluk Doreh; kadang-kadang yang mereka jual anak-anak, di masa paculik juga sesama anggota suku. Di antara anak-anak yang diculik oleh orang-orang Biak itu terdapat Nosseni Kafiar dari Maudori dan Manyosi Kyambo (Rumainum), yang telah mereka jual di Mansinam. Keduanya ini di kemudian hari akan memegang peranan yang besar dalam usaha menyebarluaskan Injil di Biak. Tetapi waktu itu mereka sudah mendapat nama baru, yaitu: Petrus Kafiar dan Willem Rumainum. Kedua-duanya telah mendapatkan pendidikan di Depok, Jawa.

5. Keramik menjadi benda Pusaka Nenek Moyang Orang Biak


Kita kenal pada poin-poin sebelumnya bahwa suku biak merupakan perantau, pelaut dan perampok yang paling di takuti maka dalam perjalanan kembali ke kampungnya tidak jarang benda-benda keramik asing atau sebutan orang Biak “benbepon” dan kain tekstil “sananpun”, mereka ambil dan bawa pulang.

Sebagai akibat adanya kontak dengan dunia luar tersebut maka terjadi perubahan dalam segi kehidupan materi orang Biak.
Ararem tradisi antar mas kawin suku[Image:Source]
Orang Biak mengklasifikasikan keramik asing/benbepon secara umum menurut umur, motif, bentuk dan bunyi benbepon. Dari segi fungsi  dalam tujuan penggunaan keramik ini pun dibagi kedalam beberapa bagian yakni:
  • Dipergunakan untuk pemakaian harian, perhiasan pada rumah
  • Dipergunakan untuk perayaan khusus keluarga karena dianggap istimewa, yaitu untuk mengisi makanan petatas, keladi dan lainnya.
  • Dipergunakan sebagai alat-alat upacara/ upacara wor 
  •  Sebagai alat-alat upacara rambut/kapanaknik
  •  Untuk pembayaran mas kawin, 
  • sebagai alat tukar (barter) pada jaman dulu.
  • Dipergunakan sebagai bekal kubur, yang mana keramik ini dipecahkan di atas kubur, yang menandakan status sosial  orang yang meninggal tersebut.

Nampaknya, saat ini beberapa  dari poin-poin pada daftar di atas ini, mulai mengalami pergeseran yang siknifikan. Dari hasil penelitian Rini Maryone menyimpulkan bahwa:

Kedudukan dari keramik asing/benbepon pada saat ini telah mengalami perubahan. Dimana kedudukan keramik asing tersebut telah dipengaruhi oleh uang, sehingga nilai uang telah dijadikan sebagai maskawin. Beberapa hal menyebabkan perubahan-perubahan tersebut antara lain: benda tersebut sangat berkurang jumlahnya dalam masyarakat, benda tersebut oleh kelompok klen, menganggap sebagai warisan nenek moyang sehingga tidak digunakan sebagaimana mestinya akan tetapi disimpan sebagai benda pusaka.

Demikian halnya pada pelaksanaan upacara-upacara adat wor, upacara gunting rambut/kapananik, yang mana benbepon sebagai benda pembayaran telah diganti dengan sejumlah uang. Seperti sebuah ladang keladi atau petatas, tidak lagi dibayar dengan benbepon dan sarak melainkan telah dibayar dengan uang.

6. Orang Intelek pertama di Papua Berasal dari Suku Biak


Bagaimanapun juga pulau Biak adalah tempat yang pertama kali melahirkan orang pintar di Papua. Dalam artian tokoh intelek pertama di Papua berasal dari orang Biak. Johsz Mansoben, seorang ahli antropologi Irian Jaya yang pertama-tama menamatkan pendidikan Doktor antropologi di Universitas Leiden, Nederland.

Selain itu dikalangan penginjil (Pendeta) pada tahun 1947 FJ.S. Rumainum yang di utus untuk pendidikan selama empat tahun di Sekolah Teologi Makasar dan kembali dari sana tahun 1951. Ia pun diangkat menjadi pemimpin resort di seluruh Biak. Hal ini berarti, pertama kalinya seorang pendeta Irian yang berpendidikan dibebani tugas memimpin. Dan ketika GKI-Irja berdiri sendiri, gereja itu pun memilih Rumainum menjadi ketua pertama.

7. Biak Melahirkan Banyak Tokoh Papua. Pro Papua merdeka maupun Pro Indonesia


Biak juga merupakan-daerah asal tokoh-tokoh yang memihak Indonesia ketika pemerintah Belanda masih berkuasa, yaitu antara tahun 1944 dan 1961. Sebut saja Frans Kaisepo, Johannes Abraham Dimara, Markus Kaisepo dan Silas Papare yang sebenarnya berasal dari Serui tapi karena bertugas di Biak maka Koentjaraningrat(1993:103) memasukkannya sebagai salah seorang tokoh Irian Jaya  dari Biak yang memihak kepada Indonesia. Silas Papare adalah seorang juru rawat yang berasal dari Biak dan pro Indonesia.

Dari beberapa nama di atas, belum lama ini jasa Fras Kaisepo diabadikan pada uang Rp. 10.000 rupiah. Kondisi pro Indonesia ini dilihat pula dari berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PMI) di Biak dengan ketua Lukas Rumkorem dan wakil Marinus Krey serta sekretaris Petrus Warikar waktu itu.

Tapi anehnya, Orang Biak juga merupakan salah satu suku di Papua yang pernah merasakan keblutaran militer Indonesia.

Seperti dikutip tabloidjubi.com Pada kasus Biak berdarah (Juli 1998) berdasarkan investigasi yang dilakukan Lembaga Studi dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELS-HAM) Papua yang berjudul: Nama Tanpa Pusara, Pusara Tanpa Nama. Melaporkan bahwa meninggal dunia 8 orang, hilang 3 orang, luka berat 4 orang yang sempat dievakuasi ke Makassar dan Sulawesi Selatan. Luka-luka 33 orang, penahanan sewenang-wenang dan penyiksaan 50 orang serta 32 mayat misterius di temukan terdampar hingga di perairan Papua Nugini (PNG). Poin ini seakan tidak cukup kontribusi suku Biak terhadap Indonesia.

Hal yang tidak kalah urgen adalah belum lama ini pahlawan dari Papua, Biak yang diabadikan pada uang Rp.10.000 ini pun tidak luput dari cacian beberap orang di negara ini. Ada yang menolak uang tersebut dan melontarkan kata-kata seperti, pahlawan kafir, mirip monyet dan bahkan uang hantu.

Dilain sisi, tindakan Indonesia ini seakan mendukung pernyatan salah satu tokoh Papua  Dr. Banny Giyai bahwa:
Dihaimoma.com
Dr. Beny Giyai [Image:Source]

  • Biak juga melahirkan banyak tokoh pro Papua merdeka yang berjuang sampai akhir hayat dan ada pula yang masih berlangsung sampai saat ini. Mereka adalah Viktor Kaisepo, Filip Karma, Jhon Rumbiak, Jacob Rumbiak, , Zeth Yefet Rumkorem dan kawan-kawannya. Bahkan Sidang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) TPN-OPM yang sangat elit itu pun berlangsung di Markas TPN-PM Perwomi Biak pada tanggal 1-5 Mei 2012. Acara ini diikuti oleh seluru Peserta TPN-OPM Se-tanah Papua.

8. Beberapa Penamaan ini di Angkat dari Bahasa Biak


Pada bagian sebelumnya telah kita ketahui bahwa orang Biak merupakan salah satu suku pelaut sekaligus bajak laut dan perantau di Papua yang sangat terkenal maka tentunya pengaru mereka di Papua, terutama wilayah Barat begitu nampak. Dari proses perjalanan itu, banyak terdapat bebera hal yang diserap dari bahasa Biak. Berikut ini beberapa nama yang diangkat dari bahasa Biak.

Para ahli bahasa mengelompokkan bahasa-bahasa di Papua menjadi dua rumpun besar dengan masing-masing sub rumpunnya. Bahasa Aunstronesia dan non austronesia. Bahasa Biak masuk dalam rumpun Non austronesia.

Nama Soron Menurut Wikipedia berasal dari bahasa Biak-Numfo yang memberi nama "Daratan Maladum " dengan sebutan “Soren” dan kata ini dilafalkan para pedagang Tionghoa, misionaris clad Eropa, Maluku dan Sangihe Talaut dengan sebutan Sorong. Dari situlah nama ini kemudian menjadi terkenal dan dikenal banyak kalangan.

Asal-usul nama Irian pun dari bahasa Biak. Sebenarnya nama Irian itu sendiri salah, yang benar adalah "Iryan". Jadi, bukan Irian. Nama ini diusulkan loleh Fras Kasiepo dalam Konperensi Malino tahun 1946. Dalam bahasa Biak kata itu berarti "sinar matahari yang menghalau kabut di laut", sehingga ada "harapan" bagi para nelayan Biak untuk mencapai tanah daratan Irian di seberangnya. Dipihak lain, presiden Soekarno konon mempopulerkan kata "Irian", dan bukan Iryan, karena kata yang pertama dapat dianggap sebagai singkatan dari "Ikat Republik Indonesia Anti Neclerland.

Asal-usul nama Pantai Pasir Putih atau Yen Beba di Manokwari. Pantai ini pun diangkat dari bahasa Biak. YEN dan BEBA. Yen berarti pasir dan Beba berarti besar. Soal ini penah Dihai ulas dalam Artikel  berikut:

Baca juga: 5 Tempat Wisata Terbaik di Manokwari Papua Barat

Kesimpulan


Suku Biak di masalah lalu merupakan suku pelaut dan perampok yang oleh Kamma diibaratkan sebagai kaum Viking dari Eropa. Meka tidak mudah mempercayai orang dan bahkan dipandang keras dan mengundang lawan bicara oleh para penginjil tetapi di lain sisi meraka mengenal seni mendengarkan yang baik dan soal kemanusiaan mereka selalu bersikap positif.

Terlepas dari semua itu mereka pula yang pertama melahirkan pendeta orang asli Papua. Meraka pula yang pertama berintraksi dengan orang luar, mereka pula yang melahirkan orang intek pertama dari Papua dan meraka pula yang banyak memproduksi para tokoh nasionalis Papua dan Indonesia. Dan bahkan mereka di akui pula oleh para penginjil sebagai suku yang keras tetapi pendengar yang baik dan hanya injil yang mampu menaklukan mereka.

Semua itu membuktikan sehabis hujan selalu ada pelangi yang mampu memberi kedamaian. Setelah gelap selalu ada mentari yang membawa energi sumber kehidupan bagi makluk. Tugas kita hanya menjalani sambil belajar dari masa lalu untuk kita hari dan untuk meraka di kemudian hari.

Masa lalu merupakan cermin untuk langkah di hari ini dan langkah hari ini merupakan cermin bagi generasi mendatang. Kita harus tahu bahwa manusia bukan hanya mengenal 3 dimensi, masa lalu, hari ini, dan juga masa depan. Sebenarnya, kita mengenal 4 dimensi. Dimensi ini adalah dunia kehiduan setelah kematian.

Mungkin kita bertanya, seperti apa kehidupan setelah kematian karena ketidaktahuan kita tetapi sebenarnya proses itu sama halnya dengan saat kita dikandungan ibu. Kita pernah di sana, tetapi tidak kita ingat seperti apa kita di sana.

Artinya, semua yang tidak mampu kita bayangkan dan jangkau bukan berarti tidak ada. Mungkin hanya perbedaan dimensi kehidupan yang membuat seperti itu. Maka, tujuan mempelajari masa lalu, hari ini dan masa depan merupaka bekal kita untuk menuju dimensi keempat, karena keempatnya tidak dapat kita pisahkan.

Suku Biak dulu bukanlah  suku Biak yang sekarang. Artikel ini hanya merupakan rangsang supaya generasi muda Biak, tidak lupa mempelajari sejarah kebudayaannya. Dalam penyajiannya penulis juga belajar menganal suku Biak dengan sumber yang dapat dijadikan sebagai pijakan. Jadi, jika terdapat ketidak sesuai maka mari kita sama-sama saling belajar dan terutama belajar tentang tanah Papua tercinta.

Kalau ada kesempatan, pada artikel berikutnya Dihai akan berbagi fakta seputar Pulau Biak. Jadi,  Sob jangan lupa berkujung di Blog Ngawur ini ya!. Terima kasih.


Sumber acuan Artikel:

[1] Lihat Ahmad Tafsir " Filsafat Umum"
[2] Kamma.1981. Ajaib di Mata Kita  Jilid I. Bekasi. BPK Gunung Mulia.
[3] Kamma.1982. Ajaib di Mata Kita  Jilid II. Bekasi. BPK Gunung Mulia.
[4] Kamma.1993. Ajaib di Mata Kita  Jilid III. Bekasi. BPK Gunung Mulia.
[5] Rini Maryone. 2009. Fungsi Keramik Cina Bagi Masyarakat Biak: Jurnal Arkeologi. Papua Papua Vol. 1 No. 2 / November 2009
[6] Koentjaraningrat 1993. Irian Jaya Membangun Masyrakat Majemuk. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm 103-104, 4
[7] Alua Agus. Papua Barat dari Pangkuan ke Papua (Sutu iktisar kronologis) (Jayapura: Sekretariat Biro penelitian STFT Fajar Timur,2006 Dewan Papua dan  Dewan, 2006.

Dihaimoma
Dihaimoma Menulis Updated at: November 21, 2017

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.
EmoticonEmoticon