0

Perjungan Papua Merdeka Tidak Akan Pernah di Padamkan Indonesia

Dari berbagai isu di Papua, persolan Papua merdeka menjadi isu yang tidak akan penah habis untuk dibahas dan dipadamkan. 


Mengapa?

Kita tahu, selama ini sudah banyak orang yang menganalogikan persolan tuntutan kemerdekaan Papua dengan kanker jinak di tubuh Indonesia, luka busuk di tubuh Indonesia dan masih banyak lagi. Selain itu, setiap tahunnya pasti saja isu ini kembali mengganggu tidur nyenyak Jakarta.


Semua ini menjukkan bahwa keinginan untuk merdeka dari rakyat Papua tidak bisa ditawar dengan pembangunan dan anak cucunya. Terlambat bagi Indonesia membangun kepercayaan dan kecintaan masyarakat Papua akan Indonesia. Akhirnya, setiap pembangunan dan kemajuan sebesar apapun yang Jakarta berikan kepada orang Papua akan dipandang sebagai implikasi dari tuntutan Papua merdeka. Yah, karena semua itu terjadi setelah sekian ribu orang Papua pro merdeka dibunuh secara sadis. Sebut saja, Theys Hiyo Eluay, Arnold AP, Kelikwalik, Mako Tabuni dan kawan-kawannya yang harus diantar paksa dengan tima panas.

Papua yang awalnya dipandang Indonesia sebagai masalah internal kini mulai melangkah dari lokal ke regional (kawasan pasifik) kemudian menjadi persoalan yang harus dibahas dalam forum-forum Internasional. Dunia mulai membuka mata akan kenyataan ini, mengerti bahwa ternyata Indonesia yang katanya sudah meratifikasi berbagai intrumen HAM harus berkali-kali dipertanyakan akan konsistensi dalam konstitusinya.

Lalu, apakah itu masalah internal? Tapi mengapa harus dipertanyakan terus? hal semacam inilah yang menunjukkan bahwa Indonesia tidak bisa mempertahankan Papuan hanya dengan jargon "Masalah Papua adalah masalah Internal"

Berangkat dari pertarungan poltik antara Papua dan Indonesia di forum-forum internasional yang kian hari kian mendunia ini, Dihaimoma merangkum beberapa poin yang harus rakyat Papua renungkan terhadap proses kemajuan perjuangan Papua.

1. Perjalanan Panjangan Menuju Kemerdekaan Papua 

Soal Papua merdeka bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan tetapi bukan berarti tidak bisa sama sekali membalikkan telapak tangan. Kita hanya membutuhkan kemajuan dalam segala kekurangan dan penindasan penguasa.

Perjuangan Papua tidak semudah para elit Papua mengajukan pemekaran wilayah di Papua dengan memanfaatkan isu Papua merdeka, tanpa mempertimbangkan PHD dan SDM yang mampu mengelolah SDA. Perjuangan Papua tidak semudah mengatur lajunya transmigrasi yang terus membludak di seluruh pelosok negeri akibat ketidak tahuan para elit Papua mengatur wilayahnya. Perjuangan Papua tidak semudah para elit Papua meminta pemekaran dan ketika terjadi bentrok antar masyarakat, para elit Papua yang tunduk dibawah Jakarta ramai-ramai menyalahkan masyarakat. Kita tidak sebodoh itu.

Perjuangan ini masih panjang. Sebagia telah kita lewati dan hari ini, dari anak-anak kita telah tumbuh menjadi remaja meski belum memasuki dewasa. Sebagai bagian dari proses hukum alam, kita harus melewati setiap tahap dalam pertumbuhan tidak bisa kita dari kecil langsung dewasa. Saat ini adalah momen dimana kita sedang menjemput kedewasan itu. Kedewasaan dalam mengatur diri sendiri, mengatur bangsa dan rakyat Papua, serta mengatur bangsa-bangsa lain di dunia. Kita tumbuh dalam berpolitik, tumbuh dalam membangun stategi, dan bertumbuh dalam mempertahankan serta membangun ideologi dan identitas kita sebagai manusia Papua yang bermartabat.

Jangan pernah berharap dan bermimpi akan menikmati kemerdekan ini. Kemerdekaan yang sesungguhnya akan dirasakan anak cucu kita dikemudian hari. Semua yang kita lakukan hari ini bukan nuntuk kita tetapi untuk anak cucu kita. Kita adalah orang-orang yang sadar dan mengerti bahwa beban ini tidak boleh kita tingggalkan untuk anak cucu kita. Kita merupakan penentu  bukan penikmat kemerdekaan Papua. Jangan diam, jangan lelah dan jangan merasa pongah. Buatlah apa yang anda bisa untuk mereka dikemudian hari. Tinggalkan kebahagian untuk mereka dikemudaian hari agar mereka duduk sejajar dengan bangsa lain di dunia.

Tetaplah dalam barisan, kemerdekan ini harus dijemput, demi dan untuk anak cucu kita. Jika tidak, Papua dalam Indonesia Besok Orang Papua Akan Jual Diri


2. Tidak Ada Pencuri yang akan Berteriak bahwa Dirinya Adalah Pencuri

Berdasarkan riset kecil-kecilan yang Dihai lakukan di Om google beberapa hari lalu. Informasi penolakan petisi rakyat Papua oleh komite dekolonisasi PBB atau yang dikenal dengan C24 menjadi trending topik di google selama beberapa hari. Dari situ saya pantau lagi di media sosial. Mereka yang NKRI harga mati, merasa legah dengan penolakan itu dan turut membabat habis negara-negara pasifik-karibian yang menyuarakan nasib Papua, sedangkan beberapa orang Papua yang pro Papua merdeka, merasa kecewa dengan putusan itu. 

Dalam waktu yang hampir bersamaan, di forum PBB Indonesia menggunakan hak menjawabnya untuk membatah pernyatan 7 negara pada tahun 2016 dan yang terbaru 4 negara melalui dua diplomat cantiknya. Nara Masista Rakhmatia dan  Ainan Nuran. Keduanya dengan berapi-api  menyampaikan pernyatan mereka.

Bagi saya, wajar dan memang mereka dibentuk dan didik untuk itu tetapi pertanyaannya apakah benar apa yang mereka sampaikan?Dalam stategi politik yang digunakan, mungkin saja ada alasan Indonesia memilih para diblomat cantiknya untuk menjawab pernyatan  dari beberapa negara Pasifik-Karibian di forum tertinggi dunia itu. Kalau boleh berandai menurut Dihai ada dua hal yang harus kita pahami.

Pertama- Mengapa dalam dua kali hak menjawabnya, Indonesia menggunakan para diplomat cantik. Dalam konteks ini, kita dapat menafsirkan dari dua hal. Indonesia meremehkan negara-negara kecil yang mempertanyakan perlakukan Indonesia terhadap Papua dan meminta PBB untuk memberikan Hak kebabsan orang Papua. Artinya, Indonesia menganggap bahwa mereka ini negara-negara kecil yang tidak berpengaru apa-apa dalam sidang itu. Kedua untuk menunjukkan kemajuan dan keterlibatan anak mudanya, terlebih khusus perempuan dalam berbagai bidang di dunia internasional. Dalam hal persoalan Papua, itulah yang terbukti. Kita bisa lihat, misalnya tahun lalu ketika  JK sebagai wakil presiden berpidato,  tidak menyinggung sedikit pun tentang Papua dalam pidatonya.

Kedua- Kapasitas, validitas dan keakuratan informasi yang disampaikan kedua wakil Indonesia baik yang tahun 2016 maupun 2017 di sidang umum PBB patut dipertanyakan. Pertama karena muatan materi yang disampaikan tidak sejalan dengan apa yang dipertanyakan oleh 7 negara sebelumnya dan juga yang terbaru oleh 4 negara. Rata-rata dari mereka mempertanyakan pelanggaran-pelanggaran Ham berat di Papua dan Hak menentukan nasib sendiri bagi orang Papua. Hal ini sebagaima yang disampaikan PM  Solomon, Manasseh Sogavare dalam pidatonya di PBB bahwa pelanggaran Ham dan tuntutan untuk menentukan nasib sendiri merupakan dua sisi koin yang tidak bisa dipisahkan. Namun, apa tanggapan Indonesia melalui para diplomat cantiknya?

Berikut ini salah kutipan pernyatan Indonesia yang disampaikan pada tahun 2016 lalu di Forum PBB.

Komitmen Indonesia terhadap HAM tak perlu dipertanyakan lagi. Indonesia adalah anggota Dewan HAM PBB. Indonesia sudah menjadi anggota dewan tersebut selama tiga periode dan saat ini menjadi anggota untuk keempat kalinya. Indonesia adalah penggagas komisi HAM antar pemerintah ASEAN dan komisi independen OIC. Indonesia sudah meratifikasi delapan dari sembilan instrumen utama HAM. Semuanya terintegrasi dalam sistem hukum nasional kami dibanding dengan hanya empat negara kepulauan Salomon dan lima negara oleh Vanuatu.-Nara Masista Rakhmatia-

 Hampir-hampir mustahil pelanggaran HAM terjadi tanpa diketahui dan diperiksa -Nara Masista Rakhmatia-
Tapih toh, dalam tahun ini saja di Deiyai terjadi penembakan terhadap belasan warga dan salah satunya meninggal dunia. Anehnya, para pelaku dinyatakan bersalah dan hanya divonis pindah tugas dan meminta maaf kepada korban. Jadi sederhananya, nyawa orang Papua seharga minta maaf di Indonesia. Itupun karena informasinya cepata tersebar keberbagai media lokal maupun internasional, kalau tidak Indonesia akan Amnesia lagi.

Selain itu yang terbaru Sekretaris III Perwakilan tetap Indonesia untuk PBB, Ainan Nuran mempertanyakan pernyatan 4 negara atas pelanggaran HAM di Papua dan turut menyuarakan penentuan nasib sendiri  di PBB.
“Jika Indonesia memiliki sesuatu untuk disembunyikan dalam masalah hak asasi manusia di zaman sekarang ini, di era teknologi terbuka, semua orang akan tahu jika tuduhan semacam itu ada -Ainan Nuran-
Pernyatan-pernyatan seperti ini secara tidak sengaja Indonesia sedang memperjelas siapa dirinya di dunia Internasional. Melalui pernyatan-pernyatan seperti ini membuat banyak orang akan membuka mata atas kemunafikan Indonesia. Yah, kalau pernyataan seperti ini disampaikan dihadapan kami orang bodoh yang tidak memahami  apa-apa mungkin masih wajar, tetapi pada forum dimana para intelek dunia duduk dan juga masyarakat dunia dapat melihat dan mendengar setiap informasi yang disampaikan. Mereka tidak buta dalam hal ini.

Dimana letak ketidak akuratan matari yang disampaikan?

Satu hal yang harus diakui oleh Indonesia adalah jawaban Indonesia terhadap pernyatan beberapa negara itu sangat tidak singkron. Yang ditanya dan disinggung adalah soal pelanggaran ham berat  di Papua dan penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua. Tapi Indonesia menjawabnya dengan kata"tidak ada pelanggaran ham di Papua".

Selebihnya dipaparkan soal pembanguan, kesehatan, ekonomi dan lain-lain. Dari kasus pelanggaran Ham Berat di Papua, berputar haluan kepembangunan dan kesehatan. Seharusnya, Indonesia paparkan sekian pelanggaran ham berat di Papua sudah kami selesaikan dan sekian lagi dalam proses kami selesaikan dan lain-lain. Bukan paparkan sekian pembanguan dan kesehatan yang kami sudah kerjakan. Terlebih, soal hak hidup dan hak untuk berkumpul dan berserikat.

Mengapa pengalihahan itu terjadi?

Jawabannya hanya satu, Indonesia  bukan hanya gagal dalam menuntaskan kasus Ham berat di Papua tetapi tidak pernah sama sekali punya keinginan dan harapan di rana situ. Wong nyawa orang Papua saja seharga minta maaf kok. Pembunuh orang Papua (Theys) saja naik pangkat dan dapat jabatan kok. Jadi, tidak ada data pendukung argumen soal penuntasan kasus Ham, jadi cukup semua pernyatan itu  hanya dibalas dengan  awalan sepenggal frasa" Tidak ada. 

Bukan hanya itu kawan, bahkan soal keberhasilan pembangunan, kesehatan dan ekonomi di Papua  yang dipaparkan pun banyak yang mempertanyakan keakuratannya. Hal itu bukan saja dari orang Papua tetapi juga dari non Papua. Salah satunya  "Imam Alfian"yang juga sebagai Ketua Umum DPD IMM Papua. Ketua umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Papua ini dengan jelas menyoroti berbagai kebohongan dalam pernyataan Indonesia di PBB melalui artikel yang berjudul" Mempertahankan Papua Bukan Dengan Kebohongan" di website resmi mereka.



Kalau sudah tidak ada data dan giliran negara-negara dan badan-badan resmi lain yang lengkap dengan data mempermalukan Indonesia di forum-forum resmi Internasional, maka hanya dua hal yang akan Indonesia lakukan. Perkutan pertahanan di dalam negeri dengan mengutaman opsi militer di Papua dan  yang kedua berbohong lagi-dan lagi.

Naa..Soal opsi militer ini sudah kita tahu bahwa beberapa hari belakangan ini Pasukan elite polisi itu mengimpor senjata jenis pelontar granat sebanyak 280 pucuk dan amunisinya 5.932 butir untuk di gunakan dalam pengamanan di Papua dan beberapa daerah lainya. Kita tunggu  saja nyawa  orang Papua siapa lagi yang akan menjadi korban dari pebelian itu.

Kalau hasilnya sudah seperti itu maka benar apa kata para tokoh Papua. Tidak ada masa depan bagi orang Papua dalam Indonesia.

3. Nyalakan Terus Api Perlawanan

Perjuangan harus terus maju dengan cara apapun untuk memperjelas eksistensi keberadaan kami. Kalau api tidak menyala, mimal harus ada asap dan kalau tidak ada asap, minamal harus ada arang dan kalau tidak ada arang harus ada kayu bakar. Perjungan itu harus maju melangkah, kalau tidak bisa melangkah harus merangkak, dan kalau tidak merangkak harus ada yang berteriak.

Kita tidak pernah dipadamkan secuil pun, kita tidak perlu memikirkan berbagai berita yang mengatakan penolakan petisi Papua merdeka, karena bukan itu harapa dan tujuan utama kita. Tujuan kita adalah bagaiman membuat musuh malu dan berkaca pada diri sediri bahwa dia adalah penindas, tujuan kita adalah membuat mata dunia untuk melihat Papua dengan mata yang lebih manusiawi. Tujuan kita adalah menyadarkan lawan menjadi kawan. Karena perjungan kita bukan soal ras, bukan soal agama, bukan pulah soal pembanguan dan makan minum, tetapi jati diri serta harkat dan martabat sebagai bangsa yang diinjak  selama puluhan tahun.

Ingat rakyat Papua, PBB bukanlah penentu Papua merdeka atau tidak, tetapi PBB tempat dimana keputusan akhir lahir yang tentunya dari perjuangan kalian. Stop menaru harapan yang berlebihan terhadap PBB apa lagi harus kecewa dengan pemberitaan penolakan petisi oleh PBB yang diberitakan media-media ternama di negara ini. Semua itu hanya akan menciptkan suasana provokatif.

Rakyat Papua harus tahu, perjuangan ini bukan tentang besar atau kecil sumbangsimu terhadap perjuangan Papua tetapi soal apa yang sedang engkau memulai untuk kebebasan tanahmu. Bukan soal kritik dan saling menjatuhukan dan bukan pulah seberapa cepat Papua merdeka dan jangan pulah bertanya kapan waktunya Papua merdeka karena waktu itu angka dan angka itu tidak terbatas maka pertanyaan terbesar yang harus dijawab oleh masing-masing orang Papua adalah apa yang sudah saya perbuat untuk Papua?

Karena hak yang paling hakiki atas setiap individu adalah hak untuk hidup, sedangkan untuk sebuah bangsa adalah" Kemerdekaan itu Hak segala bangsa. Rebut hakmu sekarang juga atau mati tanpa jejak dan bebakas dalam sejarah hidupmu.

4.Tidak ada tempat untuk Indonesia Bersembunyi

Seperti pada pebuka artikel ini bahwa perjuangan Papua telah memasuki usia remaja dalam hal berpolitik dan berdiplomasi. Saat ini kita sedang maju berkembang, bukan dipukul mundur. Perjuangan ini semakin beranjak dewasa. Kita hanya membutuhkan taktik dan jalan  diplomasi yang lebih terstruktur dalam kebersatuan berbagai pandangan. Kita telah lahir kembali dalam ULMWP demi satu tujuan yang kita cita-citakan. Kita hanya butuh membuka topeng Indonesia yang semala ini vokal menyuarakan Ham di berbagai negara, tetapi di balik itu berserakan tulang belulang orang Papua.

Indonesia tidak akan ada tempat untuk terus bertahan dari topeng diwajahnya. Kita lihat isu Papua sudah mulai dibahas di berabagai forum PBB itu merupakan kemajuan yang membuat Jakarta keringat dingin meskipun PBB bukan penentu kemerdekaan Papua.

Langkah Apa yang akan di tempuh Indonesia?

Di poin ini saya akan membagi taktik politik yang mungkin akan digunakan Indonesia setelah merasa terjepit dalam tekanan. Pertam akan perkuat basis pro NKRI di Papua untuk menambah Dosa Indonesia atas Orang Papua. Kedua kesempatan yang seluas-luasnya bagi generasi Papua dalam segala bidang dan yang ketiga, yah mencari kesempatan dalam kesempitan. Seperti dialog sektoral Papua-Jakarta yang belum alama ini digagas dan hasil meski belum terlaksana Indonesia sudah memaparkan rencana itu di sidang ham PBB. Artinya, program yang tidak lebih untuk pencitraan diri di dunia internasional dan yang ketiga adalah opsi militer secara masal dan menyeluruh.

Kita tahu soal opsi militer ini bangsa Indonesia memiliki sejarah kelam. Timur Leste yang jelas-jelas bukan hak miliknya saja pernah di Invasi. Maka jangan salah wartawan tirto.id dalam artikelnyan yang berjudul "Mengingat Referendum, Jalan Panjang Kemerdekaan Timor Leste" mengakhiri tulisannya dengan sepenggal kalimat bahwa:
Timor Leste yang pernah dianeksasi Indonesia, bangsa yang juga lahir karena melawan kolonialisme. Menyebut "Timor Timur lepas dari wilayah Indonesia,” tidaklah tepat, sebab sejak awal sebagian besar mereka ingin mendirikan negara sendiri, yang kemudian malah dicaplok wilayahnya oleh Indonesia dengan cara tidak sah. 
Ini adalah cerminan Indonesia atas ratusan ribu nyawa orang Tumur Leste yang mati karena kerakusan Indonesia dan melakukan invasi militer untuk mencaplok Timur Portugis dengan kekuatan militer yang dibantu negara-negara blok Barat.. Artinya, meski  hari ini sekian ribu orang Papua telah menjadi penyumbang minyak bumi, pasti saja akan ada lagi korban orang Papua lebih besar di tangan militer Indonesia. Kita tidak perlu takut untuk hal itu, tak ada manusia yang kekal, hanya nama dan jasa yang tetap abadi.

Dia akhir artikel ini kita harus pahami bahwa tidak ada tempat untuk indonesia bersembunyi dari dosa-dosanya yang terus meminta nyawa  orang Papua.
Dihaimoma
Dihaimoma Menulis Updated at: October 05, 2017

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.
EmoticonEmoticon