Filosofi IHOBAI dari Suku Mee di Pedalaman Papua - Dihaimoma Menulis

Filosofi IHOBAI dari Suku Mee di Pedalaman Papua

- 22:18:00

Dihaimoma menulis

                                                  Article by, Tebai Natto.


Tulisan ini mengenai filosofi hidup orang Mee (suku mee) di pedalaman Papua, tentang pengembalian bibit. Sistem ini bisa disebut sebagai balas jasa. Biasanya, yang sering dilakukan adalah pengembalian bibit ternak, tanah atau dengan memberikan wanita untuk diperistri. Kadang juga terjadi pasca perang sebagai bentuk perdamaian berupa upacara adat, tapi itu sangat jarang terjadi 



Orang Mee mengenal Filosofi ini dengan istilah ihobai. Dalam tahap Ihobai, orang mee mengenal dua subtahap pengembalian, yaitu tahap pertama dan tahap terakhir. Tahap pertama dikenal sebagai Epawa dan tahan terakhir dikenal dengan istilah Kidibadi.


Lalu, apa itu Ihobai, Kidibadi, dan Epawa ? bagaimana ihobai terjadi, kapan ihobai ini ada ? apa manfaat dan pengaruhnya sekarang. Semua akan dibahas secara singkat dalam artikel ini. Chek rhis on.

Apa itu Ihobai ?



Secara harfiah dalam bahasa Suku Mee, khususnya untuk daerah Mapiha pada umumnya (Siriwo, Mapiha, Pihaihe, Topo dan Wanggar). 
IHOBAI diartikan sebagai, Pengembalian Bibit. EPAWA Artinya, Pemberian ihobai tahan pertama. KIDIBADI artinya, Pemberian ihobai tahap akhir. Dan tentunya proses ini dilakukan sebagai bentuk ungkapan terima kasih dari pihak penerima.

Dari pengertian di atas, maka Ihobai merupakan filosofi hidup atau gaya hidup orang Mee di pedalaman Papua tentang bagaimana mengembalikan (membalas) pemberian bibit ternak atau pemberian sesuatu barang. Jadi, sederhananya, proses balas jasa dari sang penerima kepada sang pemberi itulah yang di sebuat IHOBAI. 

Dalam prakteknya, pemberian bibit (ihobai) biasanya berupa ternak, wanita untuk diperistri, atau sebidang tanah untuk bercocok tanam. Yang pastinya dilakukan sebagai ungkapan terima kasih atau sebagai ungkapan balas budi.

Baca Juga:

Siapa yang Layak Mendapatkan Ihobai ?
Tidak sembarang orang boleh mendapatkan bibit (ihobai) dari yang punya. Pastinya ada syarat tertentu yang dimiliki oleh si penerima. Sehingga ihobai dapat diberikan padanya. Misalnya, kelebihan yang dimiliki oleh penerima ihobai, seperti rajin berkebun. Pastinya orang akan tahu bahwa dalam kehidupannya pasti tak akan ada lapar. Karenanya, dia berhak mendapatkan bibit (ihobai).


Pada saat orang yang punya ternak atau wanita memberikan bibit ternak atau wanita, pasti ada suatu kesepakatan yang disepakati antara kedua bela Pihak. Nantinya, kesepakatan itu menjadi tanggung jawab moril  si penerima untuk kelak dikembalikan sebagai ungkapan balas budi.



Tahapan Pemberian Ihobai


Pada saat memberikan bibit (ihobai), ada dua tahapan pemberian yang sering orang Mee lakukan. Terutama bagi orang Mapiha, bagaian pegunungan Weyland, yaitu Epawa (tahap pertama) dan Kidibadi (tahap terakhir). Semuanya dilakukan dengan penuh rasa berterima kasih dari pihak penerima ke pihak pemberi ihobai. 



Jika pihak penerima ihobai tidak melakukan pengembalian/balas budi/kebaikan pada pemberi ihobai maka hukuman alam (murka) akan berpihak pada pemberi Ihobai. Hal yang akan terjadi dipihak penerima misalnya seperti seperti matinya ternak, keluarga berantakan, tidak ada keturunan bahkan meninggalnya anggota keluarga. Karenanya, ada hukuman yang akan ditanggung jika sang penerima melanggarnya kesepakatan mereka.



Sejak Kapan ???


Filosofi ini sudah ada sejak nenek moyang suku Mee di wilayah meepago (pegunungan tengah papua). Gaya hidup ini telah banyak menguntungkan sesama kelompok dan telah menjadi sistem perekonomian rakyat yang baik sejak dulu. Selain itu, dengan memberi wanita, ihobai juga telah membawa keturunan yang banyak pada suku mee.  


Gaya hidup ini biasanya dipakai oleh para orang dulu untuk mengangkat ekonomi dan kesejahteraan kehidupan sesama mereka. Pada umumnya, terjadi dari orang yang punya (kaya) kepada yang tidak punya. Pemberian bibit ternak, tanah dan wanita biasanya untuk mengangkat ekonomi dan kesejahteraan dan keberlansungan hidup seseorang. Untuk kasus pasca perang, dikenal dengan istilah teto dei.



Teto dei juga bagian dari ihobai sebagai perdamaian. Namun tidak dibahas dalam tulisan ini. Tulisan ini lebih menjurus pada gaya hidup orang Mee tentang Ihobai yang menyangkut pemberian bibit ternak, suatu barang, atau wanita sebagai istri. Lebih jauh lagi, tentang bagaimana proses dan tahapan pengembalian bibit, wanita sebagai balas budi antar sesama suku mee itu terjadi.

Proses pengembalian ihobai

Ihobai tadi kita kenal sebagai pengembalian bibit, wanita atau sesuatu barang yang sama atau berbeda kepada pihak pemberi sebagai rasa berterima kasih atau balas budi. Tahapan  pengembalian ihobai dikenal dengan sebutan epawa dan kidibadi. Mari kita bahas bersama.

Misalnya pada Ternak. Seorang kaya (Tonowi) memberikan 1 ekor ternak betina. Penerima Ihobai ini akan menerima dan memelihara ternak tersebut hingga ternak  tersebut berkembang biak. Sebagai balasannya, maka penerima Ihobai akan memberikan sepasang ternak sebagai ucapan terima kasih atau balas budi (pengembalian bibit/ihobai). Tahapan pertama pemberian sepasang ternak ini disebut, Epawa.

Pada tahap berikutnya bila ternak itu beranak lagi dan menjadi banyak sehingga membuat penerima ihobai menjadi kaya/banyak ternak (tonowi) maka penerima bisa memberikan lebih dari sepasang ternak sebagai balas budi atau rasa berterimakasih. Proses Ini dikenal sebagai pemberian akhir, yaitu Kidibadi. Pada tahap ini, kedua belah pihak saling memberi dan menerima sebagai akhir dari pemberian ihobai (pengembalian).


Pada tahap pengembalian ihobai, tidak harus sama dengan apa yang si pemberi berikan kepada sang penerima. Si penerima ihobai biasanya juga memberikan sesuatu yang lain. Misalnya, seorang wanita dalam keluarganya untuk dijadikan istri atau sebidang tanah untuk bercocok tanam atau sesuatu yang bisa dikembangbiakan.

Perbedaan Ihobai, Utang Piutang dan Barter.

Filosofi Ihobai sangat berbeda dengan utang piutan dan jenis transaksi tukar meukar barang (barter). Memang ihobai, Utang piutang dan barter memiliki satu kesamaan, yaitu ada sesuatu yang harus dikembalikan. Ihobai mampu memberi sesuatu yang lebih berharga dari proses barter, Misalnya, dengan memberi wanita kedua marga yang tadinya tinggal berjauhan atau tidak terikat secara emosional bisa menjadi satu keluarga untuh melalui proses ihobai.



Barter, kita kenal sebagai transaksi tukar menukar barang secara lansung. Utang piutang sendiri sebagai sistem transaksi pengembalian pinjaman dengan penagihan tertentu. Jelas berbeda dengan sistem ihobai.


Dalam sistem Ihobai tidak ada menukar barang secara lansung. Sistem ihobai tidak ada penagihan yang dimiliki pinjam-meminjam dengan bunga tertentu. Ihobai tidak dituntut untuk dikembalikan. Sistem Ihobai  tidak bersifat mengikat. Artinya, secara tidak lansung hanya punya tanggung jawab moril dari penerima kepada pemberi  untuk mengembalikannya. Itu pun jika berhasil mengembangkannya lebih banyak lagi. Jika tidak berhasil maka tidak dituntut untuk mengembalikan atau membalas budi. Namun di sisi lain pasti memiliki tanggung jawab moril yang harus dikembalikan.

Sebagai contoh, bibit (ternak) yang diberi gagal dikembangbiakan. Misalnya, ternak mati dan tidak berkembang atau wanita yang diberikan sebagai istri meninggal tanpa meninggalkan keturunan maka pemberi ihobai boleh tidak mengembalikan ihobai kepada penerima.

Bagaimana Ihobai Saat Ini ?

Sistem Ihobai mampu meningkatkan ekonomi berbasis kerakyatan. Manfaatnya, sudah dirasakan oleh suku Mee dan  Sistem ini sudah dikenal sejak dulu oleh nenek moyang suku Mee hingga kini. Namun sayangnya, filosofi atau gaya hidup ini sudah mulai hilang. Pengaruh kehidupan modern membuat orang muda Mee lupa akan gaya hidup ini.

Parahnya lagi, setelah pengaruh modern mempengaruhi pola hidup Orang Mee, kita bahkan meninggalkan budaya budaya yang sebenarnya harus dilestarikan. Gaya hidup modernisasi membuat Orang mudah Meepago saat ini tidak tahu soal Ihobai.. Benar kata, Arnol Clemens Ap bahwa budayaku tenggelam bersama zaman. Padahal jika dipahami,dimengerti, dan terapkan, gaya hidup ini mampu mensejahterahkan sesama  orang muda suku mee.

Sebenarnya, ada banyak pandangan hidup atau filosofi hidup orang mee yang harus dilestarikan dan dipertahankan. Setidaknya mengetahuainya, jika kita mengetahuinya itu bisa menjadi mudaal untuk mengubanya dan bahkan melakukannya. Dengan begitu, akan membuat orang Mee tetap eksis hingga nanti.


  • Penulis adalah salah satu Mahasiswa Papua  yang sedang studi di Bandung.

1 Komentar:

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.

loading...
 

Start typing and press Enter to search