Lelaki Bijak Penjual Parfum Itu, Bernama Bizak - Dihaimoma Menulis

Lelaki Bijak Penjual Parfum Itu, Bernama Bizak

- 01:40:00
Dihaimoma menulis
Oleh: Max Edowai
Suatu kenyataan bahwa kita yang sedang hadir dan turut terlibat dalam kehidupan ini merupakan proses yang harus kita lewati sebagai bagian dari kodrat kita sebagai manusia. Anda dan saya tidak dapat menyalahkan asal-usul, status sosial orang tua, ataupun suku dan ras kita saat ini. Jelas kita tidak pernah diperkenangkan untuk memilih apakah kita ingin terlahir dari keluarga berada atau miskin. Apa lagi memilih tentang suku dan ras. Kodrat itu membuat kita memiliki suku, bangsa, bahasa, status sosial, dan juga cerita kehidupan yang unik dan beragam. Satu hal yang pasti adalah keberagaman itu  terkadang membuat kita berhadapan dengan berbagai cerita unik yang menginspirasi. Sayangnya, kesibukan turut merampas waktu dan kesempatan kita untuk menuliskannya. Berikut ini merupakan sebuah cerita inspiratif yang belum lama ini terjadi di Bogor. Antara saya dengan Si lelaki penjual Parfum. Bernama Bizak.
                                                                          ***
Tiga hari yang lalu, saya belanja di toko Parfum. Penjaga toko Parfum adalah seorang lelaki muda. Dia melayaniku dengan ramah. Percakapan pun bermula ketika itu.

"Cari parfum apa, Bang?" tanya dengan senyum ramah.
''Paris Hilton Chain Siren" jawabku dengan senyum juga.
 "Ada" jawabnya sembari balik melihat rak parfum.

Ia mengambil botol parfum sesuai merek yang saya minta dan lanjut  membuka penutup botol itu.

"Ini, coba dulu" sahutnya sembari menyodorkan penutup botol itu kearahku.
"Iya itu, Bang" jawabku, mengembalikan penutupnya.
"Mau botol yang berapa mililiter? Ini ada yang 10 ml, 20 ml, 40 ml, 60 ml, dan 100 ml" tanya    penjaga sambil menunjukkan berbagai jenis botol dan harganya dalam etalase yang tersusun rapi dan menarik.

Saya mulai memilah-milih botol-botol yang tersusun rapi dalam etalase itu. Etalase tersebut terlihat menarik karena potongan kaca di setiap rak itu, turut membiasikan cahaya sejuta warna dari setiap tingkatan raknya. Pijaran cahaya itu memenuhi segala sisi ruangan. Ibarat pelangi sehabis hujan. Transparansi kacanya juga turut membuat etalase tersebut nampak bening. Seakan tanpa kaca yang menutupinya. Letak ruangan dengan pola kaya akan estetis membuatku sedikit terulur untuk memili parfum di toko itu.  Tetapi, yang pasti saya memutuskan untuk memilih botol yang bisa di gunakan lebih lama. Percakapan pun berlanjut.

"Yang 60 mili aja, Bang. Tapi Alkohol-nya dikit aja ya...!"
"Iya, oke siaaap" jawabnya sambil sibuk meracik parfum itu.

Setelah saya memilih botol berukuran 60 mililiter. Penjaga itu mengambil botol di rak etalase. Ia mulai meracik dengan beberapa bahan sesuai standar prosedur toko parfum. Bahan-bahan yang dipersiapkan adalah cairan parfum Paris Hilton Chain Siren (50 ml), Alkohol Absolut 95% (5 ml), cairan tambahan (5 ml). Selain bahan-bahan, penjaga menggunakan peralatan seperti botol parfum, botol aquades, gelas ukur, dan syringe 10 ml.

Penjaga itu mengerjakan peracikan parfum itu dengan menarik cairan Paris HIlton Chain Siren menggunakan syiringe 10 ml dan memasukkannya ke dalam botol 60 ml sebanyak lima kali (jadinya 50 ml). Setelah itu, dia menetralisasi syiringe menggunakan aquades. Kemudian, syiringe tersebut digunakan lagi untuk menarik cairan tambahan sebanyak 5 ml lalu memasukkannya ke dalam botol 60 ml itu. Lalu, syiringe tersebut dicuci lagi dengan aquades lalu mengambil cairan Alkohol Absolut 95% sebanyak 5 ml kemudian cairan Alkohol tersebut dimasukkan lagi ke dalam botol 60 ml tersebut. Setelah itu, dia menutup botol 60 ml itu dengan penutupnya.

Ia menyelesaikan proses campuran itu dengan cepat. Tanpa terasa, botol itu siap saya terima. Dari proses pengerjaannya untuk mengemas parfum itu,  ia nampak "kelas profesional''. Parfum tersebut masih terletak di atas meja etalase. Tapi saat itu, saya masih belum mengeluarkan uang dari dompet untuk membeli parfum yang nampak polos di badan meja etalase itu.

Sebelum mengeluarkan uang dari dompetku. Secuil rasa mucul dalam benak saya. Sepertinya, "rugi" jika tidak menggali ilmu dengan bertanya kepada lelaki muda peracik parfum ini. Karena keprofesionalannya terlihat ketika ia meracik dengan teknik yang praktis dan cara kemasnya yang mantap. Saya masih penasaran dengan "ilmu racik" parfum dan pengalamannya. Sambil memegang dan melihat hasil kemasan botol itu. Saya mulai bertanya kepada peracik parfum itu.

"Maaf Bang, saya penasaran dengan teknik racikan dan cara kemasnya. Kalau boleh, saya mau sedikit ngobrol dulu sama Abang. Biasa, tanya-tanya dulu gimana tekniknya biar Abang bisa berbagi ilmunya, pengalamannya? Tapi sebelumnya saya Max Edowai dari Papua" Saya mencoba membuka percakapan itu sambil memperkenalkan diri.

" Saya Bizak, dari Lampung"Membalasku
"Boleh aja, boleh, Nggak papa, nanya aja"  Lanjutnya, dengan senyum di raut wajahnya.
" Makasih Bang" jawabku dengan penuh harap. Ilmunya.

" Aku justru senang, mala ada orang mau bertanya sama saya. Namanya juga ilmu. Tidak mungkin kita tahu sendiri tanpa berbagi. Kan, awalnya Abang juga nggak tahu bagaimana berbisnis parfum. Ilmu ini kan saya juga dapat dari orang lain. Kalau ilmu itu berasal dari orang lain, teruskan juga kepada orang lain. Saya juga justru berterimakasih sama Abang. Abang mau nanya untuk memperkuat ilmu saya dalam kepala saya. hehehe....Kalau kita sama-sama perantau, jangan pelit ilmu. Kan, kita sama-sama perantau, sama-sama cari nafkah. Tak perlu kita saling menyusahkan. Harapan nasib hidup kita ini kan sama, pengen sukses " jawabnya dengan lapang dan bijaksana.

Saya kagum dengan kata-kata bijak yang terujar dari bibir lelaki itu. Dari mimik wajahnya terlihat jelas kata-kata itu mengisyaratkan akan keikhlasnya dalam berbagi Ilmu. Ya..., kata-kata yang penuh makna!Seakan tetua dari kampung halamanku, sedang berbicara empat mata denganku saat ini. 


" Niat kamu mau usaha parfum di Papua atau dimana?" menanyaku.
"Iya, pastinya di Papua. Itu pun kalau modalnya cukup" jawabku
 " Bang, jangan bicara modal dulu, niatnya dulu" Lanjunya, memotong pembicaraanku.
 " Oh, iya Bang. Kalau niatnya ada. Pengen bisnis parfum di Papua" jawabku seraya menunggu belasan dari pemuda Lampung itu.

"Oh iya, kalau niatnya sudah ada berarti itu sebagai modal awal. Modal kedua adalah ilmu pengetahuan dan pengalaman dari orang lain. Modal ketiga adalah modal link/jaringan kerja sama. Modal keempat itu baru modal uang. Modal kelima adalah modal tempat. Modal keenam adalah modal waktu atau kesempatan dan Modal ketujuh adalah modal pembeli/modal sosial" dia menjelaskan soal niat dan modal lain-lain. Seraya mengakhiri pembicaraanya.

Aku hanya kagum dengan apa yang baruku dengar dari pemuda perantau, asli Lampung itu. Menurutku pemuda itu tidak mengenal istilah pelit ilmu. Tidak seperti pengusaha lainnya, yang terkadang merahasiakan tekni dan cara usahanya. Ia  lanjut bercerita mengenai pengalaman pahit dan manis perjuangannya. Dari persoalan ia putus sekolah lalu, sampai dengan pilihannya untuk terjun ke dunia bisnis parfum. Ia mulai mulai mengawali ceritanya dari pengalaman semasa kecilnya.

Dalam ceritanya, dulu ia termasuk orang yang pernah gagal dari sekolah. Dia putus sekolah dari kelas 2 SMP. Penyebabnya, karena terlibat tawuran sampai pihak sekolah tidak memberikan surat pindah ke sekolah lain. Dengan kasus yang dideranya, membuat ia kehilangan segala-galanya. Keluarganya pun menganggap dia nakal dan tidak lagi memberi kehangatan dan kasih sayang selayaknya seorang anak, seperti sebelumnya. Semua itu membua hidupnya pun tak seindah impian dan harapannya.

Hidupnya mulai kacau. Dia mulai bergabung dengan komunitas yang tidak seharusnya ia gabung. Kedua orang tua dan kerabat lainnya pun mulai membencinya. Ibarat bola ping-pong yang terus di mainkan tanpa kata lelah. Kemarahan keluarga, sepertinya menjadi menu makanan setiap harinya. Dari persolan putus sekolah dan hubungan sosilanya dengan komunitas yang kurang bersahabat. Salah satu yang memicu kemarahan orang tuanya adalah tubuhnya dihiasi lukisan bermotif (tato). Ia pernah berusaha untuk menghapusnya, tetapi lukisan itu sifatnya permanen dan susah dihapus.

Amarah dan kebencian yang awalnya dari keluarganya itu, perlahan mulai merambat hingga ke satu kampung yang menjadi tempat kelahirannya. Perlahan kesadaran bahwa ia di tolak oleh kampungnya sendiri terus menjajah jiwanya. Mau ke sana juga salah, mau kesini juga salah. Mau lakukan ini salah, mau lakukan itu juga salah. Semua serba salah. Hingga pada akhirnya, ia mengambil keputusan untuk merana di kota untuk mengadu nasib. Dari keputusan itulah, petualangan hidupnya mulai dibangun.

"Saya tidak boleh tinggal di kampung ini dan saya harus keluar ke kota. Saya mau makan atau tidak, itu resiko. Saya mau hidup atau mati, itu resiko. Saya mau tinggal di bawah jembatan atau di emperan, itu resiko. Kenapa saya harus buat salah? Saya harus bertanggungjawab atas kesalahan ini" Ceritanya, sembari menatapku.

Setelah aku menyimak setiap inci dari makna cerita itu. Air mataku nampak berkaca tanpa pamit. Terlebih karena keputusannya untuk merantau, mengadu nasib. Saya turut empati dengan kalimat-kalimat sebagai tanda musafir di tanah orang. Dia melihatku dengan wajah yang tegak dan menyuruhku untuk mengusap air mata yang nampak di sudut kedua bola mataku. Nampaknya, ia tahu aku turut terharu atas semua itu.

"Bang, jangan berkaca-kaca begitu, itu kan pengalaman saya. Kamu pasti punya pengalaman yang lebih pahit dari saya. Apalagi kamu jauh-jauh dari Papua datang ke pulau Jawa, pasti punya pengalaman yang membuat saya bisa menangis" katanya, sambil memperhatikan aku yang sesekali mengusap air mata.

Dia mulai menasihatiku. Ekspresi empatimu harus dijaga. Boleh kamu rasakan tetapi harus pada porsi yang tepat.Jika mendengar pengalaman dari orang lain, kamu siapkan saringan pikiran dan perasaan. Ukuran saringan itu sifatnya elastis (bisa diperbesar dan diperkecil) sesuai substansi pengalamannya. Jika kamu hidup di kota, harus berpikir dan bekerja keras. Pemuda murah ilmu itu melanjutkan ceritanya.

Sebetulnya, dia masih lanjut bercerita tetapi satu hal yang terpenting dari percakapan di atas adalah sikap hatinya yang bijak. Dia merasa harus bertanggung jawab atas kesalahan yang pernah ia lakukan di sekolah, keluarga  dan di kampung halamnya. Walaupun ia tidak melanjutkan sekolah, tetapi ia mau bertanggung jawab dengan cara yang berbeda. Pada akhirnya, kemarahan dan kebencian itu menjadi kekuatan terbesar dalam melakukan bisnis parfum yang menuntunnya menjadi orang yang sukses. Sampai sekarang dia masih menjadi distributor parfum terkenal. Cabang-cabang bisnisnya sudah tersebar di beberapa daerah, Indonesia.

Motivasi utama yang ia tanamkan dalam menjalankan usahanya adalah melayani orang yang membutuhkan parfum dan mendapat keuntungan dengan cara yang halal. Dari pada sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya korupsi meresakan masyarakat kecil. Banyak duit tapi miskin akhlak dan miskin hikmat. Ilmu yang sebenarnya digunakan untuk membangun kesejahteraan masyarakat, kok digunakan untuk memperkaya diri? Mending tidak sekolah tetapi bertanggung jawab untuk bangun sekolah, keluarga dan kampung dengan uang halal.

Satu hal yang ia katakan lagi adalah ilmu yang dia ajarkan kepada saya itu adalah bagian dari bentuk tanggung jawab kepada sekolah (informal). Keuntungan bisnisnya, biasa dikirim kepada bapa, mama dan adik-adiknya di kampung sebagai bentuk tanggung jawab kepada keluarganya.  Bagian pojok etalase (di tokonya) terdapat kotak sedekah yang disediakan untuk anak-anak yatim-piatu sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat di kampung yang pernah menolak dan membenci dia. Semoga cerita ini bermanfaat!!!

                                                                        ***
                                                          Sekian, Salam SUKSES

1 Komentar:

avatar

Ceritanya mantap, ada nasehat tersembunyi.

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.

loading...
 

Start typing and press Enter to search