5 Hal yang Membuat Anak Muda Papua [ Mati Banyak ] - Dihaimoma Menulis

5 Hal yang Membuat Anak Muda Papua [ Mati Banyak ]

- 09:27:00
Dihaimoma Menulis
Ketika kita menatap Papua dikekinian untuk melihat kehidupan anak muda di sana. Kita akan dihadapkan pada kenyataan yang membuat kita sulit merangkak apa lagi melangka untuk mengatasinya. Kenakalan itu tumbuh ibarat kangker ditubuh generasi emas yang terus bermutasi. Penyakit sosial ini perlahan tumbuh dan menjalar hinggga keujung satuan saraf. Ungkapan bahwa "Kita mati banyak" merupakan realitas yang tidak lagi dapat kita sembunyikan. Kenakalan remaja di Papua yang di Dahai maksud bukan hanya menyerang satu sisi kehidupan tetapi hapir segala sisi kehidupan.

Dari sekian banyak persoalan kenakanan remajah itu. Terdapat dua hal yang menonjol dan perlahan mulai menjadi tradisi dikalang anak remaja di Papua. Pertama penyakit sosial yang berna pacaran melampauhi batas sehingga berganti pasangan dan  mengundang penyakit sosial seperti HIV/AIDS. Kedua penyakit sosial yang bernama konsumsi alkohol melampauhi batas wajar sehingga membuat tubuh tidak mampu mengendalikan kadar alkohol yang membuat seseorang lepas kontrol alias mabuk. Kedua kasus ini secara terselubung menyerang kita.

Berangkat dari kedua poin persoalan di atas. Dihai akan berbagi 5 hal yang patut diketahui anak muda Papua saat ini. Pertama yang berhubungan dengan pacaran. Kedua berhungan dengan mabuk. Yang pada kenyataannya kita kenal frasa "Kita mati banyak"

Perlu diketahui, artikel ini bukan atas pengamatan langsung di lapangan apa lagi dari sebuah penelitian tetapi lebih berupa rangkuman dari hasil tanya jawab via handphone dengan 13 orang informan di Papua. Perlu digaris bawahi bahwa dari jumlah informan di atas, 4 orang diantaranya tenaga medis.
Kasus HIV/AIDS di kabupaten Nabire hingga september 2016 menduduki peringkat pertama dan tertinggi di Provinsi Papua. Demikian dikemukakan Kepala Bina Pengamatan & Pencegahan Penyakit, Dinas Kesehatan kabupaten Nabire, dr. Frans Sayori.[1]
Pertama-Pacaran, kata ini merupakan kata keramat yang terkadang menyesatkan. Keramat Karena tergantung cara kita memaknai prosesnya. Dari segi positif pacaran merupakan proses saling mengenal yang jika saling mencintai selanjutnya akan melangkah ke tingkat serius untuk membangun rumah tangga. Dari segi negatif pacara ini terkadang membawa kita pada kekecewaan dan frustasi yang tidak lain berujung pada berganti pasangan. Artinya, kosongnya kesetiaan.
Sederhananya, berharap indah tetapi berakhir suram dan menyakitkan. Selanjutnya berganti Pasangan. Apakah anda pernah mengalaminya? Hehehe jawab sendiri!
Secara umum rata-rata generasi muda di Papua mengenal minuman alkohol pada usia produktif. Artinya, masa pubertasi merupakan masa yang rawan untuk berhadapan dengan setan yang bernama alkohol dan juga hukum alam yang harus terjadi di masa pubertas yang biasa kita sebuat pacaran. Kata pacaran ini akan menjadi penyakit sosial ketika pacaran melebihi batas, khususnya pada saat seseorang melewati masa-masa pubertas.

Secara psikologis dengan adanya perubahan-perubahan pada tubuh yang ditandai meningkatnya gelora jiwa pada masa pubertas. Sesorang akan mencari jatih dirinya.

Jika di tinjau dari sisi etika. Setiap tindakannya dan perbuatannya dilakukan pada masa ini selalu berangkat dari dasar ingin dianggap dan ingin diakui kehadirannya dalam lingkungan sosial. Sehingga tidak salah,  jika mereka memaknai cinta dengan lawan jenis sebagai sebuah keindahan.

Satu hal yang perlu diketahui anak muda Papua dipoin ini adalah cinta itu tidak seindah alunan lagu yang terus anda dengar ketika galau. Atau tidak semulus cinta di sinetron yang anda tonton dan terus membentuk mindset anda. Cinta tidak senikmat hubungan sex yang menjadi kodrat manusia. Cinta itu bagian dari tanggung jawab yang besar. Cinta bukan hanya akan menguji kedewasaan anda tetapi juga kekonsistenan anda.

Artinya ketika anda berani untuk mencintai maka anda juga harus tahu cinta itu tangung jawab.Tidak selamanya berjalan indah dan mulus. Ada saatnya anda akan menangis, ada saatnya anda akan membenci diri sendiri, dan ada saatnya anda disakiti dan menyakiti. Dari kondisi seperti ini, jelas menjadi catatan buat pucuk-pucuk Papua. Gelora cinta pada masa pubertas adalah bukan cinta yang dibangun atas kesungguhan dan tangungjawab tetapi bagian dari kodrat sebagai proses hukum alam yang harus dilalui manusia untuk mencapai kedewasaan. Cinta yang dibanung atas tangung jawab akan muncul ketika masa itu terlewati. Intinya, masa pubertas yang anda alami saat ini bukan hanya anda yang mengalaminya tetapi semua orang dewasa telah mengalaminya. Hehehe termasuk saya.
Sederhananya, cinta pada masa pubertas sangat kecil kemungkinan akan berujung di pelaminan, tetapi bagian dari pembelajaran anda untuk mencintai. Sebelum anda memulai mencintai anda harus tahu bahwa sakit hati, amarah, air mata dan lainnya terkadang merupakan sahabat sehidup semati dari cinta.  Hal ini memunngkinkan anda melangkah dalam kesadaran sehingga tidak kaget ketika berhadapan dengan masalah seperti ini. Apa lagi menyalahkan orang lain? 
Kalau hanya berpandangan cinta adalah kebahagian, atau cinta itu  anugra dari Tuhan yang indah sebagaimana dalam sinetron atau dalam alunan lagu maka sudah pasti akan hancur ketika menghadapi masalah seperti ini. Dalam artian resikonya sangat besar.
Bagi pucuk-pucuk calon mama Papua. Pikir baik-baik sebelum terlena. Ingat ko mama yang akan menentukan berlangsung atau tidaknya generasi Papua di atas surga kecil.
Kedua- Hubungan anak muda Papua dan minuman keras sudah menjadi tradisi yang terus merenggut nyawa anak muda Papua.

Memang benar dan suatu kenyataan bahwa tidak semua anak muda Papua pemabuk. Tetapi kenyataan bahwa beberapa dari kita suka mabuk juga merupakann suatu fakta yang tidak dapat kita sangkal.

Sebenarnya, alkohol itu bukan tidak baik. Tubuh kita memerlukan alkohol dalam menjaga kekebalan tubuh tetapi yang menjadi persolan di Papua adalah kita tidak paham metode yang sesuai dengan kondisi kesehatan tubuh kita.  Ya, dalam kasus ini jika kita analogikan dengan orang di
barat, maka berbading terbalik.
Menurut Elizabeth Kovacs, direktur program penelitian alkohol di Loyola University Medical Center, Chicago. Studi menunjukkan bahwa minum alkohol atau wine khususnya, dapat mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, batu empedu, diabetes tipe2, demensia dan dapat meningkatkan sistem metabolisme dalam tubuh.Masih menurut dia,  takaran mengkonsumsi alkohol bagi perempuan adalah satu gelas kecil dalam sehari, dan dua gelas sehari untuk laki-lak[2]
Hehehe Ingat ee, kutipan di atas bukan untuk mendukung dan mengajak anda untuk mabuk. Dihai hanya kitip sebagai pendukung argument.

Poin persoalannya, sampai saat ini anak muda Papua belum mampu membedakan. Minum untuk kesehatan dan minum untuk mabuk. Saya yakin,  mereka minum untuk mabuk. Karena kalau sudah minum pasti akan tambah lagi dan lagi, sampai teler. Pasalnya, dulu Dihai juga pernah singgah di dunia itu Hehehe.

Ketiga-Kita mati banyak. Dari 13 informan yang Dihai hubungi. Mereka sempat bercerita bahwa di sini orang mati karena minuman keras dan mati karena penyakit penyakit sosial yang bernama AIDS sulit dibedakan. Selain itu, disusul dengan mati karena tabrak lari dari oknum tertentu dan mati karena kekerasan militer.Selanjutnya, disusul dengan penyakit lain.

Sudah menjadi info umum bahwa Generasi Papau mati karena 4 hal di atas  tidak dapat kita sembunyikan.

Belum lama ini Dihai bersama 3 orang sahabat menghitung orang yang meninggal dari tahun 2011-2017. Jumlahnya mencapai 112 orang. Baru  dua minggu berselang dari perhitungan itu, Dihai di infokan bertambah tiga orang jadi totalnya menjadi 115 orang. Itupun yang Dihai kenal.

Sampai di sini, kita tahu bahwa generasi Papua tidak hanya mati karena alkohon, penyakit sosial yang merajalelah di Papua, dan tabrak lari. Kita juga mati akibat kekerasan militer. Lebih jauh lagi, kita bukan hanya menjadi minoritas tetapi terus berlanjut dan berajak ke kepunahan.

Kita mati karena penyakit sosial berinisial 4 huruf yang rekornya berturut-turut dipegang oleh orang Papua dengan mayoritas usia produkitf dan kata mereka banyak pula yang bertahan hidup karena mengkonsumsi obat teratur. Ibarat mayat hidup. Mati karena ditabrak lari dan ditembak, terus meningkat. Dan disusul oleh mati karena penyakit lainnya. Membuat kita nengerti bahwa depopulasi manusia Papua saat ini begitu nyata.

Baca Juga:
Pertanyaannya, kenapa  kita tidak memahami itu? Mungkin persoalnnya adalah kesadaran. Kesadaran ini menjadi sulit terwujud di Papua karena lingkungan dan situasi yang di bentum sedemikian rupa sehingga kita tidak menyadari itu. Atau kita terlalu di sibukan dengan kebencian kita terhadap sistem ini sehingga kita lupa melihat dan menjaga diri kita sendiri dari dalam lingkungan sosial? Ya. Karena melawan atau manklukan diri sendiri terkadang lebih sulit daripada menaklukan orang lain. Sebab kata Gus Dur tatapan seseorang yang telah menaklukkan dirinya mampu menaklukan mata yang sedang gelisa.

Keempat- Generasi Papua terus semakin hancur karena penyakit sosial. Jumlah Orang Papua terus berkurang dan menjadi minoritas dalam berbagai bidang. Kita akan sadar ketika mencapai titik serupa dengan orang Amborigin di Australia. Sebelum semua itu terjadi, saat ini kesadaran menjadi hal yang vital di Papua.

Hal ini senada dengan pendapat Damien Kingsburry, seorang profesor Politik Internasional dari Deakin Universityh, mengatakan. Impian untuk merdeka bagi rakyat Papua sangat sulit untuk dicapai. Apalagi berkat program transmigrasi, kemungkinan jumlah ras Melanesia di Papua sudah dibawah 50 persen dan bukan lagi mayoritas [2]. Bukan hanya dia, sudah banyak penelitian yang menunjukan suatu saat orang Papua akan punah di atas tanahnya sendiri.
Ahli Indonesia dari University of Sydney, Australia, menilai data tentang jumlah Orang Asli Papua (OAP) yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) harus dicermati secara hati-hati karena belum mencerminkan angka yang sesungguhnya. Ia juga mempertanyakan data BPS yang menunjukkan jumlah OAP di Papua tumbuh 5 persen per tahun pada rentang waktu tahun 2000-2010 sebagai hal fantastis. Selengkapnya baca di sini: Indonesia’s West Papua: Settlers Dominate Coastal Regions, Highlands Still Overwhelmingly Papuan[3]
Berangkat dari realitas di atas, jika kita kaitkan dengan tuntutan Papua untuk merdeka maka jangankan kesadaran orang Papua untuk bergabung dan berjuang untuk menyuarakan kekerasan dan menuntut hak untuk menentukan nasib sendiri. Jika ada generasi muda di Papua yang memiliki kesadaran akan pentingnya keturunan dan terus menjaga diri dari kenakalan remaja dan terus bersekolah saja, kita harus bersyukur.

Hal ini menunjukan bahwa, jika kita tidak membenahi diri akan pentingnya kesadaran diri maka suatu saat yang akan terjadi di atas tanah Papua ini adalah Orang Papua bertemu orang Papua itu akan sama halnya dengan kita bertemu orang Papua di Jakarta. Menyedihkan.


Kelima- Kesadaran tertinggi dalam menyikapi penyakit sosial yang terus terjadi di Papua adalah bukan pada saat kita merasa kita sadar. Bukan pada saat kita sadar dan berjuang melawan penjajahan tetapi masih terlibat dalam penyakit sosial lainnya. Dan bukan juga pada saat kita berusaha menyadarkan orang lain. Kesadaran yang dibangun atas pribadi dan melangkah keunit sosial terkecil bernama keluarga. Kesadaran dari keluarga yang melangka ke unit sosial yang lebih luas, lingkungan sosial masyarakat dan seterus.


Melihat kondisi seperti ada beberapa pertanyaan yang menjadi catatan buat generasi kita saat ini di Papua. Bagaimana kita bisa sadar selama kita masih perang antar suku?Dan lebih parahnya lagi, generasi muda yang berpendidikan turut terlibat dalam hal semacama itu. Bagaimana kita sadar ketika kita masih membeda-bedakan ko gunung dan pantai? Bagaimana kita bersatu dan sadar ketika ada masalah kita hanya berani sama sesama orang Papua yang menjadi sasaran empuk veronika untuk bermain peran vital aduh dombanya? Bagaimana kita membangun kesadaran dan kesatuan ketika generasi muda yang dianggap berpendidikan masih terlibat membeda-bedakan daerah dan suku dikalangan kita?

Poin intinya sudah saatnya kita sebagai generasi muda yang berpendidikan meninggalkan cara-cara lama yang terus menanam benih kebencian antar suku, marga, dan agama di Papua
Mengacu pada pembahasan di atas, saat ini di Papua sangat sulit kita berbicara tentang kesadaran yang menyeluruh. Bagi saya, hal itu terlalu jauh. Melihat situasi saat ini di Papua, kesadaran pribadi generasi muda akan pentingnya menjaga diri dari penyakit sosial dan terus bersekolah dan belajar mengembangkan diri menjadi sama pentingnya dengan kesadaran untuk memperjuangkan hak politik kami yang telah dirampas. Percuma jika generasi muda terus mati karena penyakit sosial tetapi kita mengabaikan hal itu. Mengapa demikian? Sebab hal paling fundamental dari perjuangan Papua untuk menentukan nasib sendiri selama ini bukan karena kekayaan alamnya atau bulakan pula karena  kehadiran orang non Papua di Papua tetapi demi keberlangsungan manusia Papua yang dikenal dengan bangsa Melanesia ber ras Negroid sebagai bangsa yang berdaulat. Artinya, akan jadi sia-sia jika kita tidak menyadari bahwa kita mati banyak karena penyakit sosial tetapi kita berjuang merebut kebebasan. Karena kebebasan itu akan dinikmati oleh generasi dari bangsa lain.

Kesadaran yang menyeluruh adalah saat setiap pribadi mampu menaklukan diri, mampu memposisikan diri. Kesadaran yang benar-benar berakar dan muncul dari dalam pribadi individu bahwa, pergaulan bebas itu tidak baik, mabuk itu tidak baik, kesadaran bahwa mampu menyelesaikan masalah antara orang Papua tanpa berujung pada korban nyawa, dan bahkan sadar bahwa kita sedang tidak sadar dalam kematian yang turus meningkat merupakan langkah awal untuk melihat kesadaran itu sendiri dan yang terakhir pentingnya kesadaran pada setiap individu bahwa meskipun sedikit saya harus buat apa untuk tanah Papua sebisa mungkin. Itulah kesadaran diri yang akan membangkitkan semangat juang. Kesadaran yang mempu melakukan perlawan dengan apapun tanpa terlena oleh penyakit sosial lainnya.

Dengan demikian pertanyaannya yang mesti kita jawab adalah apakah benar kita sudah menempatkan diri kita dalam kesadaran sehingga tidak terlibat dalam kedua poin penyakit sosial yang disinggung pada artikel ini? Hal ini sangat dibutuhkan karena kematian manusia Papua oleh beberapa hal di atas kian tidak terkendali. Terlepas dari iya atau tidaknya jawaban anda dari pertanyaan di atas. Satu hal yang pasti  adalah anda dan saya merupakan langkah awal untuk menyiapkan senyum generasi Papua mendatang.
Di akhir artike ini Dihai kembali mempertegas poin-poin di atas agar pembaca tidak tersesat dan memahami konteks pembangunan isi artikelnya. Ketika kita mengacu pada status kita sebagai mahasiswa maka dalam berarguman kita diajar untuk berbicara di atas data fakta. Dan memang benar sebagai akademisi sudah sepatutnya kita bertindak di atas data fakta. Tulisan ini  dibangun atas dasar agumen 13 orang informan di Papua yang Dihai hubungi via telpon belum lama ini dan juga rujukan dari informasi dibeberapa situs. Secara faktual jika mengacu kepada etika kelayakan informasi, maka tulusan ini hanya bersifat opini.

Ada peribahasa mengatakan tak ada gading yang tidak retak  maka tentu saja artikel ini disajikan dengan segala kekurangannya. Sebagai bacaan yang bersifat refektif baik dari penulis mapun pembaca,  jadi jika terdapat kekurangan mohon tinggalkan saran dan kritikan dari anda. Terima kasih.



[1]nabirenet online, edisi 12/ 10/ 2016
[2]Kompas.Com online edisi, 02/21/012
[3] Satuharapan.com Online, 14/1/2017

2 Komentar

avatar

Sa setuju.. 2 poin pertama masalh pling utama pasti sdh. Klo karna aparat dkk ti bisa jd hnya ekor dr masalh yg sebenarnya yaitu alkohol

avatar
This comment has been removed by a blog administrator.

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.

loading...
 

Start typing and press Enter to search