1

4 Poin Sikap Materialistik Jakarta ini Menunjukan-Orang Papua Akan Punah Jika Berada Dalam Bingkai NKRI



Selama ini ada beberapa hal yang membuat saya tidak pernah berhenti untuk terus bertanya. Bukan hanya bertanya, tetapi juga mencari jawaban dari pertanyaan itu, khususnya dalam persolan Papua yang terus berkepanjangan.

Ketika saya berusaha melihat persoalan Papua dari kacamata Jakarta. Saya menemukan ada beberapa hal yang sangat-sangat tidak masuk akal. Ya. Bagi saya, Jakarta terus mempertahankan alasan yang sangat tidak masuk akal tersebut untuk menghadapi rakyat Papua.

Seperti yang kita ketahui, selama ini Jakarta selalu memandang Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai benalu di tibuh negara. Jakarta beranggapan mau tidak mau, suka tidak suka. Organisasi itu harus dipadamkan dari akarnya.   

Pandangan ini bagi saya tidak masuk nalar karena di Papua tidak ada teroris ataupun pemberontak. Di Papua hanya orang- orang yang sadar bahwa tanah mereka dirampas, orang tua mereka dibuhuh, hutan dan kekayaan alam mereka dikuras habis-habisan kapitalis yang diawasi ketat oleh militer Indonesia yang juga menjadi kaki tangan negara-negara kapitalis. Selain itu, mereka sadar bahwa kebenaran sejarah mereka telah dimanipulasi demi kepentingan materi.

Berangkat dari penjelasan di atas. Berikut ini dihaimoma.com merangkum 4 poin sudut pandang Jakarta yang tidak masuk akal, tetapi Jakarta  terus memaksakan itu untuk orang Papua.

Pertama satu hal yang harus Jakarta ketahui adalah di Papua sama sekali tidak ada teroris atau pun benalu di tubuh negara. Yang ada, Indonesialah yang menjadi benalu di tubuh Papua. Di Papua yang ada hanyalah orang- orang yang sadar bahwa mereka di perlakukan setengah binatang.

Jakarta harus cacat bahwa dibelahan bumi manapun kesadaran perlawanan akan lahir dari masyarakat pribumi, jika  bangsa pribumi diperlalukan setengah binatang oleh bangsa lain. Hal ini, sebagaimana Indonesia sendiri pun pernah berada di posisi itu, saat Belanda menjajah negara ini selama 350 (?) tahun.

Kesimpulannya, OPM  secara esensial tidak beda jauh dengan organisasi seperti , BUDI UTOMO, Serekat Islam (SI), Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI ) dan lain-lain sebagainya yang pernah berdiri dalam sejarah  perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk mengusir Belanda.
Kedua apakah pihak Jakarta yang menstikma OPM dengan benalu di tubuh negara, tidak berpendidikan? Atau tidak tahu persoalan Papua yang sebenarnya? Meski asumsi saya,  90% petinggi negara ini tahu apa yang benar dalam persolan Papua. Lalu, mengapa mereka bertingkah tak acuh? Pertanyaan ini adalah poin ketidaklogisan kedua.

Apakah benar pendidikan yang kita tempuh selama puluhan tahun mengajari kita tentang bertindak seperti itu. Ternyata benar, apa kata Bob Marley. "Saya tidak berpendidikan, tetapi saya punya inspirasi, sebab jika saya berpendidikan maka saya akan bodok".

Ya.. nyatanya, zaman ini orang yang berpendidikan tinggilah yang  bertindak bodok. Bahkan kita sering mendengar  dunia ini akan kiamat akibat ekpoitasi sumber daya alam yang berlebihan (ula manusia yang tidak bersahabat dengan alam)

Pengaru dari pendidikan saat ini yang memandang bumi sebagai sebuah  mesin yang harus dikuasai, harus dikendalikan, dan harus dimanfaatkan demi memuaskan hawa nafsu manusia membuat watak-watak materialistik itu hidup dalam manusia modern.

Anda dan saya sepakat ketika sistem organisme yang terjadi secara alamiah dimanipulasi manusia secara berlebihan, maka bumi  akan menuju pada kehancuran.

Contoh sederhananya, misalnya dalam ilmu kedokteran. Ketika penawar dari sebua virus ditemukan. Virus tersebut akan berkembang dan beradaptasi menjadi spesies virus baru yang dua atau tiga kali lipat lebih kebal dan kejam dari sebelumnya.(hehehe maaf lupa istilah kedokterannya. Maklum, hanya manusia jalanan)

Jangan heran bro, saat ini para filsuf seperti  Fritjof Capra, Nars dan lain sebagainya meminta sistem pendidikan dunia dewasa ini harus direkontruksi dan dikembalikan kependekatan yang digunakan pada abad pertengahan, yang mana saat itu ilmu pengetahuan memandang alam sebagai pancaran Sang Ilahi, maka alam itu hidup, perlu dijaga, dirawat, dan dilestarikan.

Bagi mereka (para filsuf di atas) dunia makin hancur ketika Emmanuel Kant mendamaikan pertikaian  empirisme dan rasionalisme serta kehadiran August Comte dengan metode ilmiahnya dalam tubuh sains membentuk manusia modern yang berwatak materialistik dan memandang alam semesta sebagai mesin yang bekerja secara mekanistik. sehingga manusia harus menguasai, mengendalikan, dan alam dikeloka demi kepentingan dan kepuasan manusia. Sejak saat itu, terjadi ekspoitasi besar-besaran terhadap isi perut bumi ini. Alam tidak lagi dipandang sebagai pancaran Sang Ilahi yang hidup.

Sederhananya, bagi mereka Alam itu hidup. Merusak alam berarti memperpendek umur bumi dan merawat alam berarti juga memperpanjang umur bumi. Pengaru dari mereka, sekarang kita kenal banyak lembaga peduli lingkungan skala nasional maupun internasional. Selain itu, lahir pulah disiplin ilmu yang biasa kita kenal dengan Filsafat lingkungan.

Soal perkembangan ilmu pengetahuan dan pertikaian antara rasionalisme dan empirisme sampai dengan rekontruksi ilmu pengetuhuan saat ini yang ditawarkan Cafra dkk. Saya pernah menulis dalam artikel di bawa ini:


Dengan demikian sistem pendidikan kapitalis saat ini menciptakan manusia-manusia materialistik yang pada akhirnya memandang rendah nilai-nilai agama, moral, serta kebenaran demi kepuasan pribadi dan kelompok yang terus menomorsatukan materi.

"Sederhananya, dalam konteks Papua pengaru dari sistem pendidikan kapitalis ini. Kita biasa mendengar ungkapan seperti Amerika, Indonesia, dan PBB telah memanipulasi kebenaran sejarah orang Papua dan masa depan orang Papua demi kepentinggan Sumber Daya Alam Papua (SDA/materi) bukan karena manusia Papuanya"

Dengan demikian kita dapat berkesimpulan. Di Jakarta hanya ada orang-orang pintar yang materialistik. Demi materi, mereka bertingka picik terhadap kebenaran sejarah bangsa Papua dan ribuan nyawa rakyat Papua yang telah menjadi hiasan belantara. Bagi negara ini, yang terpenting harus kaya dan maju. Bukan kebenaran, dan moral yang di junjung tinggi.

Watak-watak materialistik ini bisa kita lihat juga dari ucapan Ali Murtopo kepada para anggota DMP pada tahun 1969, yaitu "Jakarta sama sekali tidak tertarik dengan orang Papua, tetapi Jakarta hanya tertarik dengan Wilayah Irian Barat. Jika inginkan Kemerdekaan, maka sebaiknya minta kepada Allah agar diberikan tempat di salah sebuah Pulau di Samudera Pasifik, atau menyurati orang-orang Amerika untuk mencarikan tempat di Bulan"
 Ya.. kata Iwan Fals di negara ini "kesedihan hanya tontonan" Bagi negara ini, yang utama dan terutama adalah materi.

Satu hal yang seharusnya dicatat Jakarta adalah kalau kita tahu tapi berpura-pura tidak tahu, maka sama halnya dengan kita setuju untuk hal itu terjadi.

Ketiga tinggal menunggu waktu, Indonesia akan mendapat hasil dari keberpura-puraan dan hal-hal tidak masuk akal yang selama ini Jakarta terapkan demi mendapat materi yang sebesar-besarnya dari  kekayaan alam Papua. Sebentar lagi dalam pertemuan para anggota MSG yang akan berlangsung pada bulan September 2016. Papua melaui ULMWP akan menjadi full member dalam organisasi beranggotakan 5 negara itu. Selanjutnya, akan mempermudah Papua untuk menentukan nasibnya sendiri.

Keempat Jakarta selalu berargumen pemerintah membangun Papua, tetapi  mengapa makin lama orang Papua berkurang di atas tanah leluhur meraka, sementara jumlah orang pendatang melebihi jumlah orang asli Papua?Data sesus penduduk tahun 2010 menunjukan, orang asli Papua tinggal 49 persen dan 51 persennya warga non Papua dari  total penduduk 2.833.381 jiwa. Dengan demikian, argumen itu tidak masuk akal dan sangat relatif untuk di percaya.

Selain itu, PT. Freeport Indonesia merupakan penyumbang pajak terbesar bagi negara. Pada tahun 2010 lalu saja perusahaan milik negara kapitalis itu membayar 11,8 triliun kepada negara ini.
Total pembayaran yang telah dilakukan Freeport selama 2010 sampai September 2011 mencapai 1,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 11,8 triliun sesuai kurs saat itu. (kompas.com). Lebih lanjut, berdasarkan data  lengkap PT. Freeport Indonesia. Pihaknya telah berkontribusi memberikan 487 triliun ke negara ini.
Freeport mengklaim telah memberikan kontribusi sebanyak US$ 37,46 miliar atau setara Rp 487 triliun.(Jubi.com)
Selain kontribusi PFI di atas, belum lagi pajak dari perusahaan minyak milik Inggris, Brithis Petrolium (BP) di Sorong dan  pajak dari 54 peruhaan kelapa sawit yang  gencar beropearsi di Papua dan berbagai perusaaan mini  lainnya yang belum terkuak kepublik. Pertanyaannya, berapa yang didapat orang Papua. Apakah dana otsus untuk  Papua yang hanya 7 triliun Per-tahun sebanding dengan sumbangan Papua terhadap negara ini?

Tingkat kesulitan di Papua sangatlah tinggi, namun mengapa dua provinsi, yaitu Papua dan Papua Barat hanya mendapat Rp7 triliun per tahun, tetapi Aceh mendapat jumlah yang sama per tahunnya," kata Lukas di Jayapura, Senin (07/03/2016. rimanews.com)
 
Itulah sebabnya, bebarapa tahun belakangan gubernur Papua Lukas Enembe memperjungkan pembangunan Smelter di Papua. Selan itu, saat ini  Pak Lukas sedang berusaha mati-matian mengajukan OTSUS Plus yang dirancnganya kepihak Jakarta

Poin ke-4 ini dapat kita simpulkan bahwa sumbangan Papua untuk negara dua kali atau tiga kali qlebih besar dari pada kas negara yang mencapai 104,5 triliun pada tahun 2015. Dana  OTSUS dan dana-dana yang diberikan negara ini untuk orang Papua adalah milik orang Papua. Lebih mendalam lagi, Papua hanya mendapat sisa-sisa buangan dari Jakarta. Orang Papua sangat diperlakukan seperti manusia tidak berakal.
Sederhananya, selama ini Jakarta mengklaim memberikan ratusan triliun untuk orang Papua. Padahal uang tersebut berasal dari hasil kekayaan alam orang Papua. Dan yang lebih anehnya lagi, kita hanya dapat secuil dari hasil itu. Artinya dana otsus dan lain sebagainya yang Jakarta kasih untuk orang Papua adalah bukan milik Jakarta, tetapi milik rakyat Papua karena berasal dari hasil kekayaan alam Papua.
Dari sini muncul beberapa pertanyaan. Pertama jika kontribusi PT. Freeport saja mencapai sekian triliunan rupiah pertahun bagi negara ini. Berapa kontribusi  perusahaan milik kapitalis lainnya yang genjar beroperasi di Papua untuk negara ini? Kedua bagaimana dengan argumen negara ini yang selalu berceloteh memberikan ratusan triliunan rupiah untuk membangun Papua? Ketiga di tangan Indonesia berapa triliunan rupiah yang dibawa lari negara-negara kapitasi dari hasil kekayaan alam Papua? Dan yang keempat, bagaimana nasib Papua, kalau Papua merdeka dan mengelolah sumber daya alamnya secara mandiri?
Jabawan dari keempat poin pertanyaan pada poin  ke-4 di atas ini. Silahkan anda jawab sendiri.
Sampai disini terlihat jelas, orang Papua dipermainkan bukan hanya masalah hak politik bangsa Papua tetapi juga dari segi kekayaan Alam Papua. Sementara itu, orang Papua terus dibunuh dan terpinggirkan di atas tanahnya sendiri. Lagi-lagi, materi yang diutamakan.  Sakin rakus dan materialistiknya Jakarta, belum lama ini Jakarta ribut membahas masalah perpanjangan kontrak PT. Freeport dan dugaan korupsi para petinggi negara ini dalam tuhuh perusahaan itu. Sedangkan orang Papua, hanya menjadi pendengar dan penonton watak mereka via berita.
Hehehe..Lucu tapi nyata. Kita punya barang tetapi yang repot dan sibuk adalah Jakarat.
Melihat kondisi ini, saya pribadi, ingin berpesan kepada Pak Lukas Enembe. Seharusnya Bapak tidak perlu sibuk mengurusi OTSUS Plus dan Semelter di Papua. Pak gubernur yang kami cintai, bagaimana kalau bapak copot saja Garuda dan berjuang bersama masyarakat Papua? Kita kelola sumber daya alam kita sendiri. Saya rasa bapak tahu, kita hanya dapat secuil dari hasil kekayan alam kita. Apakah bapak berani?

Dari pembahasan panjang di artikel ini dan bertolok dari  4 poin alasan di atas. Akhirnya saya berkesimpulam. Jika Papua terus berada dalam NKRI, maka sama halnya dengan melompat ke naraka hidup-hidup. Ratusan tahun kedepan, jika orang Papua masih dalam bingkai  NKRI, maka orang Papua (bangsa Melanesia, ras Negroid ) di atas tanah Papua hanya akan tinggal cerita dalam dongeng para anak cucu bangsa Melayu.
Persoalan kepunahan orang Papua di atas tanahnya sendiri berdasarkan beberapa penelitian yang dipublikasikan. Saya pernah menulisnya dalam artikel berikut.



Dihaimoma
Dihaimoma Menulis Updated at: July 11, 2016

1 komentar:

avatar

Nyata, menantang dan mencerahkan.

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.
EmoticonEmoticon