3

Surat Untuk Rakyat Melayu- Mari Kita Mulai Belajar Melihat Setiap Persoalan Papua Secara Objektif

Papua. Begitu orang-orang menyebutnya. Ketika kata itu saya sebut atau anda dengar, ada dua hal yang akan terbayang dalam mindset anda untuk mendeskripsikan kondisi real tentang Papua. Dari sudut pandang negatif anda akan berpikir, Papua merupakan pulau paling timur Indonesia yang penuh dengan wabah penyakit, suka konflik, sarang OPM, kasar, tertinggal, terbelakang dan lain sebagainya. Sedangkan dari sudut pandang positif. Anda akan mendeskripsikan Papua sebagai Pulau yang kaya akan Sumber Daya Alamnya, yang biasa dianalogikan orang dengan "surga kecil yang jatuh kebumi.

Dalam artikel ini saya ingin membahas dua sudut pandang ini. Lebih mendalam lagi, saya akan membahas ini merujuk pada sudut pandang negatif yang selalu muncul di benak anda ketika anda mendengar kata Papua. Lebih mendalam lagi, Saya ingin mengajak anda untuk keluar dari mindset lama yang selalu mengganggu pola pikir anda. Mengajak anda untuk keluar dan melihat setiap persoalan Papua dari dua sudut pandang yang berbeda.

Mengapa Pandangan Negatif Tentang Papua Muncul di Benak Anda?

Pertama- pengaru perkembangan teknologi dan Informasi memamjakan mindset anda untuk menikmati informasi yang tersaji melalui media cetak maupun online. Hal ini pulah yang membuat mindset anda tertutup. Pengaru utama pembentuk mindset anda adalah media-media besar di negara ini.


Dalam beberapa kesempatan saya membaca berita tentang perang suku, konflik antara OPM/ TPN dengan aparat, aksi-aksi  KNPB, pembakaran Masjid di Yahukimo, dan sebagainya di media-media besar. Saya menemukan kerancuan yang sangat nampak. Media-media besar terkesan memojokan orang Papua dengan kata-kata seperti separatis, kelompok pengacau, terbelakang, tertinggal dan lainnya.

Saya ambil contoh misalnya, jika terjadi kontak senjata antara TNI/PORLI dan OPM di Papua. Saya tahu pasti jika ada korban dari pihak TNI/PORLI media-media besar di tanah air akan ramai membahas itu. Lebih jauh lagi, stikma-stikma seperti di atas akan turut disertakan dalam penulisan dan penyampaiannya. Sebaliknya, jika  ada korban dari OMP atau masyarakat sipil di Papua. Media-media besar itu akan tidur lelap. Bagi saya sikab ini menunjukan ketidak netralan dari media-media tersebut.

Saya ambil contoh lain misalnya, di pulau Jawa orang mencuri singkon atau sendal di masjid saja bisa jadi buah bibir media-media ternama di negeri ini. Di Papua, puluhan rakyat dibunuh oleh aparat saja media-media besar di negara ini diam tanpa kata dan bahasa.

Penembakan masyarakat sipil di Papua oleh TNI/PORLI sudah bukan lagi hal aneh bagi kami rakyat Papua. Hal yang yang lebih ngeri untuk di simak, yaitu kasus korban tembak mati anak sekolah oleh  aparat. Penembakan terhadap 2 siswa SMK di Timika pada 28 September 2015 lalu. Dalam kasus itu, salah satunya mati di tempat. Kasus penembakan pada 08 Desember 2014 yang menewaskan 4 orang siswa SMA di  kabupatan Paniai.

Uniknya lagi, sebelum pemerintah Indonesia bertindak menyikapi kasus tersebut, kasus itu terlebih dulu dirilis dalam bentuk video di Inggris. Lebih anehnya lagi, sampai saat ini, pemerintah Indonesia  belum mampu menyelesaikan kasus ini, meski berjuta janji telah diumber kepublik.
Dihaimoma.com
Penembakan 4 pelajar di Paniai[Image:Source]
Kasus penembakan pada 25 Juni 2015 yang menewaskan Yoteni Agapa (SMP) di Ugapuga kabupaten Dogiyai. Anehnya lagi, berdasarkan data yang dirangkum Tabloidjubi.com penembakan terhadap anak berusia remaja terus meningkat. Media online terpercaya di Papua itu pada tahun 2016 melaporkan bahwa terhitung sejak kasus penampakan di Paniai tahun 2014 sampai tahun 2016  aparat telah menembak 18 orang remaja asli Papua.
Sejak insiden Paniai Berdarah, 18 remaja Papua telah ditembak aparat keamanan [Baca].
Anak SMP di tembak
Yoteni Agapa. Anak SMP di Kab. Dogiyai[Image: Source]
Semua kasus ini tidak pernah diungkap media-media besar di negara ini. Sampai di sini, saya berkesimpulan kami orang Papua memang tidak layak hidup di mata negara ini. Lebih jauh lagi pertanyaannya, jika anak- anak sekolah saja ditembak mati tanpa proses hukum (jika salah) bagaimana dengan masyarakat biasa? Silakan anda menjawab sendiri.
Gembong narkoba saja selama dia tidak bersenjata api masih bisa ditangkap hidup-hidup.
Selain itu kasus, pembakaran masjid di Yahukimo yang belum lama ini bergema di tanah air. Media-media besar turut mendramatisasi informasi tersebut. Sampai-sampai ketika saya ditanya teman-teman kampus tentang toleransi beragama di Papua. Jujur, saya kadang bingung dan kesulitan menjelaskan kondisi Papua yang dibuat suram oleh media-media tersebut.

Saya berani berkesimpulan dalam artikel ini bahwa kami di Papua berada pada urutan satu di Indonesia kalau soal toleransi bergama. Ya, kami di Papua kalau natalan atau lebaran itu sudah pasti berbaur dan saling berkunjung untuk makan dan memberi salam. Hal ini bisa kita lihat dari apa yang di muat Itoday.co.id dengan judul "90% Masjid di Papua Tak Berijin"
Ketum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Prof Hamka Haq melalui akun Twitter @hamkahaq pada 4 Juni 2013 mengatakan“Setahu saya, tak ada intoleransi atas Muslim minoritas di Papua, 90% masjid tak ada izinnya, tak dilarang dan tak disegel,” tulis @hamkahaq. (Itoday.co.id)
Selain itu, di kabupaten Nabire saya tahu bahwa disetiap kecamatan atau desa sudah pasti terdapat rumah ibadah dari keenam agama yang diakui oleh Indonesia. Hal ini fakta yang saya tulis dalam artikel ini. Sampai di sini, jika anda masih kurang yakin, saya sarankan anda bertanya pada tema-teman beragama muslim yang tinggal di Papua.  Lebih mendalam lagi, jika itu pun anda masih belum yakin, saya sarankan anda sendiri ke Papua dan saksikan langsung saat natal atau lebaran berlangsung.
(Baca juga: 5 Alasan Ini Yang Membuat Indonesia Takut Kehilangan Papua )
Dari kasus ini saja, saya rasa anda bisa membandingkan dengan daerah lain soal toleransi beragama. Di daerah lain, kita akan mendengar informasi seperti korban nyawa akibat intolerasi dan segel menyengel rumah ibadah.
Sederhananya, dalam hal independensi dan publikasi informasi oleh media-media besar di negara ini. 1000 kasus yang terjadi di Papua sama halnya dengan satu kasus di tanah Jawa dan daerah laninnya di Indonesia
Sampai di sini, saya yakin anda bisa berkesimpulan bahwa media-media besar di negara ini tidak independen. Hal ini jelas-jelas menyalai aturan jurnalistik itu sendiri. Wajar, di mata negara ini orang Papua dipandang binatang buruan yang terus diburu tanpa tahu dimana akhirnya. Dengan demikian, saya mengajak anda untuk jangan mudah membiarkan mindset anda dibodohi oleh media-media yang tidak netral dan tidak independent. Selanjutnya, jika anda mendengar dan menyaksikan informasi seputar Papua. Saya sarankan tunjukan pemikiran kritis anda sehingga anda tidak mudah terprovokasi dan dibodohi media-media besar di negara ini.

Kedua Dalam artikel ini saya ingin mengajak anda untuk keluar dari mindset yang mempengaruhi cara pandang anda selama ini, sehingga anda dapat memandang setiap persoalan di Papua secara objektif. Ya..karena masalah ini pulah yang membuat konflik horizontal di papua selama 54 tahun.

Pertama anda harus tahu bahwa persoalan Papua bukan soal kesejahteran dan kemiskinan. Persoalan Papua adalah masalah pelurusan sejarah. Yah, Indonesia dengan Papua memiliki sejarah yang berbeda. Selain itu, tradisi dan budaya yang sangat berbeda pula. Dengan demikian, jika anda ingin mengetahui persoalan Papua dari akarnya. Saya memberikan rujukan kepada anda untuk membaca beberapa buku diantaranya, yaitu sebagai berikut:
  • Buku hasil penelitian Prof. Pieter J. Droogleve yang berjudul  "Tindakan Pilihan Bebas" Buku ini jika anda belum memilikinya dalam bentuk hard copy. Saya sudah sediakan dalam bentuk soft copy jadi anda dengan mudah dapat mendowloadnya (di sini) 
  • Buku "Saya Bukan Bangsa Budak". Penulis  Socratez Sofyan Yoman 
  • Buku "Pemusnahan Etnis Melanesia". Penulis  Socratez Sofyan Yoman  
Selain beberapa buku di atas, sebagai tambahan referensi awal untuk anda. Saya sarankan anda untuk membaca beberapa artikel berikut ini. 

Baca juga:

Setelah anda membaca artikel ini dan beberapa buku tersebut. Saya yakin, anda sudah bisa membedakan mana informasi yang akurat dan provokatif dalam persoalan Papua yang terus meminta nyawa ini. Selain itu, anda akan tahu mengapa dan apa dasarnya Papua terus menuntut merdeka kepada negara ini.

Ketiga Kalau selama ini anda hanya melihat persoalan politik di Papua dengan dasar acuan dari pemberitaan media-media besar di negara ini atau membaca buku-buku yang di tulis oleh orang-orang yang pro NKRI. Saya sarankan, lebih baik anda stop berkata "NKRI harga mati". Ya, karena anda hanya melihatnya dari sudut pandang pelaku. Karena itupulah dalam artikel ini saya mengajak anda untuk melihatnya juga dari sudut pandang kami orang Papua sebagai penderita.

Jika anda mengetahui dan memahami persoalan Papua dari dua sudut pandang ini. Saya sangat yakin anda akan mengetahui dan mahami secara mendalam mengapa dan bagaimana rakyat Papua meminta merdeka. Lebih jauh lagi, saya yakin beberapa teman-taman Melayu di  negeri ini telah mengetahui itu.

Keempat ketika anda membaca semua artikel dalam situs ini. Anda akan mengetahui penulisan saya  yang selalu mengkritisi kesalahan-kesalahan negara ini. Bagi saya kritikan itu baik, kerana dapat memberitahu kesalahan-kesalahan saya. Dan hanya dengan kritikan pulah, saya akan mengetahui kekurangan saya. Dalam berargument, saya selalu menjadikan perkataan guru SMP saya sebagai pedoman.
" Jika anda ingin mengalakan sebuah kritikan. Jalan satu-satunya anda harus menerimanya terlebih dulu"
Ya, mungkin maksud guru saya, jika anda menolaknya maka selama itupulah anda tidak akan tahu kesalahan dan kekurangan anda sehingga anda tidak bisa mengubahnya dan menjadi manusia yang lebih baik dan berguna.

Dengan demikian, jika dalam artikel-artikel ini terdapat kekurangan atau kesalahan. Dengan senang hati saya siap untuk menerima kritikan dari anda sekalian. Kritik yang membangun selalu memberi solusi. Kritikan yang terdidik selalu objektik, maka jika anda berkomentar di artikel ini. Saya harap anda menggunakan argumen logis yang diperkaya dengan fakta yang terukur.
Di penutup artikel ini, akhirnya saya ingin mengajak anda. Kawan mari kita saling jujur, terbuka, dan saling mengakui satu-salam lainnya. Karena orang Papua, layak untuk hidup di atas tanah leluhur mereka, memimpin diri mereka, dan menentukam masa depan mereka sebagai bangsa yang beradap di atas muka bumi ini.
Dihaimoma
Dihaimoma Menulis Updated at: June 21, 2016

3 komentar

avatar

Artikelnya menarik om jago.......

avatar
This comment has been removed by a blog administrator.

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.
EmoticonEmoticon