14

4 Poin Ini Pasti Membuat Indonesia Malu dan Tidak Akan Menang atas Perjuangan Papua?

Papua

Papua. Begitu orang-orang menyebutnya. Papua merupakan pulau yang tersohor dengan Sumber Daya Alamnya (SDA). Dalam realitas kehidupan masyarakat Papua kekayaan itu tidak sebanding dengan kondisi kehidupan masyarakatnya. Sejak masa kuasa Indonesia di Papua, masyarakat  Papua mati dan menderita atas kekayaan alam mereka yang begitu berlimpah.

Kekayaan bumi Papua terus dikuras sementara ketertinggalan masyarakat Papua diberbagai bidang kian menggerogoti jiwa bersaing orang Papua.

Sementara itu, Jakarta terus berdalil berjuta triliunan rupiah digelontorkan untuk membangun Papua. Pertanyaannya apakah dana yang diberikan itu sebanding dengan sumbangan daerah Papua untuk negara?

Pada dasarnya semua itu merupakan cerminan dari tindakan awal Indonesia yang menganeksasi Papua. Yah, Indonesia menganeksasi Papua hanya karena sumber daya alamnya yang menggoda, bukan karena manusia Papuanya. Hal ini bisa kita ketahui dari perkatan Alimurtopo yang masih menjadi duri dalam hati rakyat Papua. Kelicikan dan kecurangan ini benar-benar tercermin dalam proses aneksasi Papua yang  terjadi puluhan tahun silam. Dalam prosesnya sejarah bersaksi bahwa terjadi intimidasi, pembunuhan dan yang lebih ekstrim waktu itu, beribu  nyawa masyarakat Papua harus diantar paksa oleh negara ini.

(Baca juga:Memahami Kesalahan Di Masa Lalu dan Akar Persoalan Di Tanah Papua )

Sejak awal Papua dianeksasi oleh Indonesia, kecurangan dan kelicikan itu sudah mulai terlihat.Mana buktinya?Berikut ini di Dihaimoma.com merangkum 4 poin program dan langkah-langkah tandingan yang negara ini pernah buat untuk meredam tuntutan kemerdekaan Papua dengan cara yang tidak manusiawi.


Pertama untuk tetap menanamkan benih koloninya di Papua. Indonesia terlebih dulu keluar dari keanggotaan PBB pada tahun 1965. Alasan utamanya karena PBB menerima Malaysia sebagai anggota tetap PBB yang mana waktu itu Ir. Soekarno menyebut Malaysia sebagai negara boneka buatan Inggris. Hal serupa juga digukan Sang proklamator negara ini untuk menyebut Papua sebagai negara boneka buatan Belanda. Poin ini sebagaimana tercantum pada tiga isi trikora bagian poin satu.

Secara politik keluarnya Indonesia ini bukan semata-mata hanya karena Malaysia tetapi juga untuk meminimalisir campur tangan PBB saat PEPERA berlangsung di Papua. Ya, tindakan ini bisa dibilang berhasil karena dalam penyelenggaraan PEPERA di Papua waktu itu, PBB tidak bisa berbuat banyak . Dari sudut pandang saat ini, bisa dibilang Indonesia berhasil menekan PBB karena pada saat PEPERA berlangsung pada tahun 1969, PBB yang di gertak Indonesia tidak bisa berbuat banyak dalam mengawasi  penyelenggaraan PEPERA di Papua.

PEPERA yang harusnya menurut hukum Internasional harus dilaksanakan dengan satu orang satu suara (one man one vote). Indonesia membuat mekanisme tandingannya sendiri dengan membentuk Dewan Musyawara Pepera (DMP) yang hanya diikuti oleh 1025 orang Papua dari perkiraan populasi 800.000 jiwa hak memilih saat itu.

Kedua kalau anda pernah mendengar dan berkata negara berikan otonomi khusus untuk Papua, maka perkataan itu sangat omong kosong. Lebih tepatnya, anda salah.  Otsus lahir sebagai program tandingan dari negara ini untuk menutupi tuntutan kemerdekaan Papua oleh rakyat Papua.

Ya, hanya orang tidak paham sejarahlah yang akan mengatakan otsus itu pemberian Jakarta untuk memajukan Papua. Selain otsus, UP4B dan beberapa program pendidikan di Papua yang belum lama ini digagas negara sebenarnya program-program tandingan Jakarta untuk meredam tuntutan kemerdekan Papua.

Sederhanya, semakin besar dan semakin mendunia tuntutan kemerdekaan Papua. Semakin besar dan semakin banyak pula program dari Jakarta untuk orang Papua.

Pertanyaanya, bagaimana jika Papua tidak menuntut merdeka? Apakah  setan yang bernama otsus, UP4B, Afirmasi , dan Otus Plus yang sedang dirancang gubernur Papua saat ini  dan program lainya itu akan dikenal Orang Papua? Jawaban dari pertanyaan ini anda jawab sendiri.

Ketiga ketika rakyat Papua membentuk dan mengembangkan oganisasi yang berjuang melawan kolonialisasi di Papua. Negara ini membentuk Barisan Merah Putih (BMP) di Papua. Hal ini anda bisa lihat dari beberapa aksi bakar bendera bintang Fajar yang belum lama ini diramaikan beberapa media besar. Selain itu maraknya demo-demo tandingan anti Papua merdeka yang saat ini sedang marak di Papua.

Soal Barisan merah Putih (BMP) di Papua saya pernah tulis di artikel ini (Baca: Surat Untuk Rakyat Papua- Bukan Hal Baru Barisan Merah Putih di Papua)

Keempat ketika rakyat Papua melalui The United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) mengajukan keangotaan penuh dalam Melanesian Spearhead Group ( MSG). Negara ini membentuk organisasi tandingan MELINDO untuk turut mengajukan keanggotaannya di MSG.

Poin ke empat ini agak aneh. Setelah proses ini berlangsung selama kurang lebih satu setengah tahun. Perdana Menteri (PM) Solomon yang juga sebagai ketua MSG menawarkan dialog antara Papua dan Jakarta untuk mencari solusi dari setiap persolan kompleks yang terjadi di Papua selama ini, malah  ditolak Indonesia dan bahkan Jokowi menolak bertemu dengan PM Solomon. 

Menanggapi penolakan Indonesia, PM Solomon belum lama ini mengatakan

"Sogavare, penolakan presiden Jokowi terhadap permintaan untuk bertemu dengan dia mengenai posisi MSG terhadap Papua Barat merupakan indikasi yang jelas bahwa Indonesia memiliki alasan lain untuk bergabung dengan MSG"(Satuharapan.com)

Salah satu dari alasan penolakan itu karena Indonesia berpandangan bahwa mereka merupakan negara penyelenggara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Padahal alasan PM Solomon bersedia untuk memfasilitasi dialog antara Papua-Jakarta dan meminta bertemu adalah untuk mencari dan menyelesaikan persolan Papua yang terus memakan korban.

Selain itu, PM Solomon berbicara atas fakta pelanggaran Ham berat di Papua. Bagaimana bisa? Dasar acuan  PM Solomon adalah Korban kekerasan dan pelanggaran Ham berat yang dilakukan negara ini terhadap orang Papua sejak tahun1961 sampai saat ini. Indonesia mungkin lupa tetapi badan-badan penggiat Ham nasional dan internasional yang bekerja secara independen dan netral telah mendokumentasikan semua itu dan dengan data itu pula, ketua MSG ini bertindak.

Misalnya, dua tahun lalu komisi Ham Asia mengeluarkan laporan hasil penelitiannya selama 3 tahun yang menyatakan selama tahun 1977–1978 negara telah membunuh lebih dari 400.000 orang Papua. Selain itu misalnya, dokumetasi dari Amnesty internasional dan gereja katolik Australia yang belum lama ini mengeluarkan laporan Ham yang sama.

Jadi sangat aneh jika Indonesia berkata masalah Papua adalah masalah nasional jadi tidak ada intervensi negara lain dengan landasan Indonesia merupakan penyelenggara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Apakah Indonesia mampu bertahan dengan argumen klasiknya?

Sampai di sini pertanyaanya, akankah Indonesia menempuh jalan konprontasi dengan negara-negara yang mendukung kemerdekan Papua seperti dulu Indonesia menekan Belanda dan PBB?. Tidak.

(Baca juga: Indonesia Panik- Melihat Kemajuan Perjuangan Kemerdekaan Papua  )

Zaman ini kita hidup di zaman keterbukan infomasi. Persolan Ham berat yang dilakukan negara tidak bisa dibungkam seperti dulu Indonesia perlakukan orang tua kami. Kami orang Papua akan referendum.

Selain itu beberapa hal yang sebenarnya harus diketahui negara ini adalah sifat ketertutupan yang selama ini Indonesia terapkan terhadap Papua merupakan cerminan dari sifat asli negara ini. Selain itu, sifat ketertutupan itu akan turut membuat orang bertanya dan terus mencari jawabannya.

Yah.. semakin tertutup negara ini terhadap pelanggaran Ham Papua. Semakin cepat pula Papua untuk merdeka.

Selain itu, apakah Indonesia akan menggelapkan semua pelanggaran Ham yang dengan konsisten didokumentasikan oleh badan-badan independen penggiat Ham nasional dan internasional. Apakah Indonesia akan terus berkata pelanggaran Ham itu data bohong sebagaimana di lontarkan menteri luar negeri Indonesia belum lama ini.

Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi, mengatakan laporan mengenai pelanggaran HAM Papua yang dibawa ke PBB itu tidak benar.(Satu Harapan.com)

Sangat disayangkan. Sebentar lagi Papua akan jadi full member di MSG dan itu akan membuka jalan untuk Papua menuju full member di negara-negara PIF yang selanjutnya akan turut mempermudah persolan Papua masuk PBB untuk mencapai referendum itu sendiri.

Sampai di sini, terlihat jelas dan akan terbukti bahwa dulu mungkin dengan mudah Indonesia membantai, memusnahkan, dan menipu orang tua kami tetapi apakah mungkin Indonesia melakukan hal yang sama kepada generasi mudah saat ini? Jawabannya sangat tidak mungkin.

Satu hal yang harus dicatat negara ini adalah dulu orang tua kami kalian bantai dengan kepintaran dan kepandaian ilmu pengetahuan yang kalian miliki tetapi kini waktunya anak-anaknya akan melawan dengan kepandaian dan kepintaran yang sama seperti kalian gunakan untuk menekan orang tua kami. Dengan begitu pula, Papua akan merdeka bukan dengan cara kekerasan tetapi dengan cara damai dan bermartabat sebagai bangsa yang terdidik.


Setelah baca artikel ini, apa pendapat anda?




Dihaimoma
Dihaimoma Menulis Updated at: June 02, 2016

14 komentar

avatar

Fakta jangan disembunyikan. Fakta harus diangkat meluas, pastinya dengan bukti yang akurat.

Karya sudah semakin baik.
Terus berkarya, Tuhan memberkati..

avatar

SALAM PEMBEBASAN BAGI ORANG-ORANG TERTINDAS..FREE WEST PAPUA

avatar

indonesia selalu memberikan perhatian kepada papua dan menjadikan daerah Papua menjadi daerah yang maju dengan memanfaatkan SDM Papua.mari kita barsama-sama mambangun Papua menjadi lebih baik.

avatar

Kitong bicara fakta saja sekarang, siapa yang lebih banyak berbuat, siapa yang lebih banyak membangun... Pemerintah Indonesia. Indonesia cinta Papua... Papua cinta Indonesia. Bagian yang tidak bisa terpisahkan.

avatar

Kita orang papua kadang malas merenungkan apakah yang kita lakukan selama ini adalah benar atau salah. Agaknya kita juga masih picik dalam hal berpikir. Kita melulunya menyalahkan yang lain tanpa kita insaf, apakah yang kita lakukan selama ini adalah yang semestinya.Bukankah begitu?kita orang harus tau sejarah perjuangan papua dulu jd kita orang tra mudah terprovokasi dg pemberitaan bohong yg putar balik kenyataan,yg selama ini hnya bikin suasana konflik tambah parah dipapua..kita orang hanya ingin papua sejahtera dan berkembang bukan hanya dikasih berita2 bohong hnya hasut dan racuni orng papua dan bikin konflik tra jelas,,warga negara yg baik hrs dukung dan ikut dalam pelaksanaan program pemerintah buat kemajuan papua,,tuhan memberkati syaloom....

avatar

mari kitong bersama-sama bangun papua tra usah berfikir mau merdeka, Pemerintah indonesia cinta papua, peduli papua su banyak pembangunan di papua ini .

avatar

Jangan mau bicara merdeka terus, lihat dulu sodara-sodara yg hidup jauh dalam hutan ! sejahtrakan kami dulu.

avatar

Tenang saja, yang bangun Papua silahkan bangun dan yang berjuang untuk freedom tetap jalan. Keduanya penting, karena sama2 bermanfaat bagi rakyat.

avatar

Entah mana yg benar...yg sdh hidupnya mapan dan tdk pernah alami penderitaan biasanya manis dibibir berbicara se akan2 tdk pernah melihat ke kiri kanan...ke pelosok gunung2, ke pelosok pesisir, ke pelosok rawa2 yg dipenuhi oleh hutam magrove...apa memang manusia Papua sdh hidup sejahtera seutuhnya seperti yg kalian rasakan...?
Sedangkan kenyataan hidup sebagian OAP yg hidup diseantero pelosok2 papua ini masih hidup dibawah garis kemiskinan, buta aksara dan kondisi kesehatan yg sangat tragis dialami oleh mereka. Yg jadi pertanyaannya adalah sdh beberapa dekade Tanah Papua di aneksasi menjadi bagian NKRI ini, kemana saja pemerintah NKRI selama beberapa dekade itu tuk membangun Tanah Papua dan OAP...?
Justru memang benar apa yg di ulas oleh sdr Jhon Anari....sebab itulah fakta yg terjadi. NKRI MEMANG TIDAK BUTUH OAP NAMUN HANYA BUTUH SDA-NYA SAJA.

Sekarang intinya...perjuangan tetap berjalan terus...yg bekerja tetap bekerja nikmati apa yg sedang kalian rasakan sebab itu hak kalian demikian juga bagi mereka yg berjuang utk memperjuangkan apa yg mereka yakini dan rasakan tentang ketidak adilan dan perlakuan manusia Papua seperti binatang.

Dimanakah hati nurani kalian OAP yg sdh mapan dalam segala hal sebab sdh menikmati fasilitas dan kenyamanan dlm bingkai NKRI...?

Hanya TUHAN Yang Tau Semuanya.
Jika TUHAN Berkehendak Maka Tidak Ada Yang Dapat Menggagalkan Semua Yang Sudah Di Rancang Oleh TUHAN.

GOD BLESS LAND OF PAPUA.....!
GOD BLESS FREE WEST PAPUA...!

avatar

Ke kesimpulan akhir saja, ANAK-ANAK PAPUA Mau apaaaa,.....?
kalo saya mau "MERDEKA"

avatar

Merdeka lebih bagus....

avatar

Dengan Nama Allah Kami Menginjak Tanah ini ,Tanah PAPUA. PAK GEORGE JERRY Setuujuuu,JIKA ALLAH BERKEHENDAK SIAPAPUN ITU TIDAK ADA YANG BISA TAHAN,NAMUN KITA ORANG PAPUA YANG KAYA SEMAKIN KAYA,YANG MISKIN SEMAKIN DI TINDAS OLEH SAUDARANYA SENDIRI.Mari kita Renungkan diri masing-masing dan Bekerja dengan JUJUR DINEGERI PAPUA,BERJUANG UNTUK ANAK-ANAK YANG MASIH TELANJANG DI GUNUNG,DILEMBAH,DIPANTAI,DI PESISIR YANG BELOM MERASAKAN PENDIDIKAN,SDM JUGA HIDUP YANG LAYAK. ALLAH MEMBERKATI KITA SEMUA SIAPA YANG MENABUR YANG BAIK DI TANAH INI AKAN MENUAI JUGA YANG BAIK,SIAPA YANG BEKERJA TIDAK JUJUR DI TANAH PAPUA ,TANAH INI YANG AKAN MEMAKANNYA 7 TURUNAN.ITU NYATA DAN FAKTA.TULISAN INI HANYA AIR MATA SEORANG MAMA PAPUA

avatar

Papua merdeka!!!!!

avatar

Setuju bro jgn lihat dari satu sisi saja, sodara tdk merasakan selama beberapa dekakade, ini kami menderita mulai dari sekolah, kesehatan, makan minum, padahal kami berdiri di tanah kami west papua.

Maju bro FWP

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.
EmoticonEmoticon