Yudas Iskariot Masuk Surga Atau Naraka? - Dihaimoma Menulis

Yudas Iskariot Masuk Surga Atau Naraka?

- 16:15:00
Yudas
Hampir satu tahun lebih saya dibingungkan oleh sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan agama. Pertanyaan ini terus membuat saya berpikir mencari  jawabannya. Saya berusaha menjawabnya dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan juga agama, tetapi sampai saat ini belum juga memperoleh jawaban yang mengakhiri pertanyaan ini.
 
Saya merupakan orang mudah katolik yang masih awam dan berusaha mencari dan memaknai agama saya secara pribadi tanpa bimbingan Pastor atau Uskup. Dalam artian, saya tidak terlalu paham tiga dasar ajaran katolik, Kitab suci, Magisterium Gereja Katolik, dan tradisi suci yang berkaitan dengan  pertanyaan ini.

Lebih jauh lagi, pertanyaan saya ini bukan untuk  mempertanyakan kebenaran agama atau protes tentang kebenaran agama. 

Jujur saya tidak menghafal satupun ayat dalam kitab suci perjanjian lama maupun baru. Saya juga tidak biasa menafsirkan ayat kitab suci  satu-persatu. Ketika memaknai kitab suci, saya memaknainya secara keseluruhan. Dalam artian tidak per-ayat, tetapi secara terpadu karena takut salah dalam  menafsirkan firman Tuhan.

Pertanyaan ini lahir dari sebuah kenyataan bahwa apa yang tertulis dalam kitab suci perjanjian lama digenapi dalam perjanjian baru. Dalam perjanjian lama  orang meminta pengampunan dosa harus mempersembahkan domba yang tidak bercacat. Dalam perjanjian baru domba itu digenapi oleh pengorbanan Tuhan Yesus sendiri.

Selain itu, dari kedatangan Mesias,  kelahiran-Nya dari keturunan Daud, kematian, dan pada hari ketiga  bagkit dari antara orang mati telah dinubuatkan dalam perjanjian lama. Dalam perjanjian baru semua itu digenapi oleh Tuhan Yesus, bahkan Yesus sendiri telah mengetahui muridnya sendiri yang akan mengkhianatinya. Hal ini bisa kita lihat dari pernyataan-Nya  dalam perjamuan terakhir. Ia berkata kepada para murid-Nya bahwa satu diantara mereka yang akan mengkhianati-Nya. 

Semua itu membuktikan kalau proses penggenapan itu telah diatur Tuhan Allah dan bahkan kematianya pun telah diketahui oleh Yesus sendiri. Meski jauh dari kata sempurna, contoh analoginya sepert ini.

Kalau kita kaitkan dengan sebuah drama berarti peristiwa itu telah disetting sedemikian rupa. Dari alur, tokoh, dan  penokohannya. Dengan demikian Yudas menempati tokoh  sentral yang mengambil peran antagonis dalam peristiwa penggenapan itu. Tanpa kehadirannya, otomatis drama itu tidak akan berlangsung. Dalam konteks ini, Tuhan telah memilih Yudas sebagai tokoh antagonis yang harus hadir dan turut serta dalam penggenapan itu. Sampai di sini jelas, semuanya telah dinubuatkan dan harus digenapi.

Secara penaran Deduktif.

Premis Mayor  : Nubuat harus digenapi. Tuhan Yesus harus dikhianati muridnya. Ia harus mati di kayu salib  untuk menanggung dosa manusia.
Premis minor   :  Yudas harus menjual Yesus .
Konklusi          : Nubuat harus digenapi maka Yudas Iskariot harus menjual Tuhan Yesus.

Dengan logika berpikir ini, saya berkesimpulan Yudas Iskariot tidak bersalah karena ia merupakan tokoh sentral yang terlibat dalam misi Tuhan  untuk menggenapi nubuat-Nya.

Dari sini mungkin akan  muncul dua pertanyaan dari anda. Tingkah Yudas Iskariot menjual Tuhan Yesus merupakan tindakan yang berkenang  dihadapan Tuhan dan sesuai nubuat Allah  ataukah di bawah kontrol Iblis. 

Pertama Jika dibawa kontrol iblis, mengapa Allah membiarkan Yudas untuk dikuasasi Iblis demi  menggenapi nubuatnya?

Kedua Jika Yudas menjual Tuhan Yesus karena kehendak bebasnya, mengapa Tuhan harus memilih Yudas untuk menjadi tokoh antagonis dalam misteri penggenapan nubuat itu? Lebih Jauh lagi, mengapa Tuhan Yesus mengetahui sebagai mana pernyataan-Nya dalam perjamuan terakhir, namun membiarkanya untuk  nubuat itu tergenapi?


Saya hanya mencari jawaban dan pencerahan dari ketidaktahuan saya. Lebih mendalam lagi, saya ingin keluar dari sebuah pertanyaan yang selama ini membuat saya tenggelam dalam puing-puing pemikiran saya sendiri. Alhasil, saya membutuhkan orang yang bisa memberi saya pencerahan dan bisa membawa saya  keluar dari keterpurukan saya ini. 

Siapa saja bisa menanggapinya. Baik pendeta, pastor, atau teman-teman yang memang paham tentang hal ini. Tolong beri saya penjelasan, apakah penalaran dari logika berpikir saya yang salah atau kah memang saya yang salah memaknai peristiwa itu. Saya sangat membutuhkan pencerahan. Terima kasih.

1 Komentar:

avatar

https://www.youtube.com/watch?v=rBHaz2xKbyM

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.

loading...
 

Start typing and press Enter to search