Menunggumu Bersama Mentari - Dihaimoma Menulis

Menunggumu Bersama Mentari

- 14:57:00
Senjah
Aku masih terbaring di kamar berdekor setengah layak. Sembari menanti jawaban darinya, dengan sedikit harap jawaban itu tak akan menjadi yang akhir untuk aku bersamanya. Suasana begitu sepi bahkan lebih sepi dari rumah tak berpenghuni. Posisi kaki hingga tanganku tak berpindah seincipun, hanya saja bola mataku yang perlahan berpindah menjelajahi layar handphone yang kugenggam di tangan kananku. 

Penantian panjangan tak kunjung terjawab. Malam yang dingin ditambah hempasan angin yang berbaur dengan aroma stela yang merasuki hidungku membujuk otak serta mataku untuk tak bertugas.  Aku mencoba mengedipkan mataku dan mengajak otakku untuk bekerja sejenak memikirkan jawaban itu. Mereka tak kunjung mampu untuk di ajak nalar.

Waktu kian beranjak menjemput hari pagi. Hembusan dingin angin malam terus menaikan tensinya. Ditabah lagi dengan irama merdu nyanyian reggae yang menggelora di telingaku membuat aku harus merangkak kesamping untuk mengambil selimut anti dingin yang belum lama kutukar dengan rupiah. Ku selimuti tubuhku yang nampak lelah di atas kasur berukuran dua badan orang dewasa yang kupunyai.

Aku masih menunggu jawaban dari rasa yang  sempat terungkap dihadapan cewek itu. Sebut saja namanya  Rini. Beberapa bulan telah berlalu tanpa kata dan bahasa. Kotak masuk dalam hanphoneku belum juga nampak pesan, dari nomor kontak yang bertulikan sayangku di dalam hanphoneku.
Kami lelah menunggu jawabnya malam ini. Aku dan kontak masuk pesan itu. Entah apa yang dipikirkan kontak pesan itu, terhadap pujaanku. Aku hanya menatapnya dan menunggu perintah darinya untuk memberi tahuku tentang pesan masuk darinya.

                                                  ***

Hari ini aku terbangun  mendahului si raja pagi. Ayam. Ku putar otakku  hendak kembali mengingat penantian nihil itu. Ku sapa dia, teman sepembaringanku itu untuk melihat pesan masuk. Ia masih tergeletak di samping bantal guling. Ku ulurkan tangan kananku untuk menggenggam handphone itu dengan sedikit harap. Pesan itu akan tampil di layarnya.
Dugaanku benar. Pesan sewajah surat tampak di layar handphone itu. Ku tatap dengan tajam pesan itu. Ku arahkan ibu jariku tepat di atas pesan. Kubuka pesan itu.

Kampre...ttt. Pesan itu dari telkomsel. Semua rasa dan suasana yang bersahabat itu hilang sekedip mata. Ku lemparkan handphone itu ke tempat semula.

Ku buka jendela dan kuarahkan pandanganku ke arah pepohonan yang  tumbuh berjejer di pinggiran kamarku. Suasana masih remang. Tetesan embun yang mengalir di daun dan ranting pepohonan itu berjatuhan dan berbaur bersama hamparan daun kering.

Ku arahkan lagi pandanganku kearah sudut timur jagat ini. Belum juga nampak sang penerang. Kini penantianku bertambah. Menunggu mentari dan jawaban dari purnamaku.  

Kuhabiskan sisa waktuku di jendela itu. Sembari menunggu mereka. Entah siapa yang menjadi pertama. Dalam hatiku atau yang di pandanganku.
Belum lama kutunggu sahabat itu berdering. Bertanda pesan baru. Ku balikkan pandangangku di atas tempat tidur yang berserahkan. Kulihat sebuah pesan tampil di layar hanphoneku . Ku tatap lagi dengan saksama, pengirimnya bertuliskan sayangku.

Kubuka pesan itu dan terus kubaca isinya.

“Maaf menurut aku kita temanan aja. Lagian sejak awal kita hanya berteman. Aku hanya malu dipandangan teman-teman lain. Sekali lagi maaf ya”. Tulisnya di pesan itu.

“Tidak apa–apa, aku sependapat denganmu. Lagian aku yang terlalu bego, mengutamakan birahi dari pada sebuah ikatan perahabatan”. Tulisku membalas pesan itu.

Ku kirim pesannya dan kuletakan handphone itu di tempat semula. Aku hanya terdiam dalam sunyi.

                                                          ***

Sang bintang raksasa itu tampak di ufuk timur. Penantian hati tak juga terisi. Penantian indra kini terpenuhi. Kelegaan dan kehilangan berbaur dalam rasa. Kini jawaban yang telah melegenda itu tersingkap, tetapi juga hilang bersama sang waktu. 

Dia berlalu hari ini, tetapi bukan cintanya. Cinta dan rasa tetap hidup. Hanya tubuh dan jiwanya yang takku kumiliki. Akankah benar ia mampu memusnahkan rasa yang terus mengusik tubuh dan jiwa. Tidak.

Aku hanya kehilangan dia yang tak lagi mencintaiku sepenuh hati, tetapi ia kehilangan orang yang memcintainya dengan sepenuh hatinya. Ini hanya rasa bukan apa yang tampak. Cintah itu abstrak. Esok akan ada hari siangku, dikalah mentari menuntunku hingga keujung senja.

***

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.

loading...
 

Start typing and press Enter to search