Menanggapi Persiapan Pesta Demokrasi Di Kab. Dogiyai - Dihaimoma Menulis

Menanggapi Persiapan Pesta Demokrasi Di Kab. Dogiyai

- 19:45:00
Dihaimoma menulis
Persoalan mengenai pesta demokrasi tidak akan pernah habis dibahas. Apalagi di negara ini. Demokrasi baru berumur jagung. Beberapa orang di negeri ini akan sepakat. Penerapan demokrasi di negeri ini bertumbuh setelah era reformasi.

Kurang lebih sebelas bulan lagi pesta demokrasi akan berlangsung di kabupaten Dogiyai. Saat ini para peserta telah bersiap untuk bermain peran di panggung demokrasi. Peserta tanpa penonton otomatis pertunjukan itu tidak akan demokratis. Masyarakat suku Mee khususnya di wilayah Mapia dan Kamuu akan turut mengambil bagian dalam pesta tersebut.

Setiap peserta yang akan tampil di panggung demokrasi memiliki latar belakang yang berbeda. Baik pendidikan, visi, misi dan strategi yang akan digunakan. Masyarakat akan memilih berdasarkan  pertimbangannya sendiri.

Pertimbangan yang dimaksud di sini banyak hal. Kedekatan individu sampai kesesuaian kinerja dan  visi misi para peserta akan menjadi pertimbangan masyarakat. Hal ini memang harus terjadi, karena pada dasarnya dalam pesta demokrasi keterlibatan langsung masyarakat merupakan empuhnya demokrasi.

Sosok seperti apa yang akan menjadi idaman masyarakat Dogiyai?

Pergulatan dalam dunia perpolitikan, khususnya politik berlandaskan demokrasi secara pribadi belum terlalu banyak yang saya ketahui. Meski demikian dari analisa pribadi, seorang pemimpin yang paham akan kedua poin dibawa ini sangat dibutuhkan masyarakat Dogiyai.

Pertimbangan kondisi masyarakat

Pertama masyarakat kabupaten Dogiyai tidak seperti masyarakat di kabupaten Nabire yang heterogen. Di Dogiyai masyarakatnya homogen. Kodisi ini merupakan kondisi real di lapangan.

Peserta yang memandang Dogiyai dari sisi ini. Sangat dibutuhkan. Dia (peserta) harus memandang masyarakat Mapia maupun Kamuu secara setara. Masyarakat homogen merupakan modal awal bagi peserta untuk menerapkan program dan kebijakan yang setara antara kedua wilayah.

Kesetaraan yang dimaksud pada artikel ini adalah pembagian secara merata bidang-bidang yang berpengaruh dalam struktur pemerintahan dan pemerataan program-program dari daerah maupun yang langsung dari pusat dalam penerapannya.

Misalkan dalam program pendidikan. Bila dari Mapia lima orang diberi beasiswa untuk berstudi dibidang kedokteran, maka lima orang lainya harus dari Kamuu. Jika ingin lebih mendalam, setiap marga dari kedua wilayah turut dipertimbangkan dalam pemerataan itu. Hal ini memungkinkan terlaksananya pemerataan yang menyeluruh.

Asumsinya, jika pemerintah melaksanakan pengiriman dalam 10 tahap dengan jumlah 20 orang pertahap, maka dapat dipastikan pemerataan itu menyentuh hingga ke rana tiap marga yang ada di kedua wilayah.

Lebih mendalam lagi pemerataan saja sangat tidak cukup. Pemerataan harus diimbangi dengan ketepatan. Kemampuan akademi peserta beasiswa dan latar belakangnya turut menjadi pertimbangan.

Selain itu jika pemimpin kecamatan diangkat. Harus disilang. Putra asli wilayah Kamuu di tempatkan di wilayah Mapia. Begitu juga sebaliknya. Jika ada yang mengajukan untuk bertugas di wilayah asalnya. Bila perlu langsung diberhentikan.

Persilangan kepemimpinan ditingkat distrik ini bertujuan untuk membangun dan menjaga emosional kekeluargaan yang sejak dulu berlangsung.

Kedua peserta yang akan bermain peran harus memahami filosofi hidup rumah tangga orang tua suku Mee dalam membangun rumah tangga dengan beristrikan lebih dari satu. Dalam artian pemimpin baru harus dapat mengatur kedua kubu masyarakat tersebut sebagaimana orang tua suku Mee yang mengatur dan mengarahkan istri-istrinya secara merata.

Dia (peserta) yang akan memimpin Dogiyai ibarat seseorang yang menikahi dua istri sekaligus. Hal ini karena di Dogiyai meskipun masyarakatnya homogen. Dalam cara pandang dan karakteristik masyarakat Dogiyai telah dihancurkan oleh kepemimpinan sebelumnya. Penyebab kehancuran ini akan dijelaskan lebih lanjut.

Pertimbangan wilayah

Pertama kabupaten Dogiyai meskipun memiliki  masyarakat yang homogen. Dalam konteks wilayah, mereka memiliki batas- batas yang dapat membedakan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Batas ini berupa batas wilayah administrasi dalam kabupaten dan batas wilayah adat atau kepemilikan tanah yang menjadi warisan nenek moyangnya.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa Dogiyai meskipun masyarakatnya homogen dalam konteks wilayah. Mereka berada.

Hal ini artinya meski masyarakatnya homogen. Letak geografis suatu daerah  turut mempengaruhi tuntutan kebutuhan masyarakatnya. Sehingga calon pemimpin baru yang akan berkompotisi harus paham tuntutan kebutuhan masyarakat dari kedua wilayah tersebut. Dari segi letak wilayah maupun kondisi masyarakatnya

Paham bukan hanya dari kesamaan masyarakatnya, tetapi juga dari letak geografis yang turut mempengaruhi tingkat kebutuhan masyarakat.

Kedua Dogiyai membutuhkan pemimpin baru yang memasyarakat, calon pemimpin harus bisa berbaur dengan masyarakat. Turun dan rela mendengarkan pendapat mereka. Bila perlu bukan hanya penerapan program yang merata, tetapi mendengarkan aspirasi mereka secara langsung untuk menyamakan pendapat dan pandangan sebelum penerapan program.

Persoalan yang  sedang dan akan terjadi di lapangan

Para aktor pesta demokrasi yang akan bertarung di panggung demokrasi. Sekurang-kurangnya mereka  akan di hadapkan pada tiga poin persoalan.

Pertama kepemimpinan sebelumnya membuat krisis kepercayaan yang besar dikalangan kedua kubu masyarakat ini. Krisis  ini bukan hanya terjadi dikalangan masyarakat, tetapi juga di kalangan kaum intelektual.

Masyarakat Kamuu tidak lagi mempercayai seorang pemimpin dari Mapia dan sebaliknya. Persoalan ini lahir dari banyak hal misalnya kepemimpinan sebelumnya yang bisa dikatakan kontra produktif.

Selain itu persoalan yang lahir dari kurangnya  pemerataan yang dimaksud pada bagian sebelumnya. Misalkan anggapan masyarakat seperti periode sebelumnya yang memimpin Dogiyai dari Mapia. Periode ini harus di dipimpin oleh putra asli Kamuu. Bukan hanya itu masih banyak lagi persoalan yang  sedang terjadi di lapangan.

Poin intinya beberapa persolan itu membuat masyarakat terpecah belah. Hasilnya kedua kubu masyarakat ini merasa memiliki budaya, bahasa, dan tradisi yang berbeda. Padahal mereka merupakan masyarakat homogen, yang membedakan mereka hanya batas-batas wilayah administrasi dalam kabupaten dan batas wilayah secara tradisioal.

Kedua kita sepakat bahwa seharusnya  makna demokrasi  itu harus memberikan hak istimewa kepada masyarakat untuk memilih tanpa desakan dan money politik. Tetapi bukan tidak mungkin di lapangan uang akan menjadi tuan atas demokrasi.

Ketiga peserta yang akan maju dalam pesta demokrasi tersebut. Apabila terdapat pasangan calon bupati dan wakil bupati dari satu daerah maka pasangan itu tidak akan bertahan.

Contohnya jika pasangan calon bupati dan wakil bupati keduanya berasal dari Mapia atau keduanya berasal dari Kamuu, maka menurut pendapat saya pasangan tersebut akan tersingkir dibabak awal.

Para calon pasangan yang menempuh formasi silang dalam pesta demokrasi mendatang kemungkinan besar pasangan tersebut akan bertahan.

Contohnya, dalam satu pasangan bila calon bupati dari Mapia maka calon wakil bupatinya harus dari Kamuu. Atau sebaliknya, calon bupati dari Kamuu  maka calon wakil bupatinya dari Mapia.

Pasangan dengan formasi silang ini akan bertahan. Setidaknya membuat para colon pasangan dengan metode silang ini akan bersaing dan satu di antara pasangan-pasangan itu pasti akan berhasil.

Kesimpulan

Dari pembahasan panjang diartikel ini. Pada dasarnya Dogiyai bukanlah milik individu tetapi milik bersama. Solusi demokratis dari persoalan ini bukan lagi siapa yang akan memimpin tetapi siapa yang akan memajukan Dogiyai dengan merata dan bertanggung jawab.

Menurut saya, saat ini tolok ukurnya bukan lagi dari mana asal pemimpinnya, tetapi bagaimana orang yang akan memimpin tersebut dapat melihat kedua wilayah itu secara seimbang. Lebih khusus lagi masyarakat  yang mendiami kedua wilayah itu.

Siapa pun yang akan menjadi pemimpin untuk Dogiyai. Catatan terpentingnya adalah demokrasi bukanlah milik pribadi pemimpin Dogiyai, tetapi milik rakyat. Demokrasi di negara ini menganut paham dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
Rakyatlah yang menjadi empuhnya demokrasi. Pemimpin harus demokratis dalam merespon tiap kebutuhan masyarakatnya.
Siapa pun yang akan terpilih untuk memimpin Dogiyai itulah hasil akhir dari pesta tersebut. Pertanyaannya apakah pemimpin baru untuk Dogiyai mampu melepaskan Dogiyai dari daftar kabupaten tertinggal yang diumumkan orang nomor satu di negeri ini. Mari kita menunggu hasilnya?


Setelah membaca artikel ini. Apa pendapat anda?

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.

loading...
 

Start typing and press Enter to search