Hanya di Indonesia - Dihaimoma Menulis
0

Hanya di Indonesia

- 05:46:00

DihaimomaSebagian besar wilayah negara Indonesia terdiri dari perairan itulah sebabnya negara ini dijuluki dengan negara Maritim. Soal kekayaan alam, keanekaragaman budaya, bahasa, dan suku  di negara ini tidak dapat diragukan lagi. Negara ini merupakan Negara kepulauan terluas di dunia. Luas Wilayah  1,904,569 km2 dan Presentase Wilayah Air 4,85 % dengan Jumlah  17.508 pulau.

 
Di balik kekayaan itu terdapat pula kekurangan yang hampir setara dengan nama besarnya. Kekurangan-kekurangan yang dimaksud di sini lebih khususnya adalah kekurang yang berkaitan dengan Penegakan hukum dan pelanggran HAM. Terlebih lagi, kekurangan-kekurangan itu dapat dibilang unik karena sangat jarang terjadi di negara  demokrasi lainnya,  khususnya didaerah  serba modern ini.
 
Berikut ini dihaimoma.com merangkum dari berbagai sumber khususnya beberapa kasus besar  yang terjadi di Indonesia namun tidak pernah ada respon dari pihak berwenang dan meskipun direspon pada pengambilan keputusan dan penuntasannya kadang terlihat unik. Unik karena diluar batas kewajaran /seharusnya.

1. Hanya di Indonesia 
"Hanya di Indonesia ratusan orang yang gagal menjadi wakil rakyat pada gila. Sampai sampai ada rumah sakit untuk merawat para calon wakil rakyat yang gagal. Hanya di Indonesia seorang bupati menikahi seorang gadis muda dan beberapa hari kemudian dilengserkan karena kasus itu, namun dapat menjadi seorang wakil rakyat (DPD ). Hanya di Indonesia, 300 kepala daerah dihukum  penjara karena melakukan korupsi termasuk sejumlah bupati dan para istri mereka. Dan hanya di Indonesia, guru dan kepala sekolah bersekongkol untuk mendongkrak nilai siswanya agar siswanya masuk pada sekolah favorit . 


Hanya di Indonesia sekitar 1980-an dan 1990-an banyak lembaga pendidikan menawarkan gelar S1 hingga S3 dan bahkan Profesor  dengan bayaran yang mudah dan berpariasi tergantung pada jenjang yang diinginkannya. Bahkan seorang tukang pijat pun pernah menggantungkan ijazah doktor dan profesor di ruangan kerjanya. Hal ini terjadi sebelum ada peraturan pemerintah yang melarang ”barang siapa yang menggunakan gelar palsu diancam hukuman pidana".


Dan yang terakhir hanya di Indonesia pada tahun 2015 di temukan salah satu Universitas yang berdiri  selama 12 tahun dan memberikan ijzah palsu kepada yang membutukannya. (lihat Komunikasi Media dan Masyarakat, Deddy Mulya Dkk)"

2. Hanya di Indonesia anggota Militer menembak mati siswa, tetapi kasusunya tidak di proses sampai tuntas alias tidak d adili pelakunya.


Dihaimoma
Hanya di Indonesia para penjaga kedaulatan yang di pandang abdi negara dan pengayom masyarakat menembak mati anak sekolah tetapi tidak ada tindak lanjut dari pemerintah. Misalnya, seperti  pada 8 Desember 2014 belasan orang tertembak di Enarotali ketika menanyakan penganiayaan terhadap dua pemuda yang diduga dilakukan oknum aparat kepolisian.

Masyarakat yang menanyakan kasus tersebut disambut dengan tembakan oleh aparat dan mengakibatkan korban sisiwa SMA Negeri 1 Paniai. Para korban adalah Alpous Youw (18), Alpius Gobay (19), Simon Degei (19), Yulianus Youw (18), dan Abia Gobay (18). 

Dihaimoma
Kemudian Juli lalu, seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) Yoteni Agapa tewas ditembak aparat keamanan di Ugapuga kabupaten Dogiyai.  Sedangkan, Melianus Mote terluka akibat tikaman sangkur di tangannya"
"Bukan hanya itu, kasus anggota menembak siswa pernah terjadi juga di Timika"
Pada 28 September 2015 sekitar pukul 19.00 Waktu Papua Barat, aparat menembak mati Kalep Zera Bagau (18),  pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Petra, Timika, Papua dan menembak Efrando I.S. Sabarofek (17) yang juga siswa SMK Petra, Timika.

3. Pembunuhan  Theys Hiyo Eluay. Hanya di Indonesia setelah membunuh para pelakunya memperoleh pangkat lebih besar.

Theys Hio Eluay
"Hanya di Indonesia  pembunuh  masyarakatnya sendiri menyandang pangkat besar. Pada tanggal 10 November 2001, Theys Hiyo Eluay diculik dan ditemukan tidak bernyawa dalam mobilnya di Jayapura.  

Made Supriatna, seorang peneliti dan wartawan lepas, menulis di situs indoprogress.com. Hartomo (Akmil 1986) salah satu pelaku pembunuh Theys saat pembunuhan terjadi berpangkat Letkol, sesudahnya menyandang pangkat brigadir jenderal dan menjabat sebagai Komandan Pusat Intel Angkatan Darat (Danpusintelad). Terdakwa lain, Mayor TNI Donny Hutabarat (Akmil 1990), sempat menjabat sebagai Komandan Kodim 0201/BS di Medan, dan setelah pembunuhan menjabat sebagai Waasintel Kasdam Kodam I/Bukit Barisan.Sementara, Kapten Inf. Agus Supriyanto (Akmil 1991), yang juga terlibat dalam pembunuhan itu, sempat menduduki jabatan sebagai komandan Batalion 303/Kostrad. Perwira terakhir yang terlibat dalam pembunuhan Theys adalah Lettu Inf. Rionardo (Akmil 1994). Selanjutnya menjabat sebagai Paban II Srenad di Mabes TNI-AD"

Artikel di atas dirangkum dari bernagi sumber, jika perlu untuk ditambahkan atau ada kasus yang belum dimuat silahkan berkomentar di blog ini.


                       Silahkan utarakan pendapat anda?
Advertisement

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search