Bagi Orang Papua Gubernur, Camat, dan DPR Lebih Berwibawah Dari Pada penguasaan Sains, Teknologi, dan Teknologi - Dihaimoma Menulis

Bagi Orang Papua Gubernur, Camat, dan DPR Lebih Berwibawah Dari Pada penguasaan Sains, Teknologi, dan Teknologi

- 19:42:00

 dihaimoma menulis untuk memperkenalkan tanah Papua
Pada hakikatnya Papua membutuhkan pemimpin yang tangguh dan paham akan ketiga norma yang menjadi dasar bagi orang Papua.  Norma agama, adat, dan pemerintah. Bukan hanya paham akan materi tetapi juga paham dalam penerapan norma-norma tersebut.

Lebih jauh lagi, sangat tidak cukup bagi  Papua hanya memiliki seorang pemimpin hebat. Seorang pemimpin hebat membutuhkan orang-orang berintelektul yang dapat memperkuat dan mendukung penerapan program-programnya.

Seorang pemimpin akan tangguh ketika norma-norma itu dapat di terapkan sesuai tuntutan kebutuhan. Baik jangka pendek, menengah,  maupun panjang. Kesesuaian antara penguasaan dan penerapan itu terjadi dalam sebuah kepemimpinan jika sains dan teknologi dapat dikuasai oleh suatu negara atau daerah yang sedang berkembang .

"Saat ini kebutuhan orang Papua bukan seorang pemimpin kepala daerah dan ahli pemerintahan yang hebat"

Mengapa demikian, mari kita lihat?

Sejauh ini saya pribadi berpandangan pemimpin bagi orang Papua sangat banyak. Kita beri pembatas generasi muda tahun 70-an ke atas, bahkan di bawa tahun itu. Sakin banyaknya, di Papua dalam pesta demokrasi tidak jarang nyawa yang harus dibayar. Di Papua bukan hal aneh ketika pesta demokrasi berujung di Mahkama Kosntitusi (MK).

Demokrasi kok, hampir setiap pesta demokrasi di Papua selalu berujung di MK? Jangan-jangan kita orang Papua belum paham makna demokrasi itu sendiri. Entalah.

Persoalan utama hal ini terjadi karena orang Papua merasa lebih bermartabat disebut pemimpin pemerintahan (politik) dari pada seorang, dosen, fisikawan, biologikus, dokter, peneliti, teknik sipil, arsitektur, manufaktur geologikus dan sebagianya. Sederhananya, bagi orang Papua jabatan  bupati, Camat, dan DPR lebih luar biasa dari pada seorang imuwan/peneliti.

Padahal dewasa ini kita sepakat maju dan tidaknya sebuah negara atau pemerintahan bukan dari seorang pemimpin yang hebat, tetapi penguasaan sains dan teknologi suatu negara atau daerah. 

"Penguasaan sains dan teknologi menentukan sukses atau tidaknya sebuah kepemimpinan"

Pertanyaanya di Papua sains dan teknologi sudah memasyarakat atau belum?  Soalnya yang akan mengubah dunia adalah penguasaan sains dan teknologi.

Apa masalahnya?

Masalah yang timbul dari pandangan ini bisa kita lihat dari beberapa kasus yang terjadi di Papua.

Pertama seperti kasus proposal pembangkit listrik  di Deiyai yang ditolak Berkali-kali. Ditolak pemerintah hanya karena proposal tersebut tidak memenuhi syarat. Berikut saya kutip dari kompas.
“Sudirman, harus ada kelengkapan administrasim studi kelayakan, hingga detail engineering. Edisi Jumat, 13 /11 2015”
Kedua masalah kematian 66 anak dibawa umur 10 tahun di kabupaten Nduga. Akibat dari kurangnya tenaga ahli. Pemerintah Papua kewalahan mengetahui penyebabnya. Bahkan pemerintah khusnya dinas kesehatan provinsi Papua meminta bantuan keluar Papua (kemenkes).

Berikut ini saya kutip dari beritasatu.com edisi 21/1/216.

“Dinas Kesehatan Papua sesungguhnya sudah menulis surat kepada Menteri Kesehatan, agar dibantu membasmi dan menanggulangi penyakit aneh tersebut. Tetapi hingga kini belum ada tanggapan”

Dari dua poin ini, kita dapat mengasumsikan. Jangankan ilmuwan, lembaga riset Papua saja  masih diangan.

Sepengetahuan saya, dimasa pemerintahan Belanda lembaga penelitian di Papua secara resmi dibentuk dari inisitif Dr. Jan van Baal, mantan Hoofd van Plaatselijk Bestuur di Mindiptanah yang juga perna menjabat sebagai Gubernur Gouvernement van Nederlands-Nieuw Guinea. 

Dari penelitian–penelitian yang dilakukan pemerintah Belanda, baik yang berkaitan dengan bahasa-budaya serta kekayaan alam Papua, sampai saat ini masih tersimpan rapi di Belanda.

Selain dari hasil kajian dan publikasi yang dilakukan secara pribadi para ilmuwan Belanda. Terdapat pulah  jurnal umum  seperti Vademecum 1956,  Nederlands Nieuw-Guinea, Nieuw Guinea Studien.

Pembentukan ini terkendala ketika Papua berintegrasi dengan Indonesia. Di masa pemerintahan Indonesia, lembaga ini  terbentuk  pada Tahun 2009. Gubernur Suebu menerbitkan Keputusan Nomor 111 Tahun 2009 Tentang Pembentukan TIM Pelaksana Riset Papua Periode Tahun 2009-2014. Dari   terbentuknya lembaga itu sampai saat ini, belum terlalu menunjukan kemajuannya.

Mengapa hal itu terjadi di Papua?

Kenyataanya mayoritas  orang Papuakan selalu melihat dari apa yang tampak. Dalam artian  tidak analitik. Untuk mendukung argumen  ini saya akan berikan satu contoh analogi dari sebuah persolan yang menjadi trending topik di beberapa media nasional.

Bukan tidak mungkin ketika melihat dan mendengar ketenaran Gubernur Jakarta yang akrab di sapa Ahok, wali kota Badung Ridwan Kamil, atau  pun juga orang nomor satu di negara ini. Banyak orang Papua mungkin  beranggapan Papua membutukan pemimpin  seperti mereka. 

Bagi saya pandangan seperti itu sangat  keliru, karena apa?

Para pemimpin tersebut  terlihat berani dan  tangguh karena mereka tahu ketika mereka menjabat, di belakang mereka terdapat ratusan  Doktor, ribuan Profesor dan Ilmuwan  yang siap mendorong dan membantu mereka dalam penerapan tiap programnya.

Kalau konteks Papua meski pemimpinnya hebat. Soal urusan sains, teknologi, riset, dan lainya  sudah pasti orang luar yang akan di datangkan ke Papua 

Jangan heran bro.. jika pemerintah Papua harus buang kas Daerah untuk mendatangkan orang luar. Jangankan kasus besar,  sebut saja soal penelitian atau uji kelayakan dalam penerapan suatu program.  Sudah pasti pemerintah harus berani mengeluarkan miliaran rupiah.

Gan, saat ini bukan kita hidup  di era  tahun  60-an. Sekarang zaman orang berperang menggunakan ilmu pengetahuan. Penguasaan Sains dan teknologi sangat berperan penting di zaman ini.

Kita sepakat seorang pemimpin jika berbica tentang penerapan program- programnya ia akan berbicara di atas data valid, terukur berdasarkan hasil  penelitan dan riset.

 Kalau seorang pemimpin asal bicara saya yakin pasti ia orang stres atau para pemilihnya yang stres.

"Dari beberapa poin di atas  saya sebagai pribadi  berpendapat Papua tertinggal karena kesalahan orang Papua sendiri. Khususnya pemerintah daerah dan minimnya kesadaran generasi mudah Papua tentang   pentingnya  penguasaan sains dan teknologi"



Apa solusinya?

Sebenarnya persolan ini dapat di atasi dengan memanfaatkan  program-program yang di berikan perintah pusat. Sejauh ini  program dari  pemerintah pusat  di bidang pendidikan untuk orang Papua  sangat banyak dan bahkan dana yang dicairkan tidak sedikit,  maka efisiensi  penggunaan dana dan pemanfatan program-program dari pemerintah pusat oleh pemerintah daerah  yang sangat tidak akurat.

Langka pertama yang harus di tempu  Pemerintah daerah adalah  mengembangkan lembaga riset Papua yang disinggung pada bagian sebelumnya. Lembaga ini  tanpa sumber daya manusia yang singkron  dengan bidang-bidangnya sangat mustahil  untuk berkembang.

Pemerintah harus mengutamakan bidang-bedang langkah khususnya di bidang sains dan teknologi. Bukan memperbanyak pemerintahan yang nantinya menciptakan demokrasi kesukuan dan keluarga  di Papua. Dari langkah ini, orang Papua akan memiliki lembaga riset yang di segani.

Pandangan ini sesuai dengan  kekayaan alam Papua dan keanekaragaman budaya dan bahasa. Dengan lahirnya para ilmuwan Papua di bidang sain dan teknologi yang di imbangi dengan lembaga riset yang unggul maka kepemimpinan akan terarah. Dalam artian, hasil dari riset tersebut dapat memberi kemudahan kepada para pemimpin di Papua dalam setiap kebijakan yang hendak di ambil maupun penerapan programnya. Setelah hal itu diterapkan pemerintah daerah, barulah kita dapat menyamakan dan mengharapkan pemimpipin seperti, Ahok, Kang Emil, dan Jokowi.
.
 "Dan selama hal- hal kecil yang menjadi vital dalam sebuah kemajuan dan perubahan suatu negara atau daerah, seperti yang di jelaskan pada bagian atas, tidak di utamakan. Pemimpin sebaik apapun  di Papua akan selalu terkendala dalam menerapakan program-programnya.
Selain itu, jika generasi mudah Papua mau pun pemerintah daerah menomorduakan sains dan teknologi. Selama itu pulah sains dan teknologi akan memperbudak  orang Papua. Hasil akhirnya  jangan tersentak jika generasi mendatang akan mempelajari bahasa, budaya, frola, fauna, kekayan biota laut dan lain sebagainya yang terdapat di Papua  dari bangsa lain. 


                    Bagaimana pendapat Anda?

6 Komentar

avatar

benar gan saya juga sependapat, menurut saya bukan hanya di Papua, kasus semacam ini (mendewakan) orang "beruang" merupakan sabuah penyakit untuk negara-negara berkembang.Indonesia misalnya.

avatar

gitu gan, ini baru templatenya enak gan...

e, gan tanti hapus saja tu header, pake huruf saja...

tapi kalau mau belajar buat header pake gambar, coba ketik kata kunci, buat header blog pake corel draw..

gitu gan...

avatar

Trims gan untuk masukannya. Saya sudah menghapus gambar headernya. Kalau nanti bisa saya desing baru muat kalau tidak ya... begini sja dulu.

avatar
This comment has been removed by the author.
avatar

MantaP saya setuju dng tulisan anda salut dan menarik...Trimakasih banyak sudah berbagi

avatar

MantaP saya setuju dng tulisan anda salut dan menarik...Trimakasih banyak sudah berbagi

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.

loading...
 

Start typing and press Enter to search