Apakah Indonesia Menggunakan Pendekatan Persuasif Untuk Papua? - Dihaimoma Menulis
0

Apakah Indonesia Menggunakan Pendekatan Persuasif Untuk Papua?

- 02:51:00
Pemukulan mahasiwa Papua di Bundaran HI
Sejauh ini penanganan tuntutan kemerdekaan Papua masih terus dilakukan negara dengan berbagai pendekatan. Baik menggunakan pendekatan persuasif maupun koersif, namun setiap penanganan itu tidak membuahkan hasil  dan selalu  saja dihadapakan pada jalan buntuh.
 
Seperti yang sering dilakukan oleh setiap negara dalam mengatasi konflik yang mengancam  keutuhan suatu negara. Indonesia pun mengunakan cara koersif dalam menangani persolan-persolan di Papua tetapi jawaban yang sering dilontarkan para petinggi negara.


"Negara mengutamakan pendekatan persuasif untuk menangani persolan Papua"

Tanggapan dan ucapan seperti ini sebenarnya dapat di pahami dengan sederhana. Hal itu   dilakukan negara untuk  mengendalikan situasi, meredam desakan Internasional, dan mencegah keterlibatan negara lain dalam masalah internal  negara ini. Padahal tindakan tersebut dapat mengakibatkan persolan yang hendak diatasi makin membesar. Apa lagi jika persolan yang dimaksud berkaitan dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)  dan persolan yang berbau sara.

Kapan negara menggunakan pendekatan Koersif dalam menangani Persolan Papua?

Kita harus mengakui bahwa pelanggaran yang di lakukan negara terhadap orang Papua sangat besar. Mulai dari Papua berintegrasi secara administratif  pada tahun 1963 sampai dengan Papua berintegrasi penuh dengan Indonesia pada 1969 dan masih juga  berlangsung hingga saat ini. Selama   periode itu, tercatat beberapa pelanggaran Ham berat  yang di lakukan  negara terhadap orang Papua. Persoalannya, negara tidak perna mengakui itu  dan selalu bangga dengan ucapan pendekatan persuasifnya. Lalu muncul pertanyaan, mana dan apa saja pelanggaran  yang di lakuka negara?

Berikut ini saya kutip  salah satu laporan kekerasan negara terhadap orang Papua dari situs humanrights.asia.

"Asian Human Rights Commission (AHRC) dan Human Rights and Peace for Papua (ICP) meluncurkan sebuah laporan mengenai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di Pegunungan Tengah Papua, Indonesia, selama tahun 1977–1978. Laporan ini membahas pelanggaran-pelanggaran atas Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida yang dilakukan pemerintah Indonesia pada periode tersebut. Laporan yang merupakan hasil penelitian selama tiga tahun oleh AHRC ini mengungkapkan kematian lebih dari 4,000 orang Papua, termasuk anak-anak, akibat operasi yang dilakukan oleh tentara Indonesia. Masih kurang yakin?  baca  "(baca di sini)
 Setelah kita mengetahui kekerasan negara terhadap orang Papua dari kutipan di atas. Dapat kita bertanya. Jika laporan tersebut memuat kekerasan negara terhadap orang Papua  dari tahun 1977-1978 dengan jumlah korban jiwa 4.000 orang, maka  berapa korban orang Papua sejak tahun 1961-1977 dan berapa korban orang Papua dari tahun 1979 sampai saat ini?

"Jawaban dari pertanyaan di atas, anda menjawab sendiri"

Laporan tentang kekerasan negara di atas meskipun  sudah  diketahui negara ini, para petingginya selalu berpendapat masalah Papua merupakan masalah Internal Indonesia. Berikut saya kutip pendapat Aburizal Bakrie dari liputan6.

"Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menjelaskan permasalahan yang terjadi di Papua kini bukan sebuah isu Internasional, melainkan masalah internal Indonesia yang dapat diselesaikan dengan cara sendiri" (Baca di sini )
Pendapat di atas hanya salah satunya, karena hampir semua  petinggi negara ini akan sependapat dengannya (Aburizal Bakrie). Bukan  hanya itu rahasia genosida yang hendak dilakukan negara ini beberapa kali di bocorkan oleh pihak luar negeri khususnya Australia.

Apa saja dan kapan dokumen-dokumen itu di bocorkan? 

Anda dan saya  tentu masih ingat, pada tahu 2011 silam negeri ini di kejutkan dengan dokumen rahasia KOPASSUS  yang  di bocorkan media Autralia. Dalam dokumen itu memuat tentang tokoh-tokoh yang vocal  menyurakan  kemerdekaan Papua.  Dokumen bertahun 2006-2009 itu adalah laporan analisis detail tentang anatomi gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka, serta orang-orang yang dicurigai memberikan dukungan dan simpatinya kepada mereka.
"Mana faktanya? Anda masih kurang yakin, download dokumennya, (di sini). Ini hanya bukti kedua, di Papua tidak ada pendekatan persuasif dan orang Papua sedang punah diburuh"
Selain itu beberapa bulan terakhir berbagai media di Australia mempublikasikan sebuah dokumen rahasia BIN  yang diduga dikelurkan pada  bulan Maret 2014 silam. Dokumen tersebut membuat tentang tokoh-tokoh yang dicurigai sebagai penggerak kemerdekaan Papua. Para tokoh terseut terdiri dari sejumlah elemen, baik dari kalangan pemuka agama, aktivis politik dan mahasiswa. Selain itu dokumen itu juga memuat kelemahan-kelemahan para  tokoh tersebut. Berikut seperti dikutip  dari Viva.ci.id.

"Dokumen BIN bahkan juga turut menyebutkan kelemahan-kelemahan para tokoh Papua, mulai dari wanita, hingga alkohol. Tak cuma itu, BIN juga disebut telah merancang berbagai strategi yang dapat melemahkan gerakan Papua Merdeka"baca di sini). Jika anda belum mengetahui  dokumen BIN yang dibocorkan beberapa bulan lalu silahkan anda download (Di sini)
 Dari beberapa poin contoh di atas, kita dapat  ketahui bahwa pernyataan negara selama ini yang menyangkal mengunakan pendekatan represif dan koersif  sangat konyol untuk di percaya.

Lalu apa dampak negatif  dari point-ponit di atas terhadap orang Asli Papua?

Poin-poin di atas memperlihatkan bukan tidak mungkin  pada tahu  2050 ke atas, orang Papua akan menjadi minoritas dan bahkan bisa dibilang akan punah di atas tanahnya sendiri. Hal serupa juga pernah diutarakan  Leo Imbiri setretaris umum Dewan adat Papua.
Populasi penduduk asli Papua terus menyusut sementara di sisi lain, pendatang dari daerah lain terus berdatangan ke Papua. "Hari ini jumlah penduduk asli Papua dibanding pendatang berapa, mungkin pendatang lebih besar. (viva.co.id pada tahun 2011)
Selain itu, bisa juga kita ketahui kepunahan orang Papua dari hasil publikasi Dr. Jim Elmslie dan Dr. Camelli Webb Gannon, dari University of Sydney's for Peace & Conflict Studies Australia yang hasilnya sangat mencengangkan.
Dari data tersebut kembali dinalisis oleh Pemerhati Fenomena Sosial di Tanah Papua, Ir. Yan Ukago, MT dengan menggunakan matematis grafis segresi non linier. Dari analisisnya menunjukan  bahwa 2040 orang asli Papua akan  punah (baca disini)
Setelah beberapa poin di atas  dapat kita simpulkan bahwa, Pendekatan persuasif untuk orang Papua yang  selama ini sering diutarakan pemerintah Indonesia sebenarnya di balut dengan segalah pendekatan yang sangat tidak manusiawi yang ujung-ujungnya hanya untuk memusnahkan orang Papua.

Selain itu, point-point di atas masih terus akan berlangsung selama Jakarta menerapkan setiap program- program yang menurut mereka baik dan benar. Dan lebih  jauh lagi, bukan tidak mungkin orang Papua punah di atas tanahnya sendiri dan cerita lama seperti orang Amborgin di Australi dan orang  Indian di Amerika akan terjdi di Papua.

Setelah membaca artikel di atas. Bagaimana pendapat anda?
Advertisement

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search