INILAH 6 POIN BUDAYA LUAR YANG MENJADI BUDAYA DAN TRADISI ORANG PAPUA - Dihaimoma Menulis
0

INILAH 6 POIN BUDAYA LUAR YANG MENJADI BUDAYA DAN TRADISI ORANG PAPUA

- 14:29:00
Dewasa ini kita akan menemukan beberapa budaya dan tradisi   luar yang telah berakar  dan menjadi bagian dari Orang Papua. Namun sebelum melangkah ke poin-poin tersebut mari kita lihat perbedaan antara tradisi dan budaya secara sederhana.

Secara awam atau sederhana  tradisi  dapat diartikan  sebagai sesuatu yang telah dilakukan  secara turun- temurun dan terjadi dalam   kehidupan suatu kelompok masyarakat yang  berada dalam suatu wilayah negara,kebudayaan, waktu, atau agama. Hal yang  paling fundamental  dari  tradisi adalah adanya informasi yang diterus atau diwariskan  dari generasi ke generasi baik secara lisan  maupun  lisan.Tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat dikatakan   punah.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Jadi Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Apa saja budaya -budaya luar   yang telah menjadi baudaya  dan tradisi orang Papua?

1.Party Mini 

Party Mini atau yang biasanya disebut kewa/acara dalam bahasa lokal  merupakan budaya luar  yang sampai saat ini bisa di katakan sudah menjadi budaya orang Papua dan akan menjadi sebuah tradisi di kalangan anak muda di Papua untuk selanjutnya.

Hal ini bisa kita amati di Papua, meskipun moment kecil seperti ulang tahun yang seharusnya dirayakan dan berlangsung dalam keluarga dengan tenang pun, tidak jarang dimerikan  dengan Party Mini.

2.Mabuk

Pada dasarnya mabuk memiliki banyak definisi,tetapi mabuk yang dimaksud  disini adalah  suatu kondisi dimana seseorang mengkonsumsi minuman beralkohol dan membuat sang konsumen  lepas kendali. Contoh sederhananya saya yang  juga pernah mengalami hal demikian. Padahal produk-produkan  tersebut secara jelas menuliskan peringat  pada botol  minun tersebut  "minum  secara bertanggung jawab" (lihat Angker kaleng)

Hal ini pun terjadi di seluruh Papua,tetapi padasarnya  tidak terjadi pada semua orang Papua dalam artian tidak semua orang Papua pemabuk. Dikalangan  beberapa anak mudah jika bertnya tentang  nama  dan merek minuman beralkohol,mereka  sangat  menguasainya. Tetapi jika  bertanya tentang bagaimana cara mengkonsumsi yang benar  mungkin sedikit  dari mereka yang dapat menjelaskannya. Selain itu kuat dan tidaknya seseorang  mengkonsumsi minuman keras menjadi nilai tambah bagi pelaku. Orang yang kuat mengkonsumsi minuman keras di pandang pria sejati.

Sampai-sampai ada Mob (cerita anekdot khas Papua)  yang  beredar di Papua " Ketika salah satu orang Papua berkunjung ke Jakarta mengikuti temannya. Ia melihat  beberapa orang pinggiran  bermukim di pinggiran tokoh, apartement, dan dibawa jembatan tol, maka Pace Papua yang  melihat keadaan tersebut  bertanya  kepada  temannya. Mengapa orang -orang Ini bermukim disini? Ia menjelaskan mereka ini orang-orang yang pendapatannya kecil dan bahkan uang untuk makan saja kadang tidak ada, jadi mereka begitu.

 Mendengar penjelasan itu  Pace Papua  merespon. Kawan  kita di Papua kalau  banyak uang.Kita  tidur di pasar, Parit, dan pinggiran tokoh,tetapi kamu di jawa ini, kalau ada uang tidur di kasur yang empuk,apartement dan hotel.

3.Sukuisme, rasisme dan margaisme

Sejak dahulu orang Papua  hidup berkelompok dan saling toleran. Belakangan hal-hal tersebut mulai hilang ditelang  arus zaman. Kekompakan  mulai  tidak ada di kalangan orang Papua. Sekarang yang ada  hanya orang Papua pantai merendakan orang  Papua gunung.Begitu juga sebaliknya  orang gunung merendahkan orang Papua  Pantai. Bukan hanya itu di kalangan gunung pun mulai di spesifikasi ke tingkat wilayah dan  kesamaan bahasa. Lebih spesifik lagi marga dan keluarga.Dan hal itu pun  terjadi pulah pada orang Papua yang bermukim di daerah pesisir Papua.

4. Nasi mengganti Makanan tradisional

Di Papua kita akan melihat sagu dan ubi menjadi makanan alternatif terakhir setelah tidak ada nasi. Makan nasi bukan merupakan budaya dan tradisi  orang Papua. Hal ini bisa kita lihat dari setiap bahasa derah di Papua. Hampir tidak memiliki kata nasi dalam bahasa daerah,karena bahasa hanya terbatas pada budaya. Misalnya dalam bahasa Mee karena tidak ada kata untuk nasi, maka kata tersebut  di adopsi dari bahasa   Indonesia dengan kata "nati" begitu juga dengan yang lainya.

Dengan demikian bukan tidak mungkin budaya dan tradisi makan nasi  akan menjadi budaya dan tradisi orang Papua untuk generasi  selanjutnya.Selamat tinggal sagu dan ubi Papua.

5.Fasilitas budaya

 Generasi muda Papua telah lupa bahkan tidak megetahui pakaian,noken, rumah  adat, dan semua tradisi nenek moyang mereka yang menjadi warisan budanya. Mereka lebih tertarik dengan kecangihan dan kemajuan modernisasi dan globalisasi.

Persoalan yang dimaksud disini bukan generasi mudah Papua  harus mengenakan pakaian adat,melakukan tradisi neneknya setiap saat, atau pun juga  tetap mempertahankan budaya dan tradisi Papua  untuk menolak budaya dan tradisi modern.Tetapi jika anak muda Papua tidak pernah mempelajari budaya atau tradisinya dan satu atau dua kali mengenakan pakaian adatnya masih merasa  malu-malu itu menunjukan, bahwa budaya  orang Papua sedang tenggelam bersama arus zaman ini.

Bukan tidak mungkin bebera puluh tahun kedepan Jeans  dan pakaian modern akan mengantikan semua itu.

6.Bahasa

 Beberapa bahasa  di daerah  Papua  bisa di katakan telah punah. Jika bahasa  telah punah maka budaya  pun akan punah. Karena  antara budaya dan bahasa ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat di pisakan.

Bukan tidak mungkin bahasa-bahasa di Papua akan di gantikan oleh rumpun bahasa-bahsa besar di dunia seperti  bahasa  Inggris,Mandarin,Indonesia dan lain sebagainya.

Persoalan-persoalan  dia tas ini  jika tidak di tangani mungkin akan menjadi tradisi  dan budaya orang Papua  untuk generasi selanjutnya.

Pertanyaannya,setelah Ana Mee baca artikel di atas, apakah ada dari point-poin di atas  yang telah menjadi budaya dan tradisi orang Papua? Atau ada yang perlu di tambahkan?


 Catatan.


Kata Ana Mee di atas  merupakan kata dalam bahasa Mee yang berarti "Sahabatku"
Advertisement

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search