Apakah Benar Semua Doa Itu Baik? Baca Arikel Ini - Dihaimoma Menulis

Apakah Benar Semua Doa Itu Baik? Baca Arikel Ini

- 01:04:00


Berdoa
Sebagai umat beragama kita dituntut untuk selalu berdoa kepada sang Ilahi. Doa menurut KBBI adalah permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Doa-doa kita terkadang Tuhan mengabulkannya dan kadang juga tidak sesuai dengan apa yang kita  mememohon kepada-Nya. 

Terlepas dari itu apapun doa kita, Tuhan selalu memberi apa yang kita butuhkan dari pada apa yang kita inginkan. Hal ini mungkin karena sebagian besar dari keinginkan kita yang selalu bertolak dari keinginan untuk memuaskan hawa nafsu kita. Dalam artian doa itu selalu bertolak dari kehendak bebas manusia yang keinginannya selalu tidak terbatas.

Berdoa berarti melaksanakan kegiatan doa. Dan  dapat di katakan hampir semua populasi manusia di dunia pernah dan telah melakukan doa kepada Tuhan. Dalam artike ini, saya akan berbagi tentang  cara membedakana antara doa yang baik dan doa yang buruk.

 Sebagai catatan, saya bukanlah ahli kitab ataupun ahli agama, tetapi saya hanya orang awam yang  akan berbagi artikel ini menurut pendapat saya. Jadi jika terdapat kekurangan atau pun menjelekkan suatau pihak tertentu saya mohon dimaafkan.

Bagaimana kita membedakan  doa yang baik dan doa yang buruk?

Sebelum melangkah pada penjelasan  antara doa yang baik dan doa yang buruk. Terlebih dulu Saya  sajikan sebuah cerita menarik sebagai bahan analogi untuk membedakan antara doa yang baik dan buruk.

Suatu ketika turnamen tamiya berlangsung disebuah daerah. Sebut saja di daerah Tanah Abang Jakarta. Dalam acara tersebut, banyak peserta dari penjuru Jakarta berdatangan untuk mendaftarkan diri. Panitia pelaksana menginformasikan bahwa pendaftaran akan ditutup dua hari kemudian dan perlombaan akan berlangsung tiga hari setelah pendaftaran di tutup.

Peserta yang mendaftar merupakan anak-anak kecil. Orang tua mereka bisa dikatakan orang yang "berada" dalam artian pendapatan orang tua diatas rata-rata. Tamiya yang mereka miliki pun merupakan tamiya tercanggih dan terbaru. 

Dari sekian banyak itu, satu peserta yang mendaftar merupakan anak orang pinggiran. Sebut saja namanya Martinus. Kehidupan Martinus bisa dikatakan makannya pun hanya sabtu dan kamis dalam seminggu. Dia bersedia mendaftarkan diri karena ia memiliki tamiya yang diwarisi dari dua generasi sebelumnya. Yaaa, karena kakek buyutnya dulu suka berlomba tamiya. Karena tamiya tersebut diwarisi dari dua generasi sebelumnya, maka tamiya tersebut jauh dari kelayakan.

Lima hari telah berlalu, turnamen pun dimulai. Panitia memberi waktu 30 menit untuk mengujicoba tamiya yang mereka miliki. Sementar yang lain melakukan ujicoba. Dari kejauhan salah seorang panitia melihat Martinus sedang menundukkan kepala di tengah kerumunan peserta turnamen dan berdoa. Melihat tindakan Martinus itu, panitia tersebut hanya mendiamkannya.

Tiga puluh menit berlalu. Perlombaan pun dimulai. Dan akhirnya perlombaan itu dimenangkan oleh Martinus. Melihat kejadian itu. Salah satu panitia yang tadinya melihat Martinus berdoa, menghampirinya dan bertanya kepada Martinus.

"Heyy Martinus, tadi berdoa kepada Tuhan supaya kamu menang ya?" Sembari bergurau.

"Kakak jika saya berdoa supaya Tuhan memenangkan saya dalam perlombaan ini, berarti saya sangat egois". Jawab Martinus.

"Tadi saya berdoa dan minta kepada Tuhan, agar Tuhan tidak buat saya menangis jika saya kalah dalam turnamen ini". Lanjutnya lagi.

Kakak panitia itu akhirnya terdiam tanpa kata. Setelah menerima hadiah ia (Martinus) beranjak dari tempat itu dan pulang untuk merayakan kemenangannya.

Semoga sukses selalu buat Martinus.. pikir kakak panitia itu dalam hati.

Pada dasarnya, persoalan doa yang baik dan buruk hanya Tuhan yang dapat menilai doa-doa kita. Tetapi jika benar ukuran doa yang baik dan buruk itu seperti cerita diatas, maka dapat dikatakan bahwa kita terkadang sangat egois dalam berdoa kepada Tuhan. 

Analogi sederhana dari cerita di atas sekurang-lebihnya mengajarkan kita untuk memahami bahwa ketika kita berdoa, berdoalah untuk sesuatu yang bukan untuk memuaskan hawa nafsu kita, tetapi bagaimana kita dapat kuat menghadapi segala tantang yang datang dalam realitas kehidupan kita.

Janganlah meminta beban yang ringan, tetapi mintalah bahu yang kuat untuk memikul beban. Terlepas dari cerita diatas, yang pasti hanya Tuhan yang dapat menilainya.

                                                 --Semoga bermanfaat-              
                                                           

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.

loading...
 

Start typing and press Enter to search