Menengok Kembali Perkembangan Akal dan Hati Dalam Peradaban Manusia Serta Implikasinya Dizaman Serba Modern - Dihaimoma Menulis

Menengok Kembali Perkembangan Akal dan Hati Dalam Peradaban Manusia Serta Implikasinya Dizaman Serba Modern

- 22:24:00
Menulis untuk memperkenalkan Papua
Pendahuluan 
Pada hakekatnya kehidupan manusia secara garis besar dapat kita pandang dari dua sisi. Dari sisi abstrak dan konkret. Konkret merupakan sisi kehidupan yang dapat kita amati dengan indra baik secara langsung maupun degan bantuan teknologi. Abstrak berarti hal-hal yang hanya dapat kita rasakan namun tidak dapat kita amati secara empiris seperti halnya filsafat, pendidikan, agama dan lain-lain. Kedua sisi dibutukan keseimbangan dan jika terjadi ketidak seimbangan maka kodratnya sebagai manusia akan tergoyak.

Ketika kita melihat kembali peradaban manusia. Sejak Yunani kuno Akal logis dan hati (iman) saling mendominasi. Dimana ada masa akal yang mendominasi begitu juga sebaliknya ada masa hati (iman) yang mendominasi dan ada saatnya keduanya menang dan juga ada saatnya keduanya kalah dan membuat manusia tidak memiliki pijakan yang kuat untuk menjadi penuntun kehidupan.

Disini perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan hati adalah iman atau mistik yang menghasilkan pengetahuan supralogis seperti agama yang mengajarkan tentang keberadaan akan sang Ilahi. Sedangkan akal logis adalah akal manusia yang menghasilkan pengetahuan logis yang disebut dengan fisafat. Dari filsafat inilah segala jenis pengetahuan berkembang mewarnai kehidupan manusia. Salah satunya sains dan teknologi yang akan kita bahas pada bagian selanjutnya.

Pertarungan pertama, kedua paham ini terjdi antara relativisme kaum ofisme dan socrates. Masa ini disebut juga masa Yunani kuno. Masa dimana akal logis dan hati (iman) diragukan. Orang-orang di masa itu tidak memiliki pegangan yang dapat menjadi penuntun hidup. Tetapi dengan kehadiran tokoh filsuf Socrates menghapus kejayaan akal dan keraguan manusia. Ia membuat akal dan hati kedua-duanya menang. Dalam artian kedua-duanya dapat dipegang menjadi penuntun hidup manusia.

Pertarungan kedua terjadi pada abad pertengahan yang dikenal identik dengan dasar paham “Credo ut intelligen” (percaya dulu supaya tahu) ( khusnya di filsafat barat) yang dikeluarkan oleh St.Anselmus. Para filsuf pada abad ini lebih didominasi oleh hati (iman) maka mereka identik dengan credo itu dan ini menjadi ciri khas filsuf abad pertengahan (204 M-Abad ke 15-16). Hal ini menunjukan masa kejayaan iman dan akal kalah total.

Tokoh penting dimasa ini yang mengembalikan akal dari kejayaan iman abad pertengahan adalah Descartes. Ia kembali mengalakan iman dan merebut kembali akal dari cengkraman iman dengan pandangannya, maka Ia sering disebut juga sebagai tokoh rasionalisme pertama yang serius pada zaman modern.

Masa ini merupakan masa hidup kembalinya akal. Akal mengalakan hati (iman) namun sayangnya dengan terpuruknya hati (iman) atau dengan kekalahan abad pertengahan membuat masa ini menjadi masa yang sama dengan masa Socrates. Dimana rasionalisme Descaretes dan idealisme George Berkely ditolak oleh paham empirisme yang membuat (akal) dan agama kembali diragukan.

Masa ketiga adalah masa dimana Sofisme Modern dan Immanue Kant. Pada tahap ketiga ini Kant kembali menghidupkan atau memenangkan kedua-duanya. Iman dan akal keduanya harus dipegang menjadi pegangan hidup manusia. Kant menghadapi sebuah persoalan yang terjadi antara rasionalisme dan empirisme yang membuat krisis kepercayaan dalam kehidupa manusia di masa itu. Persolan itu membuat akal dan iman sama-sama terpuruk.

Dengan demikin mari kita tengok secara ringkas masa-masa kejayaan tersebut. Dimulai dari masa Socrates yang memenangkan akal dan hati (iman) dari relativisme kaum Sofis, untuk keduanya harus dipegang. Kekalahan akal dan kemenangan hati (iman) di abad pertengahan. Kekalahan iman dan kemenangan akal oleh dalil Descartes dan Emmanuel Kant yang membuat keduanya harus dipegang dari tangan Sofisme modern, serta implikasinya di zaman kita yang serba modern ini.

Akal Dan Hati Dimasa Socrates

Pertarungan pertama ini terjadi (± 470SM) karena kaum sofis menganggap “semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya. Tidak ada pengetahuan yang kebenarannya bersifat umum. Pada masa itu mereka ini dikenal juga dengan relativisme kaum Sofis. Mereka (kaum sofis ) berpandangan apa yang benar menurut A belum tentun menurut B benar begitu juga sebalinya. Untuk melawan kaun ini Socrates mencoba menjelaskan bahwa ada kebenaran objektif.

Pengetahuan yang bersifat khusus itulah pengetahuan yang kebenaranya relatif. Jadi di sini Ia (socrates) ingin menjelaskankan bahwa ada kebenaran yang objektif dan bersifat umum. Dimana semua orang sepakat kalau hal itu benar adanya.

Contohnya, apakah kursi itu? Ketika kita memeriksa semua kursi di dunia ini misalnya pada kursi hakim kita akan menemukan ada tenpat duduk dan sandaran. Kursi malas ada tempat duduk dan sandaran. Kursi sofa ada tempat duduk dan sandaran, namum setiap kursi ada yang berkaki tiga, ada yang berkaki dua, ada yang berkaki empat. Bahannya pun berbeda, ada yang terbuat dari rotan, ada yang dari besi, ada yang berbahan plasti dan lainya. Nah, sekarang kita melihat pada setiap kursi–kursi itu selalu ada dua hal yang melekat “tempat duduk “dan” sandaran” maka orang-orang akan sepakat bahwa kursi itu adalah tempat duduk dan sandaran. Ini merupakan kebenaran objektif.

Sedangan kuris itu terbuat dari bahan kayu, rotan, besi, dengan kakinya satu atau dua atau tiga merupakan kebenaran relatif karena setiap kursi pada umumnya memiliki ciri khas yang berbeda. Penjelasan Socrates ini sangatlah sederhana jika kita pandang dari sudut pandang saat ini. Namun pada saat itu pemaparan ini bukanlah hal yang mudah untuk meyakinkan manusia yang terkondisi dalam satau paham. Hal ini pula yang membuat Socrates harus kehilangan nayawanya dan pandangannya tentang definisi ini mampu untuk menghentikan laju kemajuan kaum relativisme sofis. Akhirnya manusia pada masa itu tidak lagi hidup tanpa pegangan kebenaran. Akal logis dan iman (agama) mulai di pegang bersama-bersama.

Akal Dan Hati Pada Masa Abad Pertengahan

Pertarungan kedua ini terjadi karena iman mendominasi akal. Akal sangat-sangat terpuruk pada masa ini. Para tokoh filsuf memandang rendah sains atau akal logis manusia. Masa kejayaan iman ini terjadi dengan hadirnya tokoh filsuf seperti Plotinus (240-270) selanjutnya St. Agustinus Hippo (354-430) St. Anselmus(1033-1109) dan St. Thomas Aquinas(1225-1274). Seperti yang di singgung pada bagian sebelumnya para filsuf abad pertengahan ini identic dengan Credo ut intelligen (percaya agar mengerti atau percaya lebih dulu supaya mengerti ) kredo ini dikeluarkan oleh St. Anselmus yang selanjutnya menjadi ciri khas filsuf abad pertengahan. Hal ini juga yang membuat para filsuf ini memandang rendah akal logis manusia dan yang paling utama adalah iman atau wahyu.

Dasar-dasar dalam pandangan ini terlebih dulu diletakkan oleh St. Agustinus Hippo yang mana agustinus pun di pengaruhi oleh pandangan Plotinus dan seterusnya pandangan Agustinus mempengaruhi St. Anselmus dan St.Thomas Aquinas. Pandangan–pandangan St. Agustinus sampai saat ini menjadi dasar doktrin kedua aliran besar agama Kristen yaitu Katolik dan Protestan.

St. Agustinus sangat dikagumi baik dari protestan maupun katolik karena dalil-dalilnya. Bahkan penyebab perpecahan antara kedua aliran ini terlebih karena dasar ajarannya, dimana Marthen Luter yang di besarkan dari biara Agustinian banyak di pengaruhi oleh pandangan-pandangan St. Agustinus Hippo.

Masa kejayaan abad pertengahan ini membuat akal logis manusia terpuruk dan hampir terlupakan. Hati (iman) mendominasi kehidupan manusia. Sains dipandang rendah hal ini bisa dilihat dari pandngan Plototinus yang selanjutnya mempengaruhi St. Agustinus, St. Anselmus dan seterunsnya. Sains lebih rendah dari pada mentafisika, metafisika lebih rendah dari pada keimanan. Surga lebih berarti dari pada bumi sebab surga itu tempat peristerahatan jiwa yang mulia (lihat Ahmad Tafsir, 2012:71). Pandangan Plototinus inilah yang kira-kira mempengaruhi para filsuf abad pertengahan selanjutnya.

Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa pada masa abad pertengahan ini menganggap alkitab dan wahyu lebih penting dari pada sains. Akal logis manusia atau sains hanyalah membuang-buang waktu di dunia ini. Hal ini tercermin dari ungkapan–ungkapan mereka sebagai berikut.

Plototinus ”Sains lebih rendah dari pada metafisika, metafisika lebih rendah dari pada keimanan”(Ahmad Tafsir, 2012:71). Pandangan St. Agustinus sekalipun iman adalah yang pertaman iman dapat di perkuat oleh pengetahuan rasional. Pemikiran tidak mungkin bertentangan dengan iman sebab kedua-duanya datang dari sumber yang sama yaitu Tuhan. Sebenarnya pengetahuna pada tingkat paling tinggi tetaplah rendah. Kita mesti menggantungkan diri sepenuhnya pada cahaya Tuhan. Cahaya yang dapat menerangi jiwa kita. Disini Ia lebih fokus pada pengetahuan yang memerlukan pencerahan Ilahi.(Ahmad Tafsir, 2012:88).

Pandangan St. Anselmus yang merupakan pencetus credo yang dijelaskan diatas berpendpat ”iman kepada kristus adalah yang paling penting sebelum yang lain" (Ahmad Tafsir, 2012:95) selanjutnya St. Thomas Aquinas berpendapat semua objek tidak dapat diindra tidak akan dapat diketahui secara pasti oleh akal. Oleh karena itu kebenaran ajaran Tuhan tidak dapat mungkin dapat diketahui dan diukur dengan akal. Kebenaran ajaran Tuhan diterima dengan iman. Sesuatu yang tidak dapat diteliti dengan akal adalah objek iman. Pengetahuan yang diterima atas landasan iman tidaklah lebih rendah dari pada pengetahuan yang di peroleh dengan akal. Paling tidak, kebenaran yang diperoleh dengan akal tidak akan bertentang dengan wakyu (Ahmad tafsir, 2012:104).

Berdasarakan uraian itu kita dapat mengetahi adanya dua jalur pengetahuan menurut Aquinas yaitu, jalur akal yang dimulai dari manusia dan berpikir pada Tuhan dan yang kedua jalur iman yang dimulai dari Tuhan (wahyu) didukung oleh akal. Dengan demikian secara sederhana dapat di katakana bahwa abad pertengahan selalu melibatkan Tuhan dalam memandang alam raya. Dan ini menunjukan bahwa abad pertengahan lebih didominasi oleh hati (iman), akal kalah total.

Kekalahan itu membuat apa yang sudah diperjuangan oleh Socrates untuk menghidupkan akal logis dan iman (agama) menjadi retak. Pertanyaanya jika pada masa kejayaan relativisme kaum sofis yang memandang rendah iman dan akal diselamatkan oleh Socrates. Dan membuat akal dan iman kedunaya musti dipegang menjadi penuntun jalan hidup manusia maka sekarang siapa lagi yang akan menyelamatkan keduanya dari kekalahan akal? Mari kita melangkah ke bagian selanjutnya.

Masa Kejatuhan Abad Pertengahan (Kekalahan Hati/Iman)
                        -Descartes (1596-1650)-

Pada masa ini, masa dimana manusia mulai berpikir bagaimana keluar dari pengaru agama Kristen yang mendominasi wilayah Barat. Gereja memegang kekuasan tertinggi dan menempatkan iman sebagai yang utama. Hal ini membuat akal logis mengalami kekalan.

Beberapa filsuf mulai lahir khususnya paham rasionalisme yang menentang bahwa untuk mendapatakan pengetahuan dan pemecahan masalah-masalah dalam kehidupan manusia, manusia sangat memerlukan akal logis.

Mereka berusaha membangun apa yang telah disembunyikan sebelumnya oleh kejayaan hati (iman) yaitu, akal logis. Masa kejatuhan abad pertengahan di atas ditandai dengan munculnya istilah Renaissance,  re + narci. Artinya lahir kembali (rebirth). Istilah ini sering digunakan oleh sejarawan untuk mengacu pada berbagai kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa,dan lebih luas lagi Italia sepanjang abad ke-15 dan ke-16 (Ahmad Tafsir 2012:124-125)

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, sebagai perlawanan terhadap kejayaan iman (hati) mulai bermunculan beberapa filsuf besar pada masa ini seperti, Deskartes, Spinosa, dan Leibnis. Mereka mencoba menghidupkan kembali apa yang dicanangkan oleh Thales di masa Yunani kuno. Thales telah menerapkan rasionalisme dalam filsafatnya. Dan ini dilanjutkan dengan jelas sekali pada orang-orang sofis dan tokoh-tokoh penentangnya Socrates, Plato, Aristoteles (Ahmad Tafsir:128).
Pada bagian ini perlu dipahami bahwa Thales disebut sebagai fisluf pertama yang berpahan rasionlisme karena Ia merupakan orang pertama yang mengunakan akal logis (rasional) dalam mempertanyakan bahan dasar terbentuknya bumi ini.
Pada zaman modern dalam filsafat biasanya dimulai dari hadirnya Deskartes. Dia merupakan tokoh filsuf pertamanya yang berfokus membangun rasionalisme yang diinjak oleh kejayaan hati (iman). Sebenarnya Descartes sendiri hanya membangun apa yang telah ada sejak Yunani kuno yang mana dasarnya-daranya diletkan oleh Theles. Dia berargumen dasar filsafat haruslah akal, bukanlah perasaan, bukanlah hati, bukanlah iman, bukanlah ayat suci dan lainya.

Pada tahap ini Descartes mulai menyusun metode cogitonya yang terkenal di masa itu. Dia mulai meragukan semua benda yang dapat diindra. Dan Ia bertanya apa sebenarnya yang dapat dipercaya bahwa hal itu sesunguh-sungguhnya ada.

Dalam mimpi, halusinasi, ilusi dan roh jahat juga benar-benar ada jika dilihat dari posisi kita saat bermimpi, halusinasi, ilusi dan roh jahat seperti nyata adanya. Jadi meskipun dalam mengalami hal-hal itu maupun dalam dunia nyata ada tiga hal yang benar-benar melekat dan ada pada kejadian nyata maupun dalam mengalami mimpi, halusinasi ,ilusi, dan roh jahat. Tiga hal itu gerak, jumlah, dan besaran. Selanjutanya Ia mulai bertanya apakah mungkin tiga hal itu benar-benar ada? Ia mulai meragukaanya. Tiga hal itu terdapat dalam matematika.

Ia mulai mengujinya, katanya matematika dapat salah. Saya sering salah dalam menjumlahkan angka. Salah mengukur besaran, juga demikian pada gerak. Jadi ilmu pasti pun masih dapat saya ragukan. Ilmu pasti lebih pasti dari pada benda, tetapi saya masih meragukannya. Jadi benda dan ilmu pasti pun Ia ragukan.

Tahap selanjutnya Ia mulai memahami ada satu hal yang benar-benar saya tidak dapat meragukan. Tidak satu setan licik pun dapat meragukan aku, tidak seorang skeptis pun mampu meragukannya, yaitu “saya sedang ragu”  jelas sekali saya sedang ragu. Tidak dapat diragukan bahwa saya sedang ragu. Jadi boleh saja saya ragukan benda-benda yang dapat diindra dan benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi dan sebaginya, karena tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan nyata dalam dunia mimpi dan ilusi pun saya bisa mengalami hal-hal seperti biasa saya alami dalam dunia nyata, tetapi mengenain benar-benar “saya sedang ragu ” tidak dapat diragukan bagaimana pun dan oleh siapapun.

Ini adalah hal yang benar saya sedang ragu. Dengan dasar itu Dercartes berkata Aku yang sedang ragu itu disebabkan oleh “aku berpikir” kalau begitu aku berpikir pasti ada dan benar. Jika aku berpikir ada, berarti aku ada, sebab yang berpikir itu aku. Aku berpikir jadi aku ada (Cagito ergo sum). (Ahmad Tafsir 131). Jadi dapat kita pahami bahwa Ia ingin mengatakan “badanku boleh saja diragukan adanya, tetapi aku yang berpikir tidak dapat diragukan. Setelah proses panjangan itu Descartes meletakan pondasi yang kuat. Akal itulah basis yang terpercaya dalam berfilsafat.

Selanjutnya Spinoza memperkuat kuasa akal dan pada Hobbes rasionalisme itu dikembangkan menjadi ateisme dan materialisme yang kental. Adanya jiwa (roh) telah dihilangkan oleh empirisme Jhon Locke, David Hume, dan Herbert Spenser. Berkely telah meniadakan materi. Pemikran tenggelam dalam puing-puing pemikiran. Jadi meskipun pada masa ini akal dikembalikan oleh Descartes pada tempatnya dan kembali berjaya, namun masih ada sebuah permasalahan yang nampaknya sulit untuk diselesaikan, yaitu paham Rasionalisme dan Idealisme yang bertentangan dengan paham Empirisme. Paham ini di pelopori oleh David Hume (1711-1776).
Akankah manusia koyak tanpa pegangan dan apa yang terjadi pada masa Socrates itu terulang kembali pada masa sesudah abad pertengahan ini. Mengapa bertentangan? Dan siapa yang akan menyelamatkan akal dan iman? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini alangkah baiknya kita mengenal aliran-aliran tersebut secara sederhana terlebih dahulu.
Didalam filsafat Idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat di pahami didalam kebergantungannya dengan jiwa. Istilah ini diambil dari idea yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Keyakinan ini juga ada pada plato. Selanjtnya George Berkeley berpendapat objek fisik adalah idea-idea.

Paham rasionaliseme mengajarkan bahwa akal itu terpenting dalam memperoleh atau menguji pengetahuan. Jelas hal ini merupakan reaksi keras terhadap dominasi iman pada abad pertengahan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa idealisme selalu berhungan dengan rasionalisme. Tidak ada yang pertentangan antara idealisme dan rasinalisme. Jadi pengetahuan deduktif atau apriori dapat di peroleh dengan akal manusia. 
Dalam hal ini ada satu paham yang mirip dengan idealisme yaitu, theisme. Idealisme mempunyai epistemology tersendiri oleh karena itu tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi bergantung pada spirit tidak disebut idealisme karena mereka tidak menggunakan argument epistemology yang digunakan oleh idealisme.Teisme mengajarkan bahwa objek-objek fisik pada akhirnya adalah ciptaan Tuhan. Sedangkan orang-orang idealisme mengajarkan objek-objek fisik tidak dapat di pahami terlepas dari spirit.(Ahmad Tarsir: 2012-144).
Lawan dari rasionalisme dan idealisme adalah empirisme dalam paham fisafat empirisme mengajarkan pengetahuan bukan diperoleh lewat rasio (akal) melainkan melalui pengalaman empiris. Tokoh-tokoh dari paham ini menolak ide-ide pokok rasionalisme dan idealisme. Rumus pokok dari paham empirisme adalah tidak ada sesuatu dalam pikiran kita tanpa didahului oleh pengalam dan pengamatan.

Orang-orang rasionalisme dan idealime telah mencanangkan kuasa akal dan benda-benda fisik tidak lagi real. Dengan kata lain benda-benda fisik itu tidak ada. Orang-orang empirisme meniadakan roh atau spirit, yang ada hanya benda-benda empiris. Sampai disini hasilnya Roh tidak ada dan benda juga tidak ada jadi apa yang ada? Orang mulai kebingungan mana yang harus di pegang. Zaman ini gereja dan ajaran serta dogma-dogmanya mulai tidak di anggap lagi. Orang mulai kehilangan pegangan. 
Di sini terlihat jelas dua kelompok besar. Kelompok empirisme berpendapat jiwa itu tidak ada yang ada nyalah benda. Begitu juga sebaliknya rasionalisme dan idealisme berpendapat benda itu tidak ada yang ada hanyalah jiwa.
Seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. Descartes, Spinoza, dan Leibniz bisanya di kelompokkan menjadi satu aliran yaitu, rasionalisme. Sejak Descartes memenangkan akal dan menyingkirkan iman (hati) banyak filosof besar dan paham yang bermunculan seperti Teisme, Idealisme, Empirisme, dan sebagainya karena kekalahan iman ini ibarat bendungan yang jebol.

Apa yang di batasi oleh kuasa hati (iman) semuanya mulai lahir kembali dari akal tersebut. Hal ini membuat kejadian pada masa Socrates itu terjadi kembali dimana pada saat itu relativisme kaum Sofis meragukan akal dan hati. Persoalan itu Socrates mengatasinya meskipun harus di bayar dengan nyawa.
Sekarang pertanyaannya siapa yang akan menyelamatkan akal dan hati? Orang tidak lagi punya pegangan karena rasionalisme mengembalikan akal namun empirisme membantah rasionalisme dan idealiseme. Disini sangat dibutukan sosok Socrates yang menyelamatkan iman dan akal dari relativisme sofis. Akibatnya pada masa ini juga akal kembali dicurigai dan agama ditinggalkan. Siapa yang akan membuat kedua-duanya dapat di percaya dan di pegang?

Akal dan Hati Dikembalikan Untuk Menjadi Pegangan

Sejak akal dikembalikan oleh Descartes. Akal atau rasionalisme dibantai oleh empirisme maka akal (rasio) dan empiris saling membantai. Orang-orang tidak memiliki pegangan. Sains dicurigai dan agama diragukan. Dalam persoalan ini Emmanuel Kant menjadi penyelamat seperti halnya Socrates di zaman Yunani kuno. Kant yang juga sering disebut sebagai bapak Filsafat kritisisme, paham ini adalah faham yang mengkritik paham Rasionalisme dan paham Empirisme. Seperti yang dijelaskan sebelumnya kedua paham tersebut berlawanan.

Rasionalisme adalah paham yang beranggapan bahwa dasar semua pengetahuan itu ada dalam pikiran (berasal dari rasio/akal). Descartes (1596-1650). Paham Empirisme adalah paham yang beranggapan bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia itu berasal dari indra (pengalaman) kita. Paham ini dipelopori oleh David Hume (1711-1776)

Dalam menghadapi persoalan ini metode apa yang digunakan Kant?

Pada bagian sebelumnya jika kita menengok kebelakang sekurang-kurangnya ada tiga filosof besar yang sangat berperan tenting dalam peradaban sejarah fisafat. Pertama Socrates yang mengembalikan akal dan iman pada kedudukannya dari ancaman relativisme kaum sofis.

Kedua Descartes yang menghentikan dominasi iman dan mengembalikan kedudukan akal namun di tantang oleh paham empirisme.

Ketiga  Emmanuel  Kant yang menghadapi persoalan yang timbul akibat pertentangan antara kedua paham di atas, untuk direbut kembali kedudukan akal dan iman dari kaum sofisme modern. Ia mengembalikan keduanya pada tempatnya masing-masing. Penyelamatan yang dilakukan inilah yang membuat Ia mendapat tempat yang lebih lumayan didalam sejarah filsafat.
Hal ini bisa dilihat dengan pengakuan Hegel untuk menjadi filosof orang mula-mula harus menjadi pengikut Kant.(Ahmad Tafsir, 2012-157)
Selain itu hal yang unik dari filosof Kant ini adalah Pertanyaaanya tentang kawin atau tidak? Mungkin Ia sepaham dengan Talleyrand yang berpendapat orang yang kawin akan melakukan apa saja demi uang. Pilihan ini juga yang membuat wanita yang Ia cintai tidak bisa bersabar menunggu dan kawin dengan orang lain. Akhirnya Ia memutuskan, saya sudah menetapkan jalan yang pasti. Saya ingin belajar tidak satupun yang dapat menghalagi saya dalam mencapai tujuan itu.(Ahmad Tafsir,  2012-159)

Sekarang mari kita bahas secara sederhana metode Kant dalam mengangkat akal dan Iman yang mulai diragukanm manusia saat itu. Dalam buku pertamanya pembahasan tentang akal murni (The Critique of pure reasons). Buku ini menjelaskan sains dapat dipercaya bila ia memenuhi syarat. Buku ini hendak membelah sains! Kesimpulan Kant dalam buku ini, teori sains dapat dipegang bila teori itu mempunyai dasar apriori.(Ahmad tafsir, 2012-159). Lebih lanjut buku ini menjelaskan tentang cara memperoleh pengetahuan apriori oleh manusia.
Pengalaman mengatakan kepada kita, apanya? Bukan apa ia sesunggunhnya? Jadi pengalaman tidak menunjukan kebenaran mutlak objek yang dialami. Memang pengalaman tidak bermaksud memberikan kebenaran umum (kebenaran mutlak). Jadi disini kita ketahui bahwa pengetahuan berdasarkan pengalaman selalu bersifat subjektif, subjektifitas itu muncul dari berbagai sumber dari objek itu dan dari subjek.
Disini Kant mulai memperlihatkan apa yang diperjuangkannya. Kebenaran umum harus bebas dari pengalaman, harus jelas dan pasti dengan sendirinya. (Ahmad Tafsir, 2012-161). Disini Ia ingin menjelaskan bahwa kebenaran yang mutlak atau umum itu tidak terikat oleh apapun dan hal itu telah menjadi kebenaran sebelum hal itu diketahui bahwa hal itu benar dan kebenaran itu tidak akan berubah dan tidak dapat diragukan lagi. Kebenaran itu salah satu contohnya adalah matematika. Kebenaran absolut atau a priori itu misasnya 2+2 =4 dan kebenaran itu tidak dapat dibayangkan suatu ketika dapat salah. Seperti yang dikatakan pada bagian sebelumnya pada penjelasan ini merupakan pejelasan akal murni.

Dari buku pertama tersebut Kant simpulkan bahwa indra hanya mengetahui penampakan. Indra dapat di pegang bila dasar-dasarnya a priori. Jadi dasar a priori itu ada pada sains. Akan tetapi indra (pengamatan sins) terbatas. Akal atau filsafat lebih canggih ketimbang sains karena dapat mencapai konsepsi. Akan tetapi akal juga terbatas (Ahmad Tafsir:2012-166). Dengan demikian jelaslah bahwa Kant ingin menyampaikan bahwa kedua-duanya memiliki kebenaran a priori, namun juga keduanya terbatas.
Misalnya dalam matematika 5+2 =7 adalah tidak empiris sekaligus tidak analitis. Konsep 7 tidak terkandung dalam 5+2, bukan analisis atasnya. Kita sampai pada konsep 7 lewat intuisi. Jadi putusan tersebut bersifat sintesis. Sebagai contoh lain dalam buku Sudarminta misalnya 7+5 adalah 12. Proposisi itu bersifat sintesis karena predikat angka 12 bukan merupakan suatu yang dengan sendirinya sudah terkandung dalam subjek (angka 7+5).
Tidak ada analisis 7+5 dengan sendirinya menghasilkann angka 12. Angka 12 misalnya dapat dihasilkan dari 8+4 atau 6+6, angka 12 baru bisa diperolah berdasarkan pengalaman menghitung. Walau demikian kebenaran tersebut bersifat niscaya (mutlak). Dan kebenaran yang bersifat niscaya tersebut bersifat apriori. Jadi contoh diatas merupakan putusan sintesis apriori yakni putusan yang dihasilkan oleh penyelidikan akal terhadap bentuk-bentuk pengalamannya sendiri dan penggabungan unsur-unsur yang tidak saling bertumpu. Kant yakin bahwa sebagian besar kebenaran matematika bersifat semacam itu.

Kehidupan memerlukan kebenaran. Kebenaran itu tidak dapat terbatas kemampuannya. Ada kebenaran yang diperlukan dan hanya mungkin diperoleh dengan hati atau iman. Tetapi sampai sekarang masih banyak orang yang beranggapan bahwa semua kebenaran dapat diperoleh dengan indra dan akal, dengan metode sains dan filsafat. Namun sebenarnya bila iman memasuki daerah noumea ia akan sesat dalam antinomia. Filsafat pun terbatas. Bila ia memasuki daerah noumea ia akan sesat dalam paralogisme. Daerah noume itu hanya mungkin dimasuki oleh akal praktis.

Selanjutnya Ia mengatatakan dunia luar itu kita ketahui hanya dengan sensasi dan jiwa bukan sekedar tabula rasa (kertas kosong yang siap ditulis). Jiwa itu alat yang positif memilih dan merekontruksi hasil sensasi yang masuk itu dikerjakan oleh jiwa dengan menggunakan kategori. Kant nyimpulkan akal dan iman harus mengendalikan jalan hidup manusia secara seimbang. Dominasi akal dan iman hendaklah sama kuatnya dalam mengendalikan jalan hidup manusia.
Dari pembahasan singkat ini sekurang lebihnya dapat dipahami bahwa Kant menegaskan akal ada daerahnya dan begitu juga hati ada daerahnya. Bila akal memasuki daerah hati (iman) maka ia akan hilang dalam paralogisme (supralogis) begitu juga sebaliknya. Sains dan agama (hati) dapat dipengan karena keduanya sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Keraguan terhadap sains amat berbahaya begitu juga sebaliknya keraguan terhadap agama sama juga bahayanya. Pemikiran terus berjalan.
Sebelum kita melangkah kebagian selanjuitnya. Perlu juga dipahami bahwa sains lahir dari gabungan antara rasionalisme, empiririsne dan positivisme yang selanjutnya Agust Compte mengembangkan metode ilmiah dalam tubuh sains. Kant sangat berpengaru besar karena Ia menggabungkan kedua aliran ini untuk menjadi pegangan hidup bagi manusia.

Ia juga berpendapat hati (iman) dibutukan manusia dalam kehidupan. Akal juga sangat dibutukan manusia dalam kehidupan. Keduanya harus seimbang. Dengan demikian disini di gunakan istilalah ”akal logis” dan “hati (supra logis)” karena saling mendominasi antara kedua paham ini yag memicu terbentuknya aliran lain.


Akal Dan Hati Dewasa Ini

Kita sepakat dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi memberikan kemudahan dalam mengatasi dan mempermudah persoalan-persoalan dalam kehidupan manusia. Semua itu tidak terlepas dari dua bagian kehidupan manusia yang disebutkan diatas. Apalagi pengaruh paham rasionalisme, empirisme, dan positivisme yang dibentuk puluhan tahun silam. Gabungan dari ketiga paham ini yang selanjutnya melahirkan metode ilmial dalam tubuh sains.

Sains dengan metode imiah berkembang ketika lahirnya pelopor positivisme dengan metode ilmiah yang diterapkan Agust Compte (1997-1857) dalam ilmu sosial dan seterusnya berkembang begitu cepat dalam peradaban manusia yang hingga saat ini sains tidak asing lagi ditelinga kita.

Pengaruh dan dampak dari pengetahuan ilmiah ini terkadang membuat manusia harus selalu berpikir ilmiah. Segala sesuatu harus diuji dengan data empiris dan dalam pengujian itu harus selalu melibatkan eksperimen. Pengaruh dari sains ini manusia mulai melupakan ha-hal yang abstrak yang tidak bisa diukur dengan data empris. Semua harus diuji, semua musti harus dibuktikan. Hal ini terjadi tanpa kita sadari dan kita terkondisi oleh sebuah dunia yang memandang rendah hal-hal yang tidak dapat diamati dengan data empiris yang sekaligus logis.

Dari pembahasan panjang diatas rasanya dewasa ini pengaru ilmu pengetahuan (sins) lebih besar dari pada pengaru agama. Ilmu pengetahuan meruba peradaban dunia, mempermudah kebutuhan manusia namun disisi lain masalah kian menumpuk, keegoisan, dan kerakusan untuk saling menguasi dalam diri manusia tidak dapat di bendung lagi. Kebutuhan manusia pun kian meningkat ketidak mampuan menimbun kebutuhan itu membuat kesenjangan dan krisis akan nilai-nilai humanis yang berakar pada agama.

Semua itu membawa kehidupan manusia pada sistem peradaban kehidupan yang lebih mengutamakan kepentingan individu atau kelompok dari pada kepentingan public.Semua sibuk mengejar karier, popularitas, uang dan kemewahan yang ujung-ujungnya juga melahirkan keserakahan dan keserakahan melahirkan kesenjangan.

Semua itu tanpa disadiri atau pun disadari manusia modern terkondisi dalam satu ruangan yang mengharuskan setiap manusia terikat dalam sisitem tersebut. Sistem yang terkadang menguba mind set berpikir manusia untuk selalu meragukan hal-hal yang abstrak terutama Agama. Kita sepakat dewasa ini nilai-nilai agama hanya menjadi symbol belaka. Bahkan menjadi tempat persembunyian manusia dari keserakahan itu sendiri.

Semua itu membuat sains  modern  memandang alam raya sebagai sebuah mesin. Alam raya di padang  tidak lagi memancarkan cahaya Ilahi. Alam raya tidak lagi mengagumkan bagi sains. Alam raya di pandangan sebagai sebuah mesin yang harus dikuasai dan dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan hidup manusia.

Ini menunjukan peradaban manusia telah sampai pada sebuah ketidakseimbangan. Bahkan sains bukan hanya menjauh dan melepaskan dari ilmu non empris, tetapi sains telah menjelma menjadi sebuah agama (saintisme). Dimana pandangan-pendangan dan penemuan sains telah mengubah dunia dan mempengaruhi jalan hidup manusia moderen. Sadar atau tidak sadar manusia modern menjadi bagian dari sains itu sendiri, maka kita berkesimpulan ini merupakan masa kejayaan akal.
 
Sekarang untuk memperkuat argumen di atas mari kita lihat beberapa kritikan terhadap sains modern dari para ilmuan. Mereka yang senantiasa melontarkan kritikan terhap sains modern. Mereka adalah kumpulan para tokoh terkemuka yang sangat kritis terhadap sains modern dan merintis “sains berparadikma baru”. Mereka merintis Sains Kisah Baru (the new story of science ). Salah satu dari sekian tokoh yang selalu mengkritik sain modern adalah Nars Ia setidaknya berangkat dari realitas kehidupa saat ini yang sebagian kecilnya sudah di jelaskan di atas.

Selain Nars, fritjof Capra yang  juga berpendapat bahwa dampak dari krisis persepsi yang berakar pada sains modern dengan paradikma mekanistik yang dikemukan ole Francis bacon (1516-1626) dan Auguste compte(1798-1857) yang mana mereka menerapkan satu dasar metode ilmiah bahwa alam ini bersifat mekanistik dan menobatkan metode ilmiah sebagai sumber kebenaran tunggal yang ekslusif menimbulkan persoalan yang multidimensi.

Hal ini bisa kita lihat dari apa yang terjadi akhir-akhir ini dalam realitas. Masyarakat dunia dilanda krisis multidimensi, krisis ekonomi, moral, serta budaya. Semuanya bermula dari dua krisis besar, krisis kemanusian dan lingkungan. Paradikma tersebut merambah ke seluruh disiplin keilmuan dan sisitem berpikir mayoritas masyarakat dunia. Sehingga upaya penyelesain persolan yang dihadapi selalu gagal atau bahkan kontra produktif dengan melahirkan persoalan baru (Nasr,  2015-17-18).

Melihat persolan–persolan multidimensi yang sangat problematic itu muncul kesadaran untuk merombak paradikma yang mendasar selama ini. Sains modern telah gagal mengatasi persolan itu maka di butukan revolusi paradikma sains modern. Dalam hal ini Nasr Menawarkan sebua paradikma baru. Paradikma yang mencangkup seluruh ajaran prinsip dan fundamental dari semua tradisi dan agama di dunia tentang kosmologi. (Nasr 2015:17-18). Krisis sains modern yang dilihat Nars terletak pada efek sains yang mestinya membawa kesejatraan hidup bagi manusia serta kebijaksanaan. Sementara,krisis tersebut justru menyebabkan alienasi manusia dan kerusakan ekologi.(Nars: 2015-39)

Nars berangkat dari problem yang menimpa lingkungan dan diri manusia modern. Ia berpendapat bagaimanapun juga para ilmuawan harus bertangungjawab secara moral atas usaha untuk menyelamatkan peradaban manusia dengan ilmu yang dimili oleh mereka. Mereka tidak bisa melepaskan diri dari tanggungajwab atas segala efek yang ditimbulkan oleh sains dan teknologi sebab salah satu prinsip pengetahuan ilmiah adalah aksiologi yang menyangkut implementasi sains secara bertanggungjawab.(Nasr, 2015:22).

Manusia (kini) tidak ingat lagi terhadap misteri bagaimana Ia bisa melihat secara batiniah tak terbatas dalam dirinya dan juga mentap dunia luar, tidak ingat lagi ingat bahwa ia memiliki batin, pengetahuan subjektif seperti juga pengetahuan akan tentang objektif secara menyeluruh. Baginya revolusi paradikma modern sangat di butukan untuk mengatasi masalah saat ini secara menyeluruh.

Revolusi sains yang terjadi diawal abad modern telah memberi banyak manfaat dan kemajuan bagi kehidupanmanusia namun dampak dari sains dan teknologi modern juga menciptakan persolan yang sama besarnya. Lebih lanjut Ia berpendapat di tangan tokoh -tokoh terkemuka diawal abad modern seperti Fance Bacon, Galelei, Kapter, Descartes, dan Newton sains bertumpu pada logika, hipotesis dan verifikasi. Dari tangan mereka alam dipandang sebagai mesin yang bekerja sebagai mekanis, bersifat atomistik dan tidak hidup (lifeless). Alam hanya bisa dibaca, dipahami, dan dimanfaatkan dengan perangkat logika serta matematika. Dengan ini pula alam salah dipahami dan tidak dihadirkan secara utuh. (Nars: 2015- 69) Bukan hanya itu di zaman modern sains telah menjelma menjadi Sainstisme yakni sebuah keyakinan baru yang dinilai absolut dan menolak kebenaran lain.

Menurut Capra apa yang di hadapi saat ini sebagai krisis yang tidak perna terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia. Telah banyak tawaran solusi (self criticism) dari para ilmuan. Namun upaya tersebut dinilai belum menyentuh akar persolan, sehingga solusinya bersifat temporal dan parsial. Solusi yang di tawarkan belum integral, terpecah-pecah serta diwarnai oleh kepentingan tertentu, seperti politik dan ekonomi. Selain itu, solusi tersebut juga belum memasuki wilayah dasar-dasar konseptual dan pandangan dunia fundamental. (Nasr,  2015-23).

Saat ini manusia modern telah kehilangan rasa takjub yang merupakan akibat dari hilangnya daya tangkap terhadap yang suci, sebuah taraf tempat Ia hampir tidak menyadari betapa menakjubkan misteri kecerdasan-kecerdasan objektivitas dan mungkin mengerti secara objektif. Manusia tidak ingat lagi terhadap dunia tak terbatas dalam dirinya dan juga menatap dunia luar, tidak ingat lagi bahwa Ia memiliki batin, pengetahuan subjektif seperti juga pengetahuna akan tatanan objektif secara menyeluruh. (Nars, 2015-61). Selanjutnya Nars berkesimpulan bahwa memang terdapat kebenaran hakiki yang hanya bisa dicapai dengan intelektual yang mendapat pancaran atau wahyu (drince revelation).(Nars, 2015-48)
Dari pembahasan di atas mari kita lihat tawaran Nars tentang “Revolusi paradikma baru” kepada sains modern dalam table berikut. Dan membadingkan cara memandang alam raya dari kedua kubu sains tersebut, yakni kubu sains modern dan sains berparadikma baru yang di tawarkan Nars.

                  Alam
           
Sains      
                    Sains modern
Sains Baru
Pengertian
Mesin
Teofani
Perlakuan
Ekspoitasi
Timbal balik
Sikap
Desakralisasi
Resakralisasi
Sifat
Atomistik, mekanistik dan tak hidup
Organik hidup dan berjiwa
Alam
Logika dan matematika
Pengalaman langsung melalui iluminasi
Tujuan
Menguasai dan mengendalikan
Harmoni/keseimbangan transendensi diri
                                                                                          (Nars: 2015-151)

Jadi jelas terlihat jelas bahwa disini Nars tidak menolak sepenuhnya sains modrn namun Ia ingin paradikma sains modern harus kembali ke kosmologi tradisional yang menjadi induk dari semua ilmu alam. Seperti halnya pada abad pertengahan yang memandang alam sebagai pancaran sang Ilahi. Hal ini menuntut sains yang telah melepaskan diri dari agama untuk kembali melibatkan pandangan-pandangan semua agama di dunia dalam memandang alam raya.

Berarti disini jelas Nars melihat bahwa sains modern telah melepaskan dari lebih jauh dari agama dimana akal manusia berkuasa. Sehingga manusia harus kembali memegang kedua-duanya. Akal dan hati yang mana telah dibahas pada bagian selemumnya. Jadi ada benarnya bahwa peradaban manusia saat ini merupakan masa kejayaan sains (akal manusia) hal ini bisa di lihat dari kritikan Nas dan Capra yang telah dibahas diatas. 
Mereka menyarankan untuk merevolusi paradikma sains modern untuk kembali ke kosmologi tradisional seperti pada abad pertengahan sebagaimana alam di pandang sebagai pancaran sang Ilahi.

Kesimpulan

Pembahasan di atas dapat memberi kita pemahaman bahwa saling mendominasi antara hati dan akal telah berlangsung sejak Yunani kuno. Pada masa awal Socrates menjadi tokoh sentral dalam menyelamatkan hati dan akal untuk keduanya harus dipegang untuk menuntun jalan hidup manusia. Selanjutnya pada abad pertengahan di masa, Platotinus, St. Agustinus, dan St. Aquina akal dianggap tidak terlalu penting dan kalah total. Selanjutnya akal di hidupkan kembali oleh Descartes dan hati kalah total. Ketika akal atau rasio di ritik oleh empiirisme, manusia tidak memiliki pegangan lagi. Akal dan hati kembali di ragukan dan kisa masa Socrates terulang kembali.

Emmanuel Kant menjadi sosok socrates yang hidup kembali dan mengembalikan kedunya pada tempatnya. Sejak saat itu pula peradaban manusia mengalami banyak perubahan dan perkembangan dengan lahirnya sains dengan metode ilmiah dan menghasilkan teknologi yang dapat dengan mudah mengubah kehidupan manusia. Namun rasanya ketika Nars, Crapra, dan kawan-kawanya yang mengatasnamakan Sains era baru melontarkan kritik terhadap tubuh sains modern yang selama ini dianggap berpengaruh, memberi banyak kemajuan, serta kemudahan dalam hidup manusia. 
Kita mengetahui bahwa ternyata sains dan teknologi juga memberi dampak negatif yang setara dengan dampak positifnya. Saat ini sains telah menarik diri lebih jauh dari agama dan bahkan dari ilmu non empiris lainya. Sains sendiri mendirikan agama baru “sainstisme” untuk menolak dengan tegas hal-hal yang non empiris.
Kelompok Nars dan kawan-kawanya mencoba mengkritik sains modern untuk merekontruksi paradikma sains modern dan kembali ke kosmologi tradisional yang menjadi induk dari semua ilmu alam. Bagi Nars dan kawan-kawannya sejak kosmologi pecah menjadi kosmologi empiris dan kosmologi non empiris sains telah kehilangan rasa kagum terhadap alam semesta. Alam hanya di pandang sebagai sebuah mesin dan mengakibatkan kerusakan bumi kita ini.

Nars menawarkan sains modern harus berani menengok kembali ke asalnya “kosmologi trasional” agar sains melihat alam raya sebagai pancaran Ilahi sebagaiman pada abad pertengahan. Sehingga alam raya dihargai sebagai pancaran kehadiran sang Ilahi. Dengan begitu alam kita ini akan di hargai dan ada hubungan timbal balik yang positif. Jadi kita bukan hanya memanfaatkan alam raya sebagai pemenuhan kebutuhan dan kemudahan kita tetapi kita juga menjaga, merawat, dan mengaguminya sebagai pancaran kehadiran sang Ilahi.
Dari pembahasan di atas ini. Percaya atau tidak saat ini kita sedang hidup dalam masa kejayaan akal dan kejatuhan Iman.
Dengan demikian akankah ada penyelamat seperti halnya Socrates melawan relativisme kaum Sofisme atau Imanuel Kant yang melawan Sofisme modern. Ataukah pengaruh Nars-Crapra dkk ini mendunia sehingga tubuh sains modern akan direkontruksi dan kembali ke Kosmologi tradisional. Dan  peradaban manusia yang serba modern ini akan kembali pada cara pandang kehidupan abad pertengahan. Kembali dalam arti cara memandang Alam raya ini. Sampai saat ini menjadi pertanyaan yang harus di jawab.

Dan jika tidak ada sosok yang menyelamat iman dari masa kejayaan akal manusia saat ini. Seperti halnya Socrates dan Emmanuel Kant. Atau jika sains modern tetap bertahan pada paradikmanya dan maju tanpa merekontruksi paradikma baru yang ditawarkan Nars dkk maka kita akan sepakat bahwa bumi kita sedang menuju kehancuran. Hal ini bisa di liihat dari pemanasan global yang mengakibatkan kerusakan ekologi dan juga  menipisnya lapisan ozon bumi kita dari pengaruh globalisasi. Penyebab penipisan lapisan ozon adalah meningkatnya aktivitas manusia di bumi. Lapisan ozon ini berfungsi untuk menyerap radiasi ultraviolet dari Matahari yang berbahaya bagi kehidupan di Bumi.
Bukan hanya itu banyak ahli dan pakar sains dan teknogi sendiri berpendapat bahwa umur bumi kita tidak akan bertahan lama. Ini berarti kehidupan di bumi ini sedang menuju kehancuran. Kiamat atau kehancuran bumi  ini seperti yang di ajarkan oleh semua agama di dunia bukan tidak mungkin terjadi. Jika ada awal (alpha) pasti ada akhir (omega). Dan jika demikian mari kita mulai berpikir dan menjawabnya masing-masing.

                                                 
Sumber Referensi:
Tafsir, Ahmad. 2012.Filsafat Umum.Bandung: Remaja Rosdakarya
Maimun. 2015. Pergulatan sains dan spritualitas menuju paradikma kosmologi alternatif.Yogyakarta:IRCiSoD
Palmquis,Stephen.2007.Pohon Filsafat. Yogyakarta:Pustakapelajar

2 Komentar

avatar

Tulisan bagus, isi pun baik, endingnya dapat. Pokoknya Mantap.

Besok bisa jadi Bapak filsuf dari TIMUR (bukan dari Barat lagi).. :) :)

avatar

HAHAHAHAH......Kee Ana MEE trims, kita mencoba dulu to hahahahha

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.

loading...
 

Start typing and press Enter to search