Masyarakat dan Gejolak Konflik Agama Di Indonesia - Dihaimoma Menulis

Masyarakat dan Gejolak Konflik Agama Di Indonesia

- 23:29:00

Menulis untuk memperkenalkan Papua
Kalau kita berbicara tentang agama berarti kita berbicara tentang bagaimana manusia dapat mengenal sang Ilahi. Setiap ajaran dalam agama berbeda-beda, namun semuanya bermuara pada satu titik, yaitu menuju kepada sang Ilahi.



Perbedaan pandangan antara agama tidaklah bermasalah. Setiap individu memiliki hak untuk menentukan agama yang akan menjadi pegangan hidupnya. Saling mengklaim antara agama pun juga tidak bermasalah. Setiap orang mempunyai hak untuk mengklaim agamanyalah yang paling baik dan benar. Tetapi akan bermasalah ketika setiap agama mengutamakan jumlah penganut agama dari pada jumlah orang yang akan di selamatkan dari agama tersebut. Untuk mengantisipasi paradikma itu pengajaran agama harus diubah, sehingga pengajarannya bukan berapa banyak orang yang menganut agama tertentu tetapi berapa orang yang akan diselamatkan dan sudah menjalami agama yang di ajarkannya dengan baik dan benar. Point ini merupakan tujuan utama dari semua agama. Karena semua agama di dunia mengajarkan kita untuk keselamatan di dunia dan akhirat.


Dewasa ini, ketika kita mengunjungi gramedia-gramedia di negeri ini,tidak jarang kita akan menemukan buku-buku yang mengulas tentang, agama, ajaran agama, pandangan pandangan agama, dan jumlah umat penganut agama. Buku-buku itu sekurang-kurangnya mengajar kita tentang dua hal. Pertama memperdalam keyakinan iman dari masing-masing agama dan mengajar bagaimana kita mamahami agama kita yang kita anut dan ajarannya. Dan yang kedua, mengulas tentang peradaban agama dan berapa jumlah pemeluk agama di dunia ini dan agama mana yang jumlah penganutnya terbanyak. Di point kedua ini rasanya setiap agama selain mengajar, juga mencari masa atau jumlah pemeluk agama. Persoalannya, akan menjadi seperti sebuah kubu partai politik yang sedangan mencari masa.


Masalah agama adalah masalah yang sangat kompleks. Persoalan agama bukan hanya akan menjadi persoalan orang yang menganut agama tersebut, tetapi setiap orang yang menganut agama tersebut. Satu hal yang berpotensi menciptakan masalah adalah ketika agama tersebut mengutamakan jumlah penganut dari pada berapa jumlah manusia yang sudah taat kepada agama tesebut.

Mengapa demikian?

Dalam sosialitas kehidupan masyarakat, jika kita kaji masalah –masalah yang ditimbulkan dari point ke dua di atas sangalah banyak. Hal pertama yang mungkin terjadi adalah saling mencurigai antara umat bergama. Kita akan mendengar kata-kata seperti Islamisasi, Kristenisasi, Budhanisasi dan sebaginya. Ini artinya mindset masyarakat sudah terkondisi dalam dunia yang memandang agama lain sedang menjalankan misi Kristenisasi atau Islamisasi dan sebagagainya. Pandangan-pandangan seperti itu ujung- ujungnya akan melahirkan persoalan yang sangat kompleks karena masyarakat Indonesia yang majemuk ini akan terasa sulit untuk hidup berdampingan.


Pandangan tersebut akan mempengaruhi masyarakat yang menjadi mayoritas di suatu daerah. Mayoritas pengatut agama tertentu tidak lagi memandang hak sesama masyarakat minoritas untuk mendirikan rumah ibadah. Meskipun aturan pemerintah secara jelas dan tegas mengatur hak-hak mendirikan rumah ibdah dan hak-hak minoritas dalam beribadah.

Aturan tersebut seperti dikutip (ucanews.com15/10/2015) yang berkaitan dengan pembakaran gereja di aceh. Kebijakan penutupan gereja itu mengacu kepada aturan nasional lewat Peraturan Bersama (Perber) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 dan No. 9/2006 yang menuntut agar gereja harus memiliki izin, setelah mendapat 90 tanda tangan jemaat dan 60 dukungan dari jemaat sekitar. Meskipun pemerintah mengatur demikian rasanya di negeri ini pengaru dari point kedua ini sangat sulit untuk di bendung.

Dari sini mari kita lihat masalah-masalah yang terjadi di Negara ini. Di Aceh baru-baru ini seperti dimuat tempo online. Satu gereja dilaporkan dibakar massa di Desa Suka Makmur, Gunung Meriah, Aceh Singkil, Aceh, Selasa, 13 Oktober 2015. Bentrok terjadi antarwarga dan diduga muncul satu korban tewas. Persolan pembakan gereja tersebut karena gereja tersebut belum memiliki izin dari pemerintah. Jika pembakaran gereja tersebut hanya persolan izin semata mari kita tengok kutipan (itoday edisi 04 januari 2013 klik:baca juga). Bukan hanya di Papua, di Bandung misalnya seperti di kutip (ucanews.com edisi 08/01/2014 klik:baca juga)

Selanjutnya seperti gereja GKI Yasmin di Bogor yang di segel dan umatnya beribadah di luar gereja dan masih banyak lagi persoalan keagaam yang terjadi di Negara kita yang menganut paham demokrasi dan berdasarkan undang-undang Ketuhanan yang maha Esa ini.

"Indonesia bukan negara agama, tapi negara beragama. ada enam agama yang diakui di indonesia, jadi tolong hargai lima agama yang Lain" kata Gusdur. Pernyataan ini, mudah dan simple tetapi rasanya butuh sekian tahun untuk merealisasikannya dalam kehidupan social masyarakat kita. Karena agama manapun yang akan membuat tidakan sara terhadap kelima agama lainya maka jelas, agama tersebut tidak menghargai keberadaan kelima agama yang lainya.

Mengapa terjadi?

Seperti di sunggung pada bagian sebelumnya terjadinya pembakaran gereja atau larangan beribadah yang terjdi di negeri ini karena masyarakat agama mayoritas beranggapan bahwa jika di daerah yang beragama mayoritas agama minoritas mendirikan rumah ibadah atau beribadah maka hal itu di pandang sebagai misi penyebaran agama minoritas oleh masyarakat agama mayoritas di daerah itu. Hal ini terjadi di Indonesia khususnya di beberapa daerah yang jumlah masyarakatnya mayoritas dari agama tertentu.

Pandangan ini membentuk mindsed masyarakat kita dan memandang keselamatan di surga seakan ditentukan oleh mayoritas atau minoritas. Jika di kaji,  dalam urusan perpolitikan dan hubungan emosional mungkin ada benarnya. Banyaknya jumlah membentuk satu ikatan emosional dan kemajuan perpolitikan, tetapi pertanyaanya apakah jumlah penganut yang lebih utama dari pada jumlah orang yang taat dalam setiap agama. Hal ini kita sepakat bahwa menjadi muslim itu mudah tetapi untuk muslim yang taat itu tidak mudah, menjadi katolik itu mudah tetapi untuk menjadi katolik yang taat itu tidak mudah, dan menjadi Kristen itu mudah tetapi untuk menjadi Kristen yang taat itu tidak mudah, begitu juga dengan agama lainya.

Ini artinya bahwa meskipun agama, ajaran agama, dan ketuhanan tidak dapat di pisakan namun pada fungsinya ketiganya dapat di pandang terpisa. Seperti halnya agama dan beragama. Persolan yang terjadi di negeri ini karena pada dasarnya masyarakat kita tidak memilah antara agama, ajaran agam, ketuhanan, dan hubungan agama yang dianutnya dengan agama lain. Selain itu juga, antara agama dan beragama. Jika semuanya itu di pahami masyarakat kita, mereka tidak mungkin seanarkis itu dalam memandang setiap persoalan keagaam yang menimpa agama dan penganutnya di negeri ini.

Bagaimana mengatasinya?

Pertama untuk mengatasi persolan keagaam di Indonesia yang berperan penting adalah para petinggi agama yang tersturtur misalnya jika dalam agama Katolik berarti dari Paus hingga katakes (pemimpin agama di desa). Begitu juga dengan agama Kristen Protestan, Islam, Budha, Hindu, Kong Hu Cu. Karena pada dasarnya hasil dari didikan merekalah yang akan menghasilkan manusia-manusia yang beragama dan taat kepada ajaranya. Apa yang diajarkan di masa lalu hasilnya kita dapat sekarang dan apa yang diajarkan sekarang hasilnya kita akan menuai esok hari.

Terlepas dari ajaran mereka, lingkungan juga turut mengambil bagian, baik lingkungan keluarga, masyarakat, dan indiviudu itu sendiri sebagai objek dari agama. Kerena itu pulah pengajaran agama, lingkungan, dan individu sebagai objek agama semuanya harus di bentuk sesuai dengan paham dasar Negara kita.

Pemahaman tentang agama itu sendiri harus di perluas khususnya tentang toleransi umat beragama. Dalam hal ini hubungan agama yang di anutnya dengan agama lain yang menyangkut bagaimana meyakini bahwa agamanya merupakan agama yang benar tanpa menganggap agama lain itu tidak benar atau pengacau.

Dalam hal ini jika kita kaitkan dengan pendidikan maka sekurang-kurangnya guru menentukan bagaimana pengetahuan dan sikap peserta didik di kemudian hari.

Dan yang kedua bagaimana mengajari masyarakat kita tentang perbenaan antara, Agama, doktrin atau ajaran agama, serta hubungannya dengan Tuhan dan penganut agama lain. Sehingga paradikma agama yang selalu dipandang dari jumlah penganutnya itu diubah kepada bagaimana menjadi penganut agama yang taat.

Dan yang ketiga peran pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah dalam cara mengorganisasikan dan mengatur enam agama yang diakuinya itu agar tidak saling konflik. Dalam artian penyamaan antara penetapan aturan, penerapan dan mengontrol aturan-aturan itu sehingga rancangan aturan-aturan itu dalam realitas tidak kontraproduktif.

Dengan demikin kiranya pertanyaan-pertanyaan diatas ini harus terjawab untuk mengatsi persoalan keagamaan seperti yang terjadi di Indonesia. Apalagi Indonesia yang dikenal menganut enam agama. Dalam satu kabupaten, mungkin saja dihuni oleh penganut keenam agama tersebut. Artinya akan sangat mudah persoalan-persoalan itu timbul kembali,  jika sekurang-kurangnya tiga poin di atas tidak diterapkan di negeri ini.



Penulis: Thecom eman
Advertisement
 

Start typing and press Enter to search