Meski Rasaku Menyakitimu - Dihaimoma Menulis

Meski Rasaku Menyakitimu

- 05:33:00
Menulis untuk Papua

















Banyak yang berganti
Dari waktu hingga kesempatan
Dari sedih hingga senang
Dari siang hingga  malam
Dari hidup hingga mati
Semua itu menyatu hanya dalam satu frasa "tak abadi"
Aku benci dengan ketidakkekalan itu
Aku benci dengan waktu dan kesempatan yang membawamu pergi berlalu.

Aku berci dengan ke kosongan ini
Aku benci karena tak bersamamu lagi
Aku benci dengan semua itu.
Adakah kata layak di bibirmu. Ketika aku mengarungi tiap lorong dalam hidupku
bersama kekosongan ini. Menanti dan menunggu sembari menatap goresan yang hendak beranjak sirna bersama sang waktu.
Senyum sipu di wajah anggunmu yang dahulu terlihat indah, kini terkadang membayangi tiap helaan nafasku. Menyiksa hingga menghantui hidupku. Semua itu merangkul jiwaku terjebak di antara rinduh dan teror.

Semuanya luluh hingga menjadi bubuk yang tak tertatap oleh indra. Aku mencobah berlari hingga bersembunyi di reruntuhan kemunafikan yang enggang untuk engkau jamah.
Apakha aku berdosa dengan rasa ini?

Aku benci dengan rasa ini.Ajari aku yang semestinya. Bukan kepastian..
Aku benci dengan perpisahan, tetapi tidak untuk pemilik perpisahan
Aku benci dengan tak abadi, tetapi tidak untuk pemilik kesebentaraan
Aku benci dengan ke tidak kekalan, tetapi bukan dengan pemilik ke tidak kekalan
Apakah engkau masih akan tetap membenci kita?
Aku, Rasaku, dan pemilik Aku dan Rasaku

Kita adalah satu. Bukan dua atau tiga. Tetapi kita adalah tiga bukan satu atau dua
Aku berharap engkau melihatku bukan dari satu, tetapi tiga yang satu. Karena yang aku tahu ketika kita membenci seseorang maka kita harus tahu yang kita benci bukan orangnya, tetapi sifat yang menyatu bersamanya, karean jika kita membenci orangnya. Kita bisa menyakitinya bahkan menghilangkan nyawanya.
Jujur. Kami merindukan kembali hadirnya dirimu. Meski rasaku telah membuatmu tersakiti, namun Aku dan pemilik Aku dan Rasaku tetap mencintaimu Sayang.

                                                                               

                                                                                                                  Bogor 30 September 2014
loading...
 

Start typing and press Enter to search