Gegerai Negeri Cengeng - Dihaimoma Menulis

Gegerai Negeri Cengeng

- 23:33:00
“Tak ada kata dan air mata yang layak untuk menggambarkan aroma perpisahan, yang kian hari-kian terasa. Hanya rasa yang tak engak lihat pulah yang mampu merasakan sejauh mana dan sebesar apa rasa ini. Terutama karena akan terasa sulit memahami negeri yang tak berucap,tetapi hanya tangisan tak berujung.Negeri cengeng”

Aku kadang tidak turut aktif dalam organisasi. Prioritaskan adik-adik yang baru datang. Dan usahakan mereka di dampingi beberapa senior. Kata itu yang terucap di malam itu. Dari bibir lelaki bertubuh sedang yang sesekali mengayungkan tangan seraya menjelaskan. Berucap dengan tubuh yang tersandar pasrah di dinding Emaowa. Suara yang mencoba menahan berjuta kata yang sebenarnya mungkin ingin terucapkan itu. Berlalu bersama hura yang mendahaga.

Bernar. Tahun ini mungkin akan menjadi akhir, tetapi akhir yang bukan berarti berakhir. Bukan hanya dia. Tahun ini beberapa senior dari Kota studi Bogor akan menyelesaikan studinya dan Pulang ke Negeri Cendrawasih. Mungkin kata-kata itu terucap karena Ia paham akan perpisahan itu.

Ketika mendengar kata-kata itu.Aku terdiam sejenak. Aku tahu mungkin engkau juga paham. Mengapa aku harus terdiam?”. Kadang ada bahasa yang tak bisa diucapkan lewat kata. Ada pula bahasa yang hanya bisa di ucapkan lewat air mata. Aku hanya memilih bahasa yang bisa di ucapkan lewat rasa. Tak ada yang tahu. Hanya aku dan pemilik rasa.

Bahagia, sedih, dan haru berbaur dengan rasa yang beraromakan perpisahan. Aku berusaha mememdam semuanya. Agar rasa itu tak berpinda ke ucapan, atau pun juga air mata.

Aku bahagia. Yah…bahagia, karena tahun ini akan ada generasi yang mengusap air mata Negeri Cendrawasih. Berpuluh Tahun Ia menangis. Mengapa Ia menangis? Apa yang Ia inginkan? Siapa yang menyakitinya?. Entalah. Aku pun tak tahu. Dilain sisi aku bahagia juga, karena lewat bahasa rasa ini. Aku bisa berpesan kepada Negeri cengeng itu. Dalam tahun ini, para penghapus air matamu akan datang memanjakanmu. Betapa bangganya aku melihat negeri cenggen itu tersenyum kembali sambil menyudahi air mata yang enggang untuk berhenti. Negeriku. Tunggu mereka pulang. Itu yang terucap dalam bahasa rasaku di malam itu.

Aku sedih dan terharu, karena aroma perpisahan yang mulai kurasakan. Mungkin engkau menganggap aku terlalu cengeng. Sama halnya dengan Negeri cendrawasih yang tak pernah berhenti meneteskan air mata. Mungkin juga aku terlihat bego, karena tangisi hal yang tidak sepenuhnya menghilang. Dalam hal, hanya perpisahan sementara.

Memang menyakitkan. Ketika engkau berpisha untuk selamanya, dengan mereka yang engkau sayangi, tetapi bagiku perpisahan sementara lebih menyakitkan dari pada perpisahan selamanya. Perpisahan selamanya itu sudah kodratnya. Semua manusia akan bersama. Dan harus berpisah untuk kembali kepada-Nya. Dan tak satupun di dunia ini yang bisa membatasi itu ketika seseorang menerima gelar Al (Almarhum/Almarhumah).

Sedangkan perpisahan sementara lebih menyakitkan  karena engkau tidak bisa berkumpul dengan mereka yang engkau sayangi bukan karena ikatan kodrat, tetapi hanya karena, jarak, waktu, dan kesempatan tidak memihak.

Begitulah kira-kara yang bisa ku jelaskan tentang rasaku saat itu. Sebenarnya berjuta rasa yang terlintas dibenakku. Ini hanya sebagian kecil yang bisa ku gambarkan lewat kata-kata. Biar tak terlihat bertele-tele. Aku juga berharap untuk bisa menceritakan semua ini kepada mereka secara langsung. Terlebih kepada lelaki itu,  namun tak sempat.

Mungkin susunan aksara yang terangakai menjadi kata dan kata menjadi kalimat ini,bisa menjelaskan semuanya. Meski tidak empat mata. Dan ketika semua ini tersaji. Aku harap  mereka dapat memahami senyum tak berkasat di majah Negeri itu. Terlebih. Ketika nanti Mereka memanjakannya. Karena aku tahu. Negeri itu  bosan dengan janji. Begitu  juga dengan kata-kata. Dia hanya membutuhkan tindakan untuk memanjakannya.

WARNING

1. Komentar Anda merupakan sebuah kontribusi untuk memperbaiki dan mengembangkan blog ini menjadi lebih berguna dan Informatif

2. Komentar dan kritikan Anda untuk isi blog ini kami sangat menghargai.

3. Komentar harus menggunakan bahasa yang baik, benar, dan mendidik.

loading...
 

Start typing and press Enter to search